Gelar ‘Kota Literasi’ dan Tantangan ke Depannya bagi Indonesia
Buku © Unsplash/Kimberly Farmer

Dalam sektor edukasi, literasi menjadi sangat penting karena sumber dari edukasi adalah literasi. Literasi memang diartikan sebagai kemampuan dalam membaca dan menulis, menerjemahkan lambang bahasa menjadi sebuah pengertian, dan menulis untuk mengungkapkan apa yang kita pikirkan dengan menuliskan lambang bahasa tersebut menjadi sebuah pesan.

Disimbolkan dengan buku, tentunya pengertian literasi sejalan dengan kalimat, “buku adalah jendela ilmu”. Diketahui dari data statistik UNESCO pada tahun 2012, minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 atau setara dengan 1 dari 1000 orang, yang memiliki minat baca.

Hal tersebut memang menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah, dan semua orang harus menunjukkan upaya untuk meningkatkan angka tersebut, terkhusus untuk keperluan edukasi. Masyarakat harus menyadari dan paham betul bagaimana literasi merupakan hal yang sangat penting bagi mereka.

Di samping itu, perkembangan teknologi juga memberikan dampak yang cukup besar dalam minat baca masyarakat Indonesia. Dengan segala sesuatu yang lebih mudah, pengguna teknologi internet dapat melakukan segala cara untuk mendapatkan informasi dengan cara yang lebih efisien. Tidak jarang bagi mereka yang melewati bacaan yang menyebabkan kemampuan literasi informasi mereka berkurang.

Indonesia darurat literasi, katanya. Mereka tidak bisa mencari, memahami, mengevaluasi secara kritis, dan mengelola informasi atas apa yang mereka dapatkan dari internet atau dunia digital. Hal ini mengancam keamanan mereka, terlebih ketika arus informasi yang semakin deras dan teknologi yang semakin berkembang.

Nyatanya, minat baca orang Indonesia masih dapat terus dikembangkan apabila disertai dengan dukungan dan motivasi yang kuat dari semua pihak.

Jakarta dapat gelar Kota Literasi

Foto: Unsplash/Kuanish

Berseberangan dengan situasi minat baca di Indonesia, penulis, penerbit, dan pemilik perpustakaan yang ada di Jakarta merasa senang dan puas dengan gelar ‘City of Literature’ atau ‘Kota Literasi’ dari UNESCO pada Jakarta yang diharapkan dapat terus memotivasi Jakarta untuk mendukung kemajuan dunia literasi di negara ini.

Bagaimana bisa Jakarta mendapatkan gelar tersebut? Dikutip dari The Jakarta Post, Jakarta merupakan kota dengan 5.000 perpustakaan dan 1.000 penerbit. Setiap tahunnya, penerbit di seluruh Indonesia menghasilkan 120.000 judul yang membuat Indonesia menjadi negara sebagai penghasil buku dengan jumlah terbesar di Asia Tenggara.

Pencapaian tersebut tentunya disertai dengan tantangan yang harus dihadapi di masa depan bagi Jakarta. Banyak hal-hal yang dapat dikembangkan lagi oleh Indonesia terkhusus Jakarta dalam menciptakan peningkatan minat membaca di antara masyarakat.

Menyeimbangkan produksi buku dalam berbagai genre, misalnya. Buku anak yang tersebar di seluruh toko buku di Indonesia kebanyakan masih buku terjemahan yang berasal dari luar negeri. Indonesia butuh penulis buku anak atau ilustrator buku anak untuk lebih diberdayakan lagi.

Literasi diajarkan sejak dini

Foto: Unsplash/Wesley

Tentu saja literasi harus sudah ditanamkan sedari dini, untuk menciptakan kebiasaan yang baik di masa depan. Namun, apabila sumber bacaan yang ramah anak pun sedikit, tentunya akan sulit bagi mereka agar tetap termotivasi untuk terus meningkatkan literasi.

Kedua, maraknya pembajakan buku saat ini harus ditindak tegas dan serius. Hal ini berguna untuk memberantas pembajakan buku yang merajalela, kondisinya sangat merugikan bagi pihak penulis ataupun pihak penerbit.

Memberantas pembajakan buku dan tidak membeli buku hasil pembajakan tersebut juga merupakan salah satu bentuk dukungan yang dapat kamu berikan untuk mendukung kelanjutan literasi di Indonesia.

Ketiga, dukungan finansial dari pemerintah kepada penulis, penerbit, dan pemilik perpustakaan akan sangat berarti dan bermanfaat bagi keberlangsungan operasional yang dapat menciptakan literasi berkelanjutan.

Seperti yang kita ketahui, pandemi Covid-19 memberikan dampak pada perekonomian masyarakat atau UMKM yang ada, tanpa terkecuali pemilik toko buku yang masih kecil. Apabila dibiarkan dan tidak didukung secara materiil, perlahan-lahan toko buku kecil tersebut akan mati.

Gelar yang diberikan UNESCO sesungguhnya merupakan penghargaan besar bagi kita semua. Namun, akan lebih baik ketika kita merayakannya dengan memikirkan tantangan apa yang ada di hadapan kita, untuk terus mempromosikan literasi ke tiap generasi yang ada.

Referensi: Ruangguru | UNESCO | The Jakarta Post