Udi Samanhudi: Lika Liku Dibalik Suksesnya Studi PhD di United Kingdom
Udi Samanhudi | Dokumentasi Pribadi

#FutureSkillsGNFI

Goodmates, banyak yang mengatakan bahwa kuliah di luar negeri sangat menyenangkan loh, tetapi faktanya tidak demikian. Banyak sekali problematika yang menyerap tenaga, pikiran, bahkan mental. Namun, hal tersebut menjadi batu loncatan bagi mahasiswa untuk terus melangkah.

Kali ini, Goodside akan berbincang dengan Dosen sekaligus Kepala International Office Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, yang pernah menempuh Pendidikan S3 di Queens’ University Belfast, yaitu Udi Samanhudi.

Cobaan Sebelum Kuliah S3

Sebelum menempuh Pendidikan S3, Mr. Udi mendapatkan gelar sarjana di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Beliau memiliki impian untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri sejak masa sarjana. Sebab, kebanyakan dosen yang mengajar di UNY adalah lulusan dari luar negeri.

Oleh karena itu, Mr. Udi terdorong untuk melanjutkan studi di luar negeri dan melanjutkan S2 di Australia. Tetapi karena terdapat kendala pada beasiswanya, akhirnya ia melanjutkan studi di Indonesia, tepatnya di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kendati demikian, Mr. Udi pantang menyerah. Ia terus berusaha untuk berkuliah di luar negeri hingga pada tahun 2015, Mr. Udi mendapat beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi S3 di Queen’s University Belfast, Northern Ireland, United Kingdom.

“Karena hidup itu hanya satu kali, hidup itu harus happy. Happynya itu ketika kita punya dream, kita pursue the dream,” tuturnya.

Saat dinyatakan lolos beasiswa S3, entah mengapa seketika prosesnya menjadi mudah. Hingga akhirnya, ia berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Tetapi, alam berkehendak lain. Ia dihantam dengan berbagai cobaan.

Problematika Selama S3

  1. Gejolak Batin Sebelum Keberangkatan

Mr. Udi mengungkapkan bahwa tepat sebelum keberangkatan, sang istri melahirkan buah hati mereka. Senang bercampur dengan kebingungan yang mengakibatkan pergolakan batin, di satu sisi, sebagai seorang ayah, Ia tidak mau meninggalkan anak isterinya, tetapi disisi lain harus melanjutkan studinya.

Tidak hanya itu, sebagai seorang anak, Ia sangat menghawatirkan keadaan orang tuanya yang sudah berumur. Tetapi, karena dorongan dan dukungan dari sang istri dan orang tua, Mr. Udi akhirnya berangkat untuk mengejar mimpinya. Selain dukungan, ia juga berbekal keyakinan bahwa di balik kesulitan pasti terdapat kemudahan.

Mr. Udi memiliki prinsip yaitu, “Kita design yang kita mau, dan Allah itu pasti. Saya jamin 99% itu ada dengan apa yang kita design untuk diri kita, tinggal kita berdoa dikuatin."

Ia melanjutkan bahwa, “Betul, ada takdir. Tapi, kita menciptakan takdir itu dengan usaha kita yang maksimal."

  1. Cuaca yang Kurang Bersahabat

Sebagai seseorang yang tinggal di negara beriklim tropis, cuaca ternyata menjadi salah satu tantangan besar. Karena perbedaan cuaca membuat hati dan fikiran melanglang buana. Setiap hari langit berwarna abu-abu yang mengakibatkan tidak bergairah untuk beraktifitas, merasa kesepian, dan sebagainya. Sepertin halnya musim dingin, musim yang membuat Ia enggan beranjak dari tempat tidur. Tetapi saat musim panas tiba, itu sangat mengganggu psikologis, karena matahari terus memancarkan sinarnya yang membuat Ia kesulitan tidur di malam hari.

  1. Tembok yang Tak Terlihat

“Mereka tidak bilang bahwa mereka menciptakan tembok untuk berinteraksi dengan kita, tapi tembok itu terasa," ujarnya.

Berteman dengan orang kulit putih menciptakan tantangan tersendiri. Sulit sekali untuk bergaul dengan mereka, hal tersebut terjadi mungkin karena adanya berbagai macam perbedaan seperti budaya, agama, asal negara, dan sebagainya. Memiliki jarak dengan teman menciptakan perasaan risau dan cukup memengaruhi psikologis yang mengakibatkan ia berfikir bahwa tidak ada tempat yang nyaman selain di rumah.

  1. Tuntutan Akademik

Sebagai mahasiswa Indonesia yang menempuh gelar doktor di UK, Mr. Udi merasa terkejut dengan sistem akademik di sana. Sebab, jika tugas tidak memenuhi standar yang berlaku, maka tugas tersebut tidak bisa diterima. Bahkan, harus mengulang.

Sangat berbeda dengan di Indonesia. Di sini, jika mahasiswa mengumpulkan tugas, nilai sudah pasti aman. Hal tersebut mengakibatkan ia merasa terkejut. Lagi, tantangan ini tidak menjadikannya patah semangat, tetapi menjadikannya pelecut semangat yang membuat ia terus belajar agar tulisannya memenuhi kriteria yang diinginkan dosen.

Ia selalu mengingatkan dirinya untuk terus bersyukur, karena tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan emas ini. “Saya harus bersyukur, caranya dengan I have to do my best," ujar Mr. Udi.

Caption
  1. Tahun Kedua, Tahun yang Melelahkan

Saat menginjak tahun kedua, Mr. Udi merasakan getting lost karena dosen pembimbing yang sulit dihubungi, seperti kebingungan mencari arah. Ia mengungkapkan bahwa tidak ada pembelajaran di ruang kelas di S3, hanya melakukan research. Hal tersebut membuatnya sangat frustasi ditambah tulisannya terus ditolak oleh dosen pembimbing.

Untuk mengatasi hal tersebut, Mr. Udi memutuskan untuk melakukan healing selama 1 hingga 2 minggu atau mengikuti berbagai macam training yang diadakan oleh kampus. Setelah pikiran kembali segar, Ia kembali menulis karena ia sadar akan kewajibannya sebagai mahasiswa penerima beasiswa LPDP. Ia harus lulus dalam kurun waktu 4 tahun, lalu mengabdi kepada negara.

Komitmen, tujuan yang besar, dan berkontribusi untuk negara, tiga hal tersebut adalah pesan dari Mr. Udi Samanhudi. Sebagai mahasiswa yang dibiayai oleh negara, kita harus berkontribusi untuk negara, tidak melululu melalui materi, tetapi bisa juga melalui jasa, seperti menjadi tenaga pengajar.

Relax, come on, colling down, do something to your country," tutur Mr. Udi.

Terakhir, Mr. Udi mengungkapkan bahwa walaupun banyak sekali tantangan ketika belajar di luar negeri, tetapi hal tersebut menjadi bumbu segar yang akan memberikan pandangan baru yang dimana pandangan tersebut belum tentu didapatkan ketika kita hanya menempuh studi di dalam negeri.

 

Referensi: Wawancara dengan Udi Samanhudi