Suka Ikut-Ikutan Tren? Waspada Gejala Bandwagon Effect
Squid Game, salah satu drama Korea yang sempat viral dan menjadi tren di kalangan masyarakat. | Sumber: Jonas Augustin/Unsplash

Mengikuti tren pakaian bergaya tie dye, menonton drama korea yang lagi booming, mencoba style memakai vest, sampai ‘keracunan’ rekomendasi produk tertentu dari influencers.

Hmm, apakah Kawan pernah mengalami salah satunya? Kalau iya, hati-hati itu bisa jadi yang dinamakan bandwagon effect, lo. Apa sih bandwagon effect itu?

Bandwagon effect atau yang juga bisa dikenal sebagai efek ikut-ikutan, mengutip penjelasan oleh Psychology Today, merupakan fenomena psikologis di mana seseorang melakukan sesuatu karena orang lain juga melakukannya.

Dikutip dari Very Well Mind, efek ini mengacu pada kecenderungan orang untuk mengadopsi perilaku, gaya, atau sikap tertentu hanya karena banyak orang juga melakukan hal yang sama.

Penjelasan dari Psychology Today bilang kalau istilah ini awalnya muncul dari ‘bandwagon’ atau kereta musik, yaitu semacam kendaraan hias dalam parade yang mendorong orang untuk ikutan bergabung dan menikmati musik yang sedang dimainkan. Karena ada efek yang menular dari musik dan euforia perayaannya itu yang bisa memastikan bakalan banyak orang turut bergabung.

Bandwagon effect sendiri dapat ditemukan di banyak kegiatan sehari-hari seseorang. Mulai dari pilihan gaya hidup, selera fesyen, hingga pilihan politik.

Mengapa seseorang bisa terkena bandwagon effect?

Ilustrasi seseorang yang berbeda sendiri di lingkungannya. | Sumber: Randy Fath/Unsplash
Ilustrasi seseorang yang berbeda sendiri di lingkungannya. | Sumber: Randy Fath/Unsplash

Seseorang bisa mengalami bandwagon effect karena beberapa faktor. Nah, salah satunya menurut Effectiviology, perasaan Fear of Missing Out bikin seseorang semakin rentan untuk ikut-ikutan.

Kalau menurut Very Well Mind, orang tuh takut terkucilkan atau merasa left out, makanya mereka melakukan hal yang serupa biar gak dianggap aneh dan mendapat penerimaan sosial.

Selain itu, ketika suatu tren dilakukan sama banyak orang, semakin besar kemungkinannya orang untuk melakukan hal yang sama, karena ada tekanan yang besar untuk menyesuaikan diri di lingkungannya tersebut. Mengutip dari Very Well Mind, hal ini disebut sebagai Groupthink

Seseorang juga cenderung punya keinginan dianggap benar. Hal ini menurut Very Well Mind menimbulkan pemikiran bahwa semakin banyak orang yang melakukan hal X, maka hal X dianggap benar untuk dilakukan.

Apakah bandwagon effect berbahaya?

Tidak selalu negatif, bandwagon effect dapat memiliki sisi positif apabila dimanfaatkan dengan benar. | Sumber: Everyday Health/Getty Images
Tidak selalu negatif, bandwagon effect dapat memiliki sisi positif apabila dimanfaatkan dengan benar. | Sumber: Everyday Health/Getty Images 

Pada situasi tertentu, efek ikut-ikutan ini bisa jadi berbahaya. Misalnya, pada awal penemuan vaksin Covid-19, terdapat beberapa orang yang menganut pemahaman anti-vaksin. Padahal, seperti yang Kawan ketahui, vaksin menjadi salah satu cara kita melawan virus Covid-19.

Nah, apabila digunakan untuk tujuan yang benar, bandwagon effect punya manfaat juga, lo. Contohnya, semenjak pandemi orang-orang mulai lebih berusaha meningkatkan dan menjaga kesehatan. Salah satunya lewat rajin berolahraga. Tren work out dari rumah saja jadi semakin dikenal dan diikuti sama banyak orang.

Bagaimana caranya terhindar dari sisi negatif bandwagon Eeffect?

salah satu cara untuk menghindari efek negatif dari bandwagon effect adalah dengan membuat daftar keperluan. | Sumber: Torbjørn Helgesen/Unsplash
salah satu cara untuk menghindari efek negatif dari bandwagon effect adalah dengan membuat daftar keperluan. | Sumber: Torbjørn Helgesen/Unsplash

Merangkum penjelasan dari Effectviology, terdapat beberapa tips nih untuk Kawan yang ingin menghindari kebiasaan ikut-ikutan aja.

Jangan terburu-buru saat ingin memutuskan sesuatu. Misalnya, habis lihat instastory selebgram X yang ngasih ‘racun’ alias rekomendasi produk tertentu. Coba ambil beberapa hari sebelum memutuskan. Seperti menunggu hingga waktu tertentu, misalnya selama tiga bulan, untuk melihat benarkah Kawan membutuhkan hal itu atau justru hanya lapar mata saja?

Selama menunggu, Kawan bisa membuat daftar pros dan cons dari keputusan tersebut. Coba pikirkan kembali, apakah itu kebutuhan yang mendesak dan harus segera dipenuhi? Apa manfaat dan kekurangannya untuk Kawan?

Pikirkan konsekuensi pilihan Kawan. Apapun keputusan pilihan dari Kawan, akan dipertanggung jawabkan oleh diri sendiri. Meski, awalnya Kawan memutuskan hal tersebut karena ikut-ikutan aja.

Beberapa tips tersebut dapat digunakan pada berbagai isu, bukan hanya mengenai gaya hidup dan selera saja, hal ini juga dapat berlaku pada pilihan politik, pilihan medis, dan lainnya.

Selamat mencoba!

Referensi: Very Well Mind | Psychology Today | Effectviology