Terapkan Metode Segitiga Frientimacy Agar Pesahabatan Makin Erat
Eratkan persahabatan dengan segitiga frientimacy | Foto: Hannah Nelson/Pexels

Memiliki sahabat adalah kebutuhan semua orang sebagai makhluk sosial. Namun, meski sudah memiliki banyak sahabat, kita tetap merasa kesepian. Apakah Goodmates merasakan hal yang sama? Solusinya, Goodmates bisa terapkan segitiga frientimacy.

Seorang penulis dan friendship expert, Sashta Nelson menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi. Ia mengatakan bahwa setiap hubungan persahabatan membutuhkan 3 hal yang akan meningkatkan kualitas persahabatan ke level yang lebih “memuaskan”. Tanpa salah satu dari ketiganya, hubungan persahabatan akan berada di posisi itu-itu saja.

Hal tersebut akan membuat Goodmates merasa sepi dan sendirian meskipun memiliki banyak bestie. Sashta menekankan bahwa terkadang yang kita perlu lakukan bukan mencari teman baru, tetapi meningkatkan kualitas pertemanan yang sudah ada. Untuk melakukan itu, mari terapkan 3 metode segitiga frientimacy.

1. Membangun Vibes Positif dalam Persahabatan

Saling menebar vibes positif dalam persahabatan | Foto: ELEVATE/Pexels

Hal pertama yang membentuk segitiga frientimacy adalah positivitas. Dalam persahabatan, Goodmates tentu mencari kenyamanan dan rasa senang. Hal ini tidak akan tercapai bila Goodmates atau orang lain dalam lingkar persahabatan itu memiliki kepribadian yang suka mengeluh, merengek, dan menebarkan aura negatif setiap hari.

Persahabatan dengan kualitas baik membutuhkan vibes yang positif dengan adanya rasa empati, rasa bersyukur, validasi, dan canda tawa. Meski begitu, berbagi kesedihan kepada sahabat juga sesekali perlu karena sahabatlah yang terkadang menjadi penguat dan pemberi solusi.

Dalam hal ini, kamu perlu memperhatikan seberapa sering Goodmates berkeluh kesah atau melampiaskan emosi negatif kepada para sahabat. Jika memang cukup sering, ada baiknya Goodmates mulai mengurangi kebiasaan tersebut perlahan-lahan.

Emosi-emosi yang negatif tersebut bisa Goodmates ganti dengan membangun komunikasi yang lebih positif. Caranya, dengan menunjukkan rasa empati satu sama lain dan saling memberi semangat.

2. Meluangkan Waktu untuk Sahabat 

Menghabiskan waktu yang berkualitas dengan sahabat | Foto: Creative Vix/Pexels

Sashta menjelaskan, meski kita sudah menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan orang lain, hal itu bukanlah sebuah persahabatan. Apalagi jika setelahnya, kita tidak pernah menemui mereka lagi.

Persahabatan membutuhkan interaksi yang konsisten agar bisa membangun rasa percaya satu sama lain. Itulah mengapa kita lebih mudah menemukan sahabat di masa sekolah atau kuliah. Penyebabnya karena secara konsisten kita menghabiskan waktu dengan sekelompok orang yang kemudian menjadi sahabat kita.

Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa memerlukan sekitar 40–60 jam interaksi untuk mengubah seorang kenalan menjadi teman biasa. Lalu sekitar 80–100 jam untuk menjadi teman, dan lebih dari 200 jam untuk menjadi best friend atau sahabat dekat.

Data tersebut menunjukkan bahwa tidak ada cara instan untuk menjadi dekat dengan seorang teman. Meski begitu, Goodmates juga harus memahami bahwa yang terpenting bukan seberapa lama menghabiskan waktu dengan sahabat. Hal yang paling penting adalah kualitas pertemuan yang terjadi.

Goodmates juga tidak harus memaksakan diri untuk mengadakan pertemuan fisik di masa pandemi seperti sekarang. Cukup hubungi sahabat secara rutin untuk menanyakan kabar dan menunjukkan kepedulian agar hubungan tidak terputus meski pandemi masih terjadi.

3. Saling Terbuka Menjadi Diri Sendiri

Tidak takut untuk jadi diri sendiri bersama sahabat | Foto: mododeolhar/Pexels

Tanpa keterbukaan dan menjadi diri sendiri, sebuah hubungan persahabatan tidak akan sehat meski sudah ada komunikasi yang positif. Keterbukaan ini memiliki arti bahwa Goodmates bisa menceritakan hal-hal yang memalukan hingga menyedihkan kepada para sahabat, begitu juga dengan mereka.

Sebaliknya, saat Goodmates memiliki pencapaian-pencapaian baru dalam hidup atau tengah mendapat kebahagiaan, Goodmates juga merasa nyaman untuk berbagi hal tersebut kepada mereka.

Dengan terbuka dan menjadi diri sendiri, semua pihak dalam hubungan persahabatan tersebut akan merasa untuk saling butuh, mendengar, dan memperhatikan. Bila sudah begitu, secara otomatis akan terbentuk hubungan yang tidak hanya dekat, tetapi juga sehat.

Itu dia penjelasan dari segitiga frientimacy ala Sashta Nelson yang terdiri dari positivity, consequency, dan vulnerability. GoodSide berharap artikel ini bisa membantu Goodmates memiliki persahabatan yang lebih berkualitas.

Referensi: Sashta Nelson | Mind Body Green