Sewa Pakaian, Tren Gen Z Dalam Upaya Menciptakan Fashion Berkelanjutan
Industri pakaian | Unsplash/Hannah Morgan

Beberapa tahun terakhir, topik fast fashion menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, terutama kalangan pecinta lingkungan. Apa itu fast fashion, fashion berkelanjutan, dan kaitannya dengan sewa pakaian?

Fast fashion adalah suatu istilah yang dipakai dalam industri tekstil. Artinya yaitu berbagai model fesyen yang dibuat silih berganti dalam waktu sangat singkat, dan menggunakan bahan baku berkualitas buruk, sehingga tidak tahan lama. Fast fashion adalah salah satu penyebab terbesar polusi limbah pakaian yang bisa merusak lingkungan, seperti polusi air, tanah, dan penghasil gas emisi rumah kaca yang dapat berdampak pada perubahan iklim. 

Tren model fast fashion yang sangat cepat berganti, membuat banyak orang cenderung ketagihan untuk terus membeli baju dengan model terbaru. Awalnya, kegemaran berbelanja baju baru memang tidak terlihat berbahaya. Sampai kemudian, muncul isu-isu terkait lingkungan, kesehatan, dan tenaga kerja. 

Melansir dari DownToEarth, kelompok Gen Z yang lahir di antara tahun 1997 sampai 2002, sangat peduli terhadap isu bahaya limbah, kerusakan lingkungan, dan konsumsi berlebihan dalam industri fesyen. Sehingga, banyak dari Generasi Z yang rela untuk mengurangi kegemaran berbelanja, dan menggantinya dengan alternatif menyewa pakaian. 

Studi dari jurnal Sustainability menyebutkan, konsumen Gen Z secara tidak langsung menjadi “pemimpin” dalam isu fesyen berkelanjutan di Amerika. Hal ini juga tampaknya mendorong permintaan serta loyalitas pelanggan di sana. 

Mengapa Industri Fast Fashion Berbahaya?

Limbah pakaian dari pabrik | Unsplash/Francois Le Nguyen

 

Di Amerika, beberapa konsumen dari berbagai kalangan terbukti lebih banyak membeli pakaian untuk kebutuhan estetika (keindahan) daripada fungsional. Bahkan menurut Ting Chi, penulis jurnal Sustainability, rata-rata orang Amerika membeli setidaknya 67 potong pakaian per-tahun. 

Padahal, pakaian yang termasuk dalam industri fast fashion ini merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi pemanasan global, polusi, dan limbah tekstil. Bahkan, industri fast fashion menjadi penyebab dibalik 10 persen emisi karbon global tahunan, lebih besar dari total semua penerbangan internasional dan pelayaran laut. Wah, besar juga ya angkanya?

Sebuah studi pada Agustus 2020, menekankan perlunya merk pakaian untuk mengurangi carbon footprints mereka, dan meminimalisir ketergantungan pada bahan bakar fosil dalam rantai jaringan produksi. Lebih dari itu, banyak industri pakaian yang telah diminta untuk mengurangi penggunaan batu bara, serta diharapkan beralih ke rantai pasokan tenaga terbarukan (renewable-powered supply chain) di tahun 2030. 

Fast fashion juga menyebabkan banyak sekali koleksi pakaian yang terbuang. Contoh nyata, menurut jurnal Sustainability, volume pakaian yang dibuang oleh orang Amerika setiap tahunnya meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Pada 2018, sekitar 17 juta ton limbah tekstil berakhir di tempat pembuangan sampah di Amerika. 

Mengapa begitu? Hal ini disebabkan karena seperti inilah sistem industri tekstil beroperasi. Sejumlah besar sumber daya tidak terbarukan (non-renewable resources) diekstraksi untuk memproduksi pakaian yang biasanya digunakan hanya dalam waktu singkat. Lalu, setelah itu, sebagian besar bahan akan dibuang, serta dikirim ke tempat pembuangan akhir atau dibakar. 

Industri fast fashion juga merupakan industri yang menyumbang sekitar 20 persen untuk air limbah global. Padahal, serat sintetis seperti poliester dan nilon membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Menurut studi dari International Union for Conservation of Nature pada 2017, 35 persen dari mikroplastik yang ada di lautan berasal dari pencucian tekstil sintetis seperti poliester. Nah, kebayang bukan betapa mengerikannya proses industri ini?

