Tak Banyak Dikenal, 4 Film Indonesia Ini Pernah Sabet Penghargaan Internasional
Film Indonesia | ezbooking

Tidak dapat di pungkiri, semakin hari industri perfilman Indonesia terus berjalan satu langkah ke depan menuju masa kejayaan. Dengan terbitnya karya anak bangsa, banyak yang memikat perhatian publik dan tak jarang menghasilkan prestasi.

Jangan salah, industri perfilman kita juga tidak kalah dengan luar negeri, loh. Ada banyak film asal Indonesia yang berhasil mencuri atensi para kritikus dan publik dari luar negeri, tak jarang juga mendapat penghargaan taraf internasional.

Namun, sayang seribu sayang, dari penghargaan taraf internasional tersebut, masih banyak karya anak bangsa yang tidak dikenal oleh masyarakat Indonesia sendiri. Minimnya promosi hingga larangan tayang di bioskop tanah air menjadi beberapa faktor hal tersebut terjadi.

Lantas, apa saja ya film anak bangsa yang berhasil sabet penghargaan internasional? Berikut adalah informasinya.

Marlina si Pembunuh Empat Babak

Marlina si Pembunuh Empat Babak | Clouds
Marlina si Pembunuh Empat Babak | Clouds

'Menegangkan', satu kata yang mendeskripsikan film karya Mouly Surya ini. Sesuai dengan tajuk yang dikenalkan, film ini berkisah tentang seorang wanita bernama Marlina yang mencari keadilan setelah apa yang ia alami pasca suami meninggalkannya.

Dimulai dari orang-orang jahat yang seenaknya masuk ke dalam kediaman Marlina, merengut barang yang dimiliki. Hingga puncaknya adalah seorang lelaki yang begitu keji mencoba memperkosa Marlina.

Di sana lah konflik kian memanas, dendam Marlina membawanya mengarungi jalanan untuk mencari seseorang yang dapat membantunya menuntaskan dendam dan membawa keadilan. Film ini telah diputar di berbagai negara dan beberapa festival film seperti Festival Film Cannes, pun berhasil mendapat atensi dari para kritikus serta publik di luar negeri itu sendiri. 

Tidak hanya itu, dikutip dari Suara, film "Marlina si Pembunuh Empat Babak" berhasil memboyong penghargaan tingkat internasional seperti Asian World Film Festival sebagai film terbaik atau Snow Leopard Best Film, Tokyo Filmex, Film Sitges, Five Flavors Asian Film Festival, Asia Pasific Film Festival, dan QCinema International Film Festival.

Kucumbu Tubuh Indahku

Kucumbu Tubuh Indahmu | Media Indonesia
Kucumbu Tubuh Indahmu | Media Indonesia

Film "Kucumbu Tubuh Indahku" karya Garin Nugroho memiliki plot yang cukup rumit di dalamnya. Film ini menceritakan tentang Juno yang harus menjalani kehidupan sendiri setelah ditinggal oleh sang ayah, setelahnya ia menemukan sanggar tari dan bergabung dengan alasan tarian tradisional harus dilestarikan.

Setelah bergabung, Juno menyadari bahwasannya ada yang mengganjal di lingkungan sanggarnya. Belum lagi krisis kehidupan Juno disinggung oleh orang-orang tertentu, hingga ia menemukan seseorang yang berarti di dalam hidupnya.

Dikutip dari Kincir, film satu ini telah memboyong sebanyak lima penghargaan internasional diantarnya adalah Venice Independent Film Critic, Festival Des 3 Continents, Asia Pasific Screen Awards, Cinephile Society Awards, dan Guadalara International Film Festival.

Namun sayangnya, film ini tidak dapat tayang di bioskop tanah air akibat munculnya petisi penolakan dari masyarakat terkait film yang mengangkat isu LGBTQ.

Turah

Turah | Agung Harsya
Turah | Agung Harsya

Unik diantara yang lain, film "Turah" karya Wicaksono Wisnu Legowo merupakan film yang menggunakan bahasa daerah. Film ini menceritakan tentang kesenjangan sosial di Tegal, tepatnya di Kampung Tirang yang merupakan kampung yang lokasinya bahkan tak jauh dari Kota Tegal.

Walaupun dekat, Kampung Tirang ini seakan terisolasi. Tidak ada listrik di sana, bahkan penduduk kesulitan mencari air bersih. Aktor utama dalam film ini adalah Jadag yang berusaha untuk melawan Darso yang memperlakukan penduduk Kampung Tirang sebagai budak dengan upah yang sangat sedikit.

Lebih mengesalkan lagi, Darso diketahui meraup untung banyak dan bahkan dapat membangun rumah megah sementara penduduk Kampung Tirang terus berada dalam kemiskinan.

Dikutip dari Viu, film "Turah" berhasil mendapat atensi kritikus di luar negeri. Bahkan berhasil memboyong piala pada festival Asian Pasific Green Awards 2011. Hebatnya lagi, film ini berhasil membawa nama Indonesia sampai di ajang bergengsi Festival Oscar dengan menjadi perwakilan film dari Indonesia.

Yuni

Yuni | Utara Times
Yuni | Utara Times

Film yang bulan kemarin tayang dan berhasil meraup atensi banyak orang adalah "Yuni". Sesuai dengan judulnya, menceritakan tentang perempuan cantik bernama Yuni yang merupakan siswa SMA yang ambisius dan berniat untuk mengejar cita-citanya yaitu menduduki jenjang perkuliahan.

Namun adat berkata lain, sebab Yuni dan keluarganya menganut budaya ketimuran membuat Yuni diminta untuk tetap berada di lingkungannya dan menikah. Tetapi Yuni bersih keras, bahkan tak segan menolak lamaran dari dua lelaki hingga dia dibuat bimbingang saat laki-laki ketiga melamar.  Hal tersebut disebabkan oleh mitos yang menyatalan bahwa jika seseorang menolak lamaran untuk ke tiga kalinya, maka orang tersebut tidak akan menikah.

Walau film ini terbilang baru, tetapi prestasi yang ditorehkan tidak main-main lho, Goodmates. Dilansir dari detik, "Yuni" berhasil mendapat penghargaan Platform Prize pada Toronto International Film Festival 2021. 

Bagaimana Goodmates, apa tertarik untuk menonton salah satu diantara film di atas? Jangan lupa untuk menonton di platform legal, ya!

Referensi: Suara |  Kincir | ViU | Detik