Simak Ini! Biar Kamu Terhindar dari Toxic Positivity
Ilustrasi seseorang mengalami toxic positivity

GoodMates tentu sudah tidak asing lagi bukan dengan istilah toxic positivity. Jadi, sebenarnya apa sih toxic positivity itu?

Toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif, serta menolak emosi negatif.

Seseorang yang terjebak dalam toxic positivity umumnya terus berusaha menghindari emosi negatif. Ia akan menghindari marah, kecewa, atau suatu hal yang terjadi. Padahal, emosi negatif ini juga penting untuk dirasakan dan di ekspresikan.

Penyangkalan emosi negatif yang dilakukan dalam jangka panjang bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan mental, seperti stres, cemas, gangguan tidur, penyalahgunaan obat terlarang, hingga depresi.

Ciri-ciri Toxic Positivity

  1. Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya sedang dirasakan
  2. Terkesan menghindari atau membiarkan masalah
  3. Merasa bersalah ketika merasakan atau mengungkapkan emosi negatif
  4. Mencoba memberikan semangat kepada orang lain, tapi sering disertai dengan pernyataan yang seolah meremehkan. Misal: "Jangan nyerah dong, masa gitu aja ngga bisa."
  5. Sering mengucapkan kalimat yang membandingkan diri dengan orang lain. Misal: "Kamu tuh harusnya bersyukur, masih banyak orang yang lebih menderita di luar sana."

Ilustrasi mendapatkan penghargaan | Sumber: Pixabay

Toxic positivity ini umumnya muncul melalui ucapan, namun secara tidak sadar kita juga sering berlomba-lomba untuk menunjukkan sisi terbaik dari kehidupan masing-masing. Jadi ketika kita melihat orang lain nampak lebih sempurna dari kita, kita akan lebih mudah sedih dan terpuruk. 

Bahkan ketika sedang merasa sedih, sebisa mungkin kita menutupinya dari media sosial. Nah, hal ini juga membuat kita menolak segla emosi negatif loh GoodMates! Karena kita ingin selalu terlihat perfect seperti dunia yang ditampakkan di media sosial.

Cara Menghindari Toxic Positivity

1. Rasakan dan kelola emosi negatif

Emosi negatif yang GoodMates rasakan bukan hal yang perlu disimpan atau disangkal. Perasaan dan emosi, baik negatif maupun positif, merupakan hal normal yang dirasakan oleh seseorang. Untuk itu GoodMates tak perlu ragu untuk meluapkan emosi dan perasaan yang dirasakan, supaya tidak menjadi toxic positivity.

Banyak cara untuk meluapkan emosi dan perasaan, salah satunya dengan bercerita. Cerita ke seseorang yang dipercaya dan bisa memahami apa yang GoodMates rasakan, merupakan salah satu hal yang wajib dicoba. GoodMates juga dapat bercerita melalui buku harian, jika merasa ragu untuk bercerita kepada seseorang.

2. Coba berusaha untuk memahami, bukan menghakimi

Rasa negatif yang GoodMates atau orang lain rasakan bisa muncul karena berbagai hal, mulai dari tugas kuliah, masalah keluarga, hingga gejala gangguan mental tertentu. Oleh karenanya, memahami perasaan dan menemukan cara yang tepat untuk melepaskannya merupakan hal yang penting.

Setiap orang tentu tidak mau dihakimi, apalagi hanya semata-mata karena ia jujur dengan perasaannya sendiri. Oleh karenanya daripada memberikan komentar yang terkesan menghakimi, cobalah kita untuk berempati. Biarkan saja seseorang meluapkan emosi yang sedang dirasakan, karena hal itu membuat ia merasa tenang dan nyaman.

3. Hindari membanding-bandingkan masalah

Setiap orang memiliki tantangan dan masalah masing-masing. Apa yang kita anggap mudah, belum tentu sama dengan orang lain. Oleh karenanya, rasanya tidak adil jika kita terus membandingkan masalah yang dialami dengan masalah orang lain.

Daripada membandingkan diri sendiri dengan orang lain, lebih baik kita berusaha untuk memahami dan menghibur diri sendiri, supaya kondisi dan perasaan kita juga kembali pulih. 

4. Mengurangi penggunaan media sosial

Sosial media dapat memperparah toxic positivity. Oleh karenanya, kita harus mengelola akun sosmed masing-masing dengan sebaik mungkin. GoodMates bisa mem-filter orang-orang maupun akun-akun yang dirasa mengganggu kesehatan mental.

Tentunya, daripada kita banyak menghabiskan waktu untuk scrolling sosial media, lebh baik kita membuat diri pribadi produktif dengan cara mengasah kemampuan atau aktivitas lain yang membuat bahagia.

Ilustrasi berkonsultasi dengan profesional | Sumber: Pixabay

Merasa tidak baik-baik saja merupakan hal yang wajar, karena kehidupan yang dijalani setiap orang punya warna-warninya tersendiri. Adakalanya merasa bahagia dan puas, tapi adakalanya pula merasa sedih dan kecewa.

Jika GoodMates terjebak dalam toxic positivity dan merasa kualitas hidup terganggu, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional ya!

 

Referensi: IDN Times | Yoursay Suara | Fimela