Skizofrenia Paranoid dalam Film Kotoko
Foto: https://www.spectrumnews.org/features/deep-dive/social-ties-autism-schizophrenia/

#FutureSkillsGNFI

Ini pertama kalinya aku dapat kesempatan untuk mengisi artikel di GoodSide, dan tema yang aku bahas berkaitan dengan Film dan Kesehatan Mental. Film yang dijadikan materi adalah Kotoko. Kotoko merupakan film jepang yang dibintangi oleh Cocco. Film dimulai dari pengenalan tokoh dan kisah yang teratur.

Dijelaskan Kotoko adalah seorang Ibu tunggal yang baru melahirkan anak laki-laki bernama Yuko, difilm tidak dijelaskan masa lalu Kotoko seperti apa dan kenapa bisa menjadi Ibu tunggal. Namun seiring berjalannya film bisa dilihat bahwa Kotoko mengalami gangguan kejiwaan yang diawali dengan stress dan rasa takut akan kehilangan anaknya. Selama rasa stress dan takut meyerang dirinya, hal tersebut tidak ditangani dengan baik, Kotoko hanya mengkonsumsi obat penenang tanpa ada tindakan medis.

Stress dan rasa takut yang terus dialami menjadikannya sering berhalusinasi. Selain mengalami halusinasi ia sering mengalami kebisingan terhadap tangisan anaknya, sehingga memicu timbulnya halusinasi yang semakin parah dan dapat membahayakan anaknya. Keadaan tersebut menjadikan hak asuh anaknya pindah ke saudara perempuannya, dengan tujuan agar anaknya terhindar dari bahaya yang disebabkan oleh dirinya.

Namun hal itu menjadikannya semakin terpuruk, hingga menimbulkan trauma terhadap laki-laki yang tertarik dengan dirinya. Hal inipun memicu munculnya gangguan kejiawaan lain yaitu menyakiti diri sendiri yang dapat melegakan dirinya. Semakin memuncaknya permasalahan yang dialami Kotoko, semakin jelas bahwa ia menderita Skizofrenia Paranoid.

Pengertian, Ciri-ciri Skizofernia Paranoid dan Implikasinya dalam Film Kotoko

Skizofrenia Paranoid merupakan sub Skizofrenia. Penderita Skizofrenia Paranoid biasanya mengalami delusi yang menggambarkan bahwa ada orang lain yang akan menyakiti dirinya atau anggota keluarganya, dalam film dijelaskan Kotoko sering mengalami penglihatan yang membuat dirinya merasa takut, yang sebenarnya hal itu adalah delusi yang ia alami. Selain delusi, pengidap Skizofrenia Paranoid pun sering mengalami halusinasi suara, ini persis yang dialami Kotoko ketika dia menghadapi  tangisan anaknya yang sebenarnya tidak ada tangisan atau kebisingan apapun.

Blueler seoarang psikiater Swiss, menyebutkan skizofrenia memiliki 4 ciri gejala: (1) Asosiasi, berkaitan dengan hubungan antara pikiran-pikiran yang terganggu atau disebut gangguan pikiran (2) Afek, yaitu respon emosional menjadi datar dan tidak semestinya; (3) Ambivalensi, perasaan terhadap orang lain, seperti benci sekaligus cinta terhadap pasangan; (4) Autisme, penarikan diri dari dunia nyata ke dunia fantasi yang tidak terikat oleh prinsip-prinsip logika.

Skizofrenia Paranoid ( img : Flipboard )
Foto: idnmedis.com

Dalam film tidak ada adegan yang menjelaskan Kotoko berhubungan baik dengan orang luar selain keluarganya, dan banyak adegan yang mengelaborasikan Kotoko berhalusinasi dan berdelusi, bahkan ketika dirinya sedang baik-baik saja. Untuk ambivalensi, dalam film tidak dijelaskan bahwa Kotoko pernah mencintai seseorang, namun dalam ceritanya dia mampu mencintai sekaligus menyakiti seseorang, yaitu Yuko, anak laki-lakinya.

Penyebab Skizofrenia Paranoid Secara Teori dan Dalam Film Kotoko

Terdapat dua faktor penyebab Skizofrenia Paranoid, baik sebelum didiagnosa maupun sesudah

  1. Inertenal: untuk yang belum didiagnosa, hal ini berkaitan dengan inner child dan pola asuh orang tua, ini merupakan hal penting bagi manusia untuk melakukan perannya sebagai individu. Mereka yang mengalami trauma atau pola asuh yang tidak tepat, akan cukup berpengaruh dalam melakukan perannya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Berbeda dengan yang sudah didiagnosa, umumnya dikarenakan ketidakpatuhan mengkonsumsi obat. Yang terjadi pada Kotoko selain tidak dijelaskan masa lalunya seperti apa dan juga apakah ia berkonsultasi kepada dokter atau hanya membeli obat penenang, namun bisa disimpulkan yang menyebabkan skizofrenia paranoid-nya semakin parah adalah tidak ada penangan medis yang tepat.
  2. Eksternal: seringnya kita melupakan bahwa dalam suatu hal merupakan hasil dari bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan atau sebaliknya. Mereka yang sulit dalam bersosialisasi tentunya memerlukan sedikit usaha untuk berinteraksi dengan orang lain, dan ini tidak dapat dipisahkan dengan keputusan-keputasan yang akan diambil dalam menjalankan kehidupan. Tidak menutup kemungkinan bahwa keputusan yang diambil bukan keputusan yang tepat untuk sebagian individu, sehingga berpotensi membawa kepada hal-hal yang tidak semestinya. Terlihat jelas apa yang dialami Kotoko, selama film berlangsung tidak ada teman yang memberikannya dukungan, sekalipun adanya keluarga, terlihat adanya batasan yang dibangun oleh Kotoko dengan pihak lain selain dirinya.

Kesimpulan dan Pencegahan

Baik secara teori maupun implikasinya dalam film, Skizofrenia Paranoid bukan hal sepele yang bisa ditanggapi hanya dengan memberikan edukasi, tapi diperlukan praktik dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dimulai dari diri sendiri, mencoba memahami dan mengakui apa yang dirasakan. Kalau kamu sedang menghadapi masalah, kesulitan, atau kesedihan, kamu bisa mulai untuk meluapkan perasaan itu pada sesuatu, bisa dengan bercerita pada orang yang dipercaya.

Dan bagi kamu yang sulit bercerita mengenai masalah yang dialami, mungkin bisa memulai dengan menuliskan apa yang dirasakan, yang dibutuhkan, sampai yang ditakutkan. Memang tidak berdampak langsung tapi setidaknya itu bisa membuat kamu merasa lebih baik.

Tidak kalah penting untuk kamu yang sedang diposisi menemani seseorang dalam kondisi ini, ingatlah bahwa mereka juga manusia sama seperti kamu, coba medengarkan dan melihat dari perspektifnya, tidak perlu memberikan nasihat atau penilaian, cukup menjadi pendengar dan penyemangat. Karna terkadang untuk mereka yang sedang mengalami kesulitan bukan berarti mereka tidak bisa mengatasinya, hanya saja mereka tidak yakin akan kemampuan diri mereka untuk menghadapi semua masalahnya.

 

Referensi: Halodoc | Psikoislamedia Jurnal Psikologi Volume 4 Nomor 2, 2019

A multipotentialite