Therapeutic Community Bagi Pemulihan Korban Penyalahgunaan Napza, Simak Penjelasannya!
Ilustrasi | Foto: Pexels.com

NAPZA adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Penyalahgunaan napza menimbulkan banyak korban jiwa di Indonesia, khususnya generasi muda yang menjadi harapan bangsa untuk membangun Indonesia.

Korban penyalahgunaan NAPZA mengalami ketergantungan yang mengakibatkan terganggunya kesehatan mental dan fisik sehingga perlu perawatan khusus yang sering disebut rehabilitasi.

Dalam rehabiltasi korban penyalahgunaan NAPZA menggunakan theurapeutic community dalam proses pemulihan dari ketergantungan akan NAPZA. Therapeutic community adalah teknik terapi dengan dasar komunitas.

Dalam hal ini, komunitas yang dimaksud adalah komunitas korban penyalahgunaan narkoba. Pelaksanaan therapeutic community membuat korban penyalahgunaan NAPZA belajar memahami nilai positif yang menjadi struktur dan pilar therapeutic community sehingga ada perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku.

Mengenal Struktur dan Pilar Therapeutic Community

Penerapan Konsep Kekeluargaan dalam Kebersihan Lingkungan I Dokumentasi Pribadi

Therapeutic community memiliki struktur dan pilar. Adapun, 4 strukturnya adalah pembentukan tingkah laku, pengendalian emosi dan psikologis, pengembangan pikiran dan kerohanian, serta ketrampilan kerja dan sosial dalam bertahan hidup.

Selain itu, terdapat 5 pilar yang harus dilaksanakan dalam therapeutic community, yaitu konsep kekeluargaan, tekanan rekan sebaya, sesi terapi, sesi kerohanian, dan keteladanan. Dalam menjalankan therapeutic community harus mengikuti struktur dan pilar tersebut untuk menghasilkan perubahan perilaku.

Sejarah Therapeutic Community

Ivan adalah seorang konselor adiksi yang bertugas membantu para korban penyalahgunaan NAPZA dalam menjalankan therapeutic community dalam program rehabilitasi pemulihan dari kecanduan NAPZA.

Sejak 2016, Ivan menjadi konselor adiksi di Balai Rehabilitasi Galih Pakuan Bogor, salah satu Balai Rehabilitasi yang dimiliki oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia yang menggunakan therapeutic community dalam pemulihan korban penyalahgunaan NAPZA.

“Dahulu therapeutic community digunakan untuk orang yang mengalami gangguan jiwa,” kata Ivan.

Therapeutic community pertama kali digunakan sekitar awal 1950-an untuk para pasien dengan gangguan jiwa di Inggris. Kemudian, therapeutic community digunakan untuk rehabilitasi pecandu narkoba di Amerika.

Sementara itu, therapeutic community mulai dikenal di Indonesia sejak 1997 dan hingga sekarang masih digunakan untuk rehabiltasi korban penyalahgunaan narkoba untuk bangkit dan pulih dari ketergantungan NAPZA. Sekitar 1999, barulah therapeutic community digunakan di Balai Rehabilitasi milik Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Suka Duka dalam Menjalankan Therapeutic Community

Sesi Terapi di Balai Rehabilitasi Galih Pakuan | Dokumentasi Pribadi

Saat membantu korban penyalahgunaan NAPZA dalam menjalankan therapeutic community, seringkali Ivan mengalami banyak masalah yang menimbulkan suka dan duka. Masalah tersebut datang dari keluarga maupun korban penyalahgunaan narkoba tersebut.

“Karena memang dukungan keluarga sangat dibutuhkan saat korban penyalahgunaan narkoba menjalani rehabilitasi dengan therapeutic community,” kata Ivan.

Hal seperti itu sering menimbulkan duka di hati Ivan sebagai seorang konselor yang membantu pemulihan korban penyalahgunaan narkoba dengan therapeutic community. Dukungan dari keluarga akan menambah semangat korban penyalahgunaan NAPZA bagi yang sedang menjalani proses rehabilitasi untuk segera pulih dari kecanduan mereka.

Namun, banyak hal juga yang membuat hati Ivan menjadi senang karena perubahan yang dialami korban penyalahgunaan NAPZA setelah menjalani therapeutic community.

“Tadinya, ada yang nggak bisa mengontrol emosi, lalu bisa mulai mampu mengontrol emosi. Tadinya, nggak bisa mengutarakan pendapat, lalu bisa. Tadinya, nggak pernah menjalankan sholat, bahkan nggak tahu cara sholat, berubah rajin sholat karena memang therapeutic community mengajarkan mereka untuk menjadi manusia yang berfungsi secara keseluruhan,” kata Ivan.

Ada rasa kebahagiaan tersendiri yang dirasakan oleh Ivan saat membantu pemulihan korban penyalahgunaan NAPZA dari kecanduan mereka, bahagia melihat mereka bisa berubah dan berfungsi Kembali hidupnya di dalam tatanan masyarakat umum.

 

Referensi: Wawancara | Balai Rehabilitasi Galih Pakuan

Rafika Bunga Sofia Aruan
Tenaga Kependidikan FKUI

Senang dengan dunia museum, kuliner dan seni.