Tren Sewa Pakaian yang Diminati Gen Z

Aneka jenis baju mulai banyak disewakan | Unsplash/Gez Xavier Mansfield

 

Dalam rangka mengatasi berbagai persoalan industri fast fashion tadi, penelitian di Amerika Serikat menjelaskan tren sewa pakaian yang semakin meningkat di kalangan Generasi Z. Dalam studi dari para peneliti Washington State University, mereka mengumpulkan respons dari 362 kandidat yang lahir di antara tahun 1997 sampai 2002 di seluruh Amerika melalui kuesioner. 

Hasilnya, ditemukan bahwa perilaku para anak muda ini untuk menyewa pakaian ternyata dipengaruhi oleh persepsi efektivitas konsumen dan perilaku yang terkait dengan lingkungan di masa lalu. Mereka berupaya untuk fokus terhadap pengurangan limbah dan kebiasaan konsumsi berlebihan. Meski ingin menjadi modis, tapi mereka mencoba untuk tidak selalu membeli pakaian. 

Menurut Chi, salah satu dari peneliti, orang-orang di Amerika telah membuang terlalu banyak limbah tekstil. Pasalnya, rata-rata dari mereka membeli 17 potong pakaian setiap tahun karena mengikuti mode, padahal sebenarnya tidak benar-benar butuh sebanyak itu. Memang produk dari fast fashion tidaklah mahal, tetapi mampu menyebabkan kerusakan lingkungan yang nyata. 

Ia menyebutkan bahwa Gen Z di Amerika tertarik untuk menyewa pakaian karena disebabkan pemikiran atau persepsi bahwa langkah yang mereka lakukan dapat membuat aksi nyata. Artinya, mereka terdorong mengikuti tren karena jika konsumen merasa upaya mereka mampu membuat perubahan, maka mereka lebih bersedia untuk melakukannya. 

Para Gen Z dalam riset ini juga menunjukkan ketertarikan untuk sewa pakaian karena faktor merasa unik. Artinya unik dalam hal perilaku pembelian, pemanfaatan, dan disposisi barang konsumen di dunia mode. Jadi, meskipun tren ini belum terlalu lama, para Gen Z berani untuk menampilkan diri mereka sebagai “pemimpin” yang mengambil langkah berbeda. Hal ini mendorong cukup banyak konsumen di usia yang sama untuk mengikuti langkah teman-teman mereka. 

Lalu, Bagaimana Tren Sewa Pakaian di Indonesia?

Tren sewa baju di Indonesia  | Unsplash/Aviv Rachmadian

 

Tak hanya di Amerika saja, bisnis sewa pakaian sudah mulai ramai di Indonesia. Terbukti, ada beberapa jasa sewa pakaian yang menyediakan gaun pesta, baju hangout dengan teman-teman, hingga setelan kantor. 

Seperti salah satu jasa sewa pakaian yang pertama masuk di Jakarta pada 2017, Style Theory. Awalnya berdiri di Singapura, Style Theory menyediakan berbagai jenis pakaian mulai dari untuk menghadiri acara hingga untuk bekerja. Ada juga jasa Rentlux Studio, The Dresscodes, Belsbee, dan lain-lain. 

Terlepas dari seberapa untung bisnis sewa pakaian ini, pelan-pelan, semoga konsumen penikmat fesyen di Indonesia menyadari bahwa tren ini dapat membantu meminimalisir dampak buruk produksi busana. Dengan penyewaan, setidaknya dapat memperpanjang usia sebuah pakaian. Sehingga, dalam jumlah banyak dan jangka panjang bisa mengurangi sampah pakaian yang menumpuk. 

Referensi:

Why a tux, rent a wardrobe: The Gen Z play at making fashion sustainable (downtoearth.org.in)

Sustainability | Free Full-Text | Why Is Collaborative Apparel Consumption Gaining Popularity? An Empirical Study of US Gen Z Consumers | HTML (mdpi.com)

Murah, Mewah, dan Gaya Berkat Busana Sewaan (tirto.id)

Catat! Inilah Aplikasi dan Website untuk Sewa Baju Online (harpersbazaar.co.id)

Mengenal Fast Fashion dan Dampak yang Ditimbulkan - Zerowaste.id