Tanpa Disadari, 4 Kebiasaan Ini Dapat Merusak Lingkungan
4 Kebiasaan Merusak Lingkungan | Unsplash - Angela Compagnone

Pernahkan Goodmates berpikir bahwa kebiasaan yang biasa kita lakukan bisa jadi merusak lingkungan? Baik kebiasaan sepele atau bukan, tapi jika terus dilakukan tanpa disadari akan membuat lingkungan atau bumi kita tercinta ini menjadi rusak. Tentunya, yang perlu menerima akibatnya adalah kita sendiri sebagai penghuni bumi.

Lantas, apa saja kebiasaan yang dapat merusak lingkungan? Berikut informasinya.

Penggunaan dan pembuangan tinta

Penggunaan Tinta | Unsplash - Kelly Sikkema
Penggunaan Tinta | Unsplash - Kelly Sikkema

Bagi sebagian orang atau bahkan sebagai Goodmates di sini mungkin sudah tidak asing dengan kehadiran tinta baik itu dari pulpen, spidol, dan alat tulis lainnya. Namun, siapa sangka, penggunaan dan pembuangan tinta yang tidak benar dapat merusak lingkungan, lho.

Dikutip dari Blue and Green Tomorow, tinta merupakan salah satu benda bersifat cair yang dapat menyebabkan soil pollution atau yang bisa kita sebut polusi tanah. Hal tersebut disebabkan bahan tinta mengandung kimia berbahaya, yang dapat menyebar ke dalam tanah jika dibuang sembarangan.

Tidak hanya polusi tanah, penggunaan tinta berlebihan serta pembuangannya yang sembarangan akan berakibat kepada makhluk hidup sekitar. Makanan yang biasa dikonsumsi seperti sayur-sayuran berasal dari tanah. Jika tanah terkontaminasi, tentu sayur yang ditanam di tanah tersebut akan terkena dampak.

Akan lebih baik jika Goodmates menggunakan tinta seperlunya, atau mungkin bisa menggunakan gadget untuk mencatat. Jika sudah telanjur dan akan dibuang, pastikan tinta yang Goodmates buang itu sudah kering atau habis agar tidak mengalir ke tanah dan terserap.

Menyisakan makanan

Menyisakan makanan | Unsplash - Joanna Kosinska
Menyisakan makanan | Unsplash - Joanna Kosinska

Hayo siapa diantara Goodmates yang sering memesan makanan dalam porsi banyak dan berakhir tidak habis karena kekenyangan? Itu tandanya kamu harus mulai berhenti melakukan kebiasaan tersebut sebab tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, ternyata berdampak buruk juga bagi lingkungan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dalam tulisan Liputan 6 menyatakan bahwa sampah makanan di Indonesia bisa mencapai 13 ton setiap tahun. Membuang atau menyisakan makanan sama saja dengan membuang hasil dari proses pembuatannya secara cuma-cuma.

Kamu bayangkan, sekali makan sudah berapa proses yang dilakukan? Dimulai dari pengambilan bahan, proses memasak, hingga proses membungkus yang belum tentu bungkusnya sendiri tidak ramah lingkungan. 

Baiknya jika Goodmates bisa membeli makanan secukupnya atau berbagi dengan orang terdekat untuk menghindari food waste. Jika sudah terlanjur, Goodmates bisa juga menjadikan sisa makanan menjadi pupuk kompos sebagai nutrisi bagi tanah dan juga tanaman.

Menumpuk email

Menumpuk Email | Unsplash - Brett Jordan
Menumpuk Email | Unsplash - Brett Jordan

Internet sekarang ini sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Salah satunya adalah email yang sering menjadi media untuk mengirim pesan baik itu untuk kebutuhan perusahaan maupun pribadi.

Tapi apakah Goodmates tahu bahwa menumpuk email secara berlebihan itu dapat merusak lingkungan juga? Ternyata email sendiri dapat menghasilkan emisi karbon yang dapat merusak lingkungan dan berdampak buruk dalam jangka waktu ke depan, seperti cuaca ekstrim, mencairnya es di kutub, dan lainnya.

Tidak hanya menghasilkan emisi karbon, mesin yang menjadi media pengirim email dari satu orang ke orang lain juga membutuhkan pendingin sehingga kita membutuhkan energi untuk membuat sistem tetap dingin. Yuk, kita mulai menghapus dan membuka email yang menumpuk.

Fast fashion

Fast Fashion | Unsplash - Markus Winkler
Fast Fashion | Unsplash - Markus Winkler

Mengikuti perkembangan fashion memang tidak ada salahnya. Namun, tren fashion yang kerap berganti setiap minggu dengan menggunakan barang dijual murah atau disebut fast fashion, ternyata menjadi faktor utama penyebab keberadaan limbah pakaian, lho. 

Dilansir dari Zero Waste, ada beberapa dampak yang disebabkan oleh fast fashion. Di antaranya penggunaan pewarna tekstil berbahaya dapat mencemari air, bahan poilester yang berasal dari fosil akan menimbulkan serat mikro setelah dicuci dan meningkatkan sampah plastik.,

Tidak hanya itu, model fashion yang berubah terlebih lagi dengan harga mahal dapat membuat publik tergiur dan segera membelinya. Hal tersebut juga akan berdampak buruk bagi berbagai sektor terlebih lagi jika membeli secara online. Sampah yang ditimbulkan dari bungkus yang kebanyakan dari plastik sudah pasti akan mencemari lingkungan, mengingat plastik membutuhkan waktu beratus tahun untuk mengurai.

Jika Goodmates ingin membeli pakaian, akan lebih baik jika menggunakan bahan yang nyaman dan ramah lingkungan, usahakan pakaian tersebut dapat digunakan dalam jangka waktu lama dan multifungsi juga. Maka, kamu tidak perlu terus menerus membeli pakaian.

Bagaimana Goodmates? Apakah salah satu kebiasaan merusak lingkungan ada padamu? Tidak apa-apa, terlambat sadar lebih baik daripada tidak sadar sama sekali. Yuk, kita mulai ubah kebiasaan tersebut dan selamatkan lingkungan!

Referensi: Blue and Green Tomorow | Liputan 6 | Goodside | Zero Waste