Siap Siaga Cuaca Ekstrem di Akhir Tahun Ini
Ilustrasi Musim Penghujan © Unsplash/Julia Sudnitskaya

Penulis: Fishya Elvin

Memasuki musim penghujan yang sudah dimulai dari bulan September, tentunya membuat masyarakat Indonesia dan juga pemerintah siap siaga mempersiapkan segala mitigasi dan upaya pencegahan bencana alam untuk akhir tahun ini. Dengan fenomena perubahan iklim, tentunya cuaca pada musim ini diprediksi akan semakin ekstrim.

Fenomena-fenomena alam yang sudah kita rasakan pada musim penghujan ini disebabkan oleh perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sampai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengingatkan melalui kanal resmi mereka bahwa Indonesia kita telah memasuki musim pancaroba yang memiliki banyak potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Banjir dan tanah longsor merupakan dua bencana alam yang dapat disebabkan oleh hujan yang lebat dan panjang. Seperti di Jember pada Rabu (19/11/2021) lalu dilansir Republika, hujan deras yang mengguyur Jember mengakibatkan terjadinya banjir dan tanah longsor di delapan desa Kabupaten Jember. Puluhan TNI dan masyarakat setempat harus saling membantu membersihkan daerah tempat tinggal mereka yang rusak karena banjir dan tanah longsor. Target pemerintah adalah memaksimalkan kerja keras terkait tindakan preventif sebelum bencana datang, dibandingkan kerja keras terkait tindakan menyelesaikan dampak bencana alam yang telah terjadi.

Lantas, apa saja yang sudah dilakukan dalam menghadapi musim penghujan ini?

  • Memungut sampah untuk menangkal banjir

Salah satu penyebab banjir adalah penimbunan sampah di aliran air yang membuat aliran menjadi tersumbat dan menjadikannya meluap. Selain itu, timbunan sampah di aliran air juga menambahkan volume air sehingga menyebabkannya lebih mudah untuk membanjiri lingkungan di sekitarnya. Sungai maupun danau yang berada di daerah pemukiman masyarakat juga bisa mendapatkan arus sampah yang berasal dari lautan. Untuk itu, sebagai bentuk upaya masyarakat untuk mengurangi penyebab banjir, dilakukan pemungutan sampah di laut.

Hal ini dilakukan di daerah Surabaya, tepatnya di pantai dekat Jembatan Suramadu. Untuk mengurangi penyebab banjir, sejumlah TNI Angkatan Laut, petugas Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH), dan Satpol PP memunguti sampah saat digelarnya Program Laut Bersih (Prolasih) Koarmada II Surabaya, pada hari Jumat (12/11/2021).

  • Penjagaan aliran listrik

Selain pemungutan dan pengelolaan sampah yang juga dapat diimplementasikan di lingkungan sekitar kita, ternyata terdapat upaya lain yang dilakukan pemerintah daerah untuk mengantisipasi datangnya hujan yang lebat penyebab banjir. PLN di Jawa Timur menyiagakan ribuan personelnya dalam rangka periode siaga selama masa badai siklon tropis yang juga merupakan pemicu terjadinya cuaca ekstrim.

Hal ini menjadi tanggung jawab PLN, karena dampaknya yang berhubungan dengan gangguan aliran listrik yang sering terjadi apabila cuaca hujan yang lebat dan panjang. Oleh karena itu, PLN melakukan pemangkasan ranting-ranting pohon yang berpotensi mengganggu aliran listrik tersebut. Namun, ternyata tidak hanya ranting-ranting yang dipangkas oleh PLN. Melansir Republika, pihak PLN nyatanya juga memotong pohon-pohon tua yang sudah berpotensi roboh di kondisi cuaca yang ekstrem. Hal ini dilakukan untuk menghindari robohnya pohon ke panel gardu listrik ketika diguyur hujan dan diterpa angin yang ekstrim.

Selain pengkondisian pepohonan, pihak PLN juga melakukan peninggian panel gardu listrik guna mengantisipasi banjir yang dibarengi dengan koordinasi dan kerja sama dengan BPBD di setiap daerah.

Diperkirakan, curah hujan masih tetap tinggi sampai Februari 2022 nanti. Diharapkan, masyarakat dapat lebih sadar dan siap untuk melakukan mitigasi guna menghadapi cuaca ekstrim selama beberapa bulan ke depan.

 

Referensi: BMKG | Republika | Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA