Taklukkan Media Sosial untuk Kamu si Social Butterfly
Media Sosial © Unsplash/Jeremy Bezanger

Manusia di masa kini hidup berdampingan dengan teknologi. Hal ini menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, terlebih semenjak kehadiran internet dan juga media sosial. Semua kegiatan manusia pasti dikaitkan dengan eksistensi internet dan manusia tidak bisa hidup tanpanya.

Update status atau membagikan segala sesuatu yang tengah kita lakukan di media sosial sudah menjadi makanan sehari-hari. Rasanya, ada yang kurang apabila kita belum membuka media sosial kita dan mengunggah sesuatu di sana. Hal ini kemudian disebutkan sebagai suatu gaya hidup dan hobi yang dilakukan oleh sebagian orang sebagai social butterfly.

Kebergantungan seorang social butterfly pada social media dapat dilihat ketika aplikasi Whatsapp, Instagram, dan Facebook down beberapa waktu lalu. Reaksi yang dihadirkan orang-orang cukup kacau, karena segala kegiatan, seperti meeting online.

Bahkan, percakapan biasa jadi terhambat karena fenomena ini. Hal ini menunjukkan kenyataan kelam akan bagaimana media sosial mampu mengontrol hidup manusia, bukan manusia sebagai penggunanya yang mengontrolnya.

Cara media sosial bekerja

Meski bergantung pada media sosial, mereka tetap menjalankan aktivitas mereka seperti biasa, seperti update status, mengunggah foto dan video, sampai melaksanakan diskusi grup melalui aplikasi yang lain. Apapun kondisinya, orang-orang akan terus mencari cara lain untuk dapat mengakses media sosial tiap saat.

Media sosial didesain untuk memelihara candu, memanipulasi pandangan pengguna dalam setiap kegiatan, emosi, perilaku, dan menyebarkan teori konspirasi dan disinformasi untuk memaksimalkan keuntungan satu pihak.

Oleh karena itu, muncul sisi negatif media sosial mengenai bagaimana seseorang mengunggah sebuah foto di media sosial untuk mendapatkan validasi, normalisasi depression, anxiety, dan banyak gangguan mental lainnya yang hanya bisa mereka dapatkan dari media sosial.

Terkejut? Memang itu fakta yang mungkin sudah kita ketahui, tetapi memilih untuk menutup mata sampai detik ini. Media sosial membentuk sistem yang mempengaruhi psikologi manusia.

Kecanduan media sosial

Ilustrasi © Unsplash/Oatawa
Ilustrasi © Unsplash/Oatawa

Konten-konten yang dikonsumsi oleh pengguna mampu menciptakan dopamin atau hormon kebahagiaan yang kuat. Salah satu contohnya ketika seseorang melakukan refresh dengan scrolling down, menunggu, dan menerka-nerka feeds apa yang muncul di halaman selanjutnya setelah melakukan refresh.

Tentunya, hal tersebut membuat kita terfokus pada gawai kita pada saat itu. Bergantung pada media sosial dan mengalami siklus mengakses media sosial yang tiada akhir. Contoh lainnya, ketika seseorang menandai atau tagging akun orang lainnya atau juga ketika membalas pesan dan muncul fitur typing yang menandakan seseorang di sana tengah mengetik.

Dua hal tersebut membuat pengguna media sosial rela menunggu sembari menatap layar gawainya. Atau bisa juga langsung klik masuk ke fitur-fitur tersebut dengan rasa tidak sabar.

Dengan kebiasaan yang dilakukan di media sosial, sistem dapat menggambarkan ‘dirimu’ dan mereka mengetahui apa yang senang atau sering diakses oleh penggunanya. Hal tersebut yang kemudian sering kita sebut sebagai algoritma. Algoritma inilah, yang membuat kita tenggelam semakin dalam pada media sosial yang tiada ujungnya.

Media sosial telah membantu banyak orang di seluruh dunia ini dengan menghubungkan satu orang ke orang lainnya, sampai memenuhi kebutuhan informasi yang tiada batas. Sayangnya, penggunaan media sosial yang terlalu berlebihan berdampak pada kesehatan mental dan fisik kita.

Harus ada sebuah kampanye untuk meningkatkan kesadaran orang-orang dalam menyelesaikan isu ini. Tak hanya itu, agar kita dapat mencapai keseimbangan di antara kehidupan nyata dan kehidupan maya.

Berhenti menjadikan media sosial sebagai eskapisme

Kita dapat berubah hanya dengan mengubah kebiasaan. Ubah kebiasaan bermain media sosial kita dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti berolahraga, membaca buku, dan masih banyak lagi. Ubah keinginan kita untuk selalu ingin tahu, mau terus update, dan adanya Fear of Missing Out atau FOMO.

Ubah anggapan kita  yang menganggap bahwa hidup akan mudah dan seindah unggahan orang lain di media sosial. Jangan terjebak pada kebahagiaan yang semu.

Singkirkan gangguan dan perbaiki fokus

Tujuan atau cita-cita yang ingin kita capai nyatanya tidak sejauh itu. Tentunya kita bisa menggapai goals kita jika mau berusaha dan menyadari bahwa kesuksesan yang kita inginkan tidak akan mampu diraih oleh klik dari jari kita untuk media sosial. It is you who can control your social media, try to learn how to conquer them!

Referensi: J Neurol Neurophy | Int J Ment Health Addict | Journals Plos | PubMed | PscyNet