Semarak Tradisi Syawalan dari Berbagai Daerah di Indonesia
Ilustrasi tradisi syawalan di Indonesia | Foto: tribun jateng/wahyu sulistiyawan

Indonesia merupakan negara yang memiliki ragam adat istiadat dan tradisi yang berbeda. Hal ini yang juga menjadikan Indonesia sangat kaya akan budaya. Salah satunya adalah tradisi Syawalan yang biasa digelar dalam rangka menyambut Bulan Syawal.

Di Indonesia, seminggu setelah merayakan Hari Raya Idul Fitri, terdapat sebuah tradisi yang umum digelar oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. Tradisi Syawalan ini juga disebut sebagai Lebaran Ketupat. Menariknya, setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing yang menjadikan tradisi Syawalan unik dan berbeda.

Tradisi Terater di Madura

ilustrasi tradisi terater di Madura | Foto: Mata Madura News
ilustrasi tradisi terater di Madura | Foto: Mata Madura News

 

Tradisi Terater ini diadakan setiap tanggal 7 Syawal. Untuk melaksanakan tradisi Terater, masyarakat Madura akan mengolah hidangan berupa ketupat dan sajian pendampingnya seperti opor ayam atau ayam goreng.

 

Setelah dimasak, hidangan tersebut dibawa terlebih dahulu menuju masjid terdekat untuk didoakan bersama setelah dilaksanakannya salat bersama. Selepasnya, hidangan berupa ketupat dan sajian pelengkapnya tersebut akan dibagi-bagi bersama masyarakat kemudian dikonsumsi secara bersama-sama.

 

Tradisi Terater ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan sebab telah diberikan kekuatan untuk melaksanakan puasa Syawal selama enam hari lamanya setelah melaksanakan puasa wajib di Bulan Ramadan. Selain itu, tradisi Terater juga dijadikan ajang untuk mempererat tali persaudaraan antar Muslim.

Baca juga:

Tradisi Nyangkar di Lombok

ilustrasi tradisi nyangkar di Lombok | Foto: Kompas.com
ilustrasi tradisi nyangkar di Lombok | Foto: Kompas.com

 

Tradisi Nyangkar merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang orang Sasak saat merayakan Lebaran Topat, sebutan dari masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat untuk Lebaran Ketupat.

 

Pada tradisi ini, masyarakat Lombok akan mengadakan arak-arakan cidomo yang dihias atau kereta kuda khasnya Lombok dengan mengangkut dulang berisi ketupat menuju pusat perayaan Nyangkar di makam Loang Baloq. Setibanya di makam, masyarakat melakukan zikir serta doa bersama. Perayaan dilanjutkan dengan memotong ketupat dan makan bersama di Taman Loang Baloq.

Tradisi Barong Ider Bumi di Banyuwangi

ilustrasi tradisi barong ider bumi di Banyuwangi | Foto: Ira Rachmawati/Kompas.com
ilustrasi tradisi barong ider bumi di Banyuwangi | Foto: Ira Rachmawati/Kompas.com

 

Tradisi Barong Ider Bumi Bumi digelar setiap tanggal 2 Syawal atau lebaran hari kedua. Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur menggelar tradisi ini sebagai ritual tolak bala. Tradisi Barong Ider Bumi sendiri merupakan tradisi turun temurun yang telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu.

 

Ketika pelaksanaan tradisi, masyarakat setempat akan mengarak figur mitologi Bali dan Jawa yang biasa disebut dengan nama Barong. Hal ini memiliki tujuan untuk mengusir bencana atau menolak bala dengan harapan agar masyarakat bisa hidup dengan aman dan nyaman.

 

Sedangkan, bukan tanpa alasan tanggal 2 Syawal dipilih untuk menggelar tradisi Barong Ider Bumi. Angka pada tanggal 2 Syawal dianggap merupakan simbol dari ciptaan Tuhan yang berpasangan-pasangan. Seperti siang dan malam serta laki-laki dan perempuan.

Baca juga:

Tradisi Grebeg Syawal Keraton Solo

ilustrasi tradisi grebeg syawal di Keraton Solo | Foto: Liputan6
ilustrasi tradisi grebeg syawal di Keraton Solo | Foto: Liputan6

 

Pada tradisi Grebeg Syawal Keraton Solo akan digelar dengan membawa 2 gunungan berhasil hasil bumi dan jajanan pasar yang dibawa dari keraton menuju Masjid Agung Surakarta.

 

Kedua gunungan ini disebut sebagai gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan setri (perempuan). Tradisi Grebeg Syawal Keraton Solo merupakan simbol dari kehidupan manusia yang tidak pernah lepas dari menyatunya laki-laki dan perempuan. Apabila gunungan jaler dibawa ke Masjid Agung Surakarta, sedangkan gunungan sentri dibawa ke Keraton Solo untuk diperebutkan.

Tradisi Bancaan Kampung Singaraja

ilustrasi tradisi bancaan | Foto: Lampung Post
ilustrasi tradisi bancaan | Foto: Lampung Post

 

Tradisi Bancaan atau makan bersama ini merupakan tradisi yang telah digelar sejak ratusan tahun lalu di masyarakat Kampung Jawa di Singaraja, Bali. Dahulunya tradisi ini menjadi ajang untuk merekatkan silahturahmi antar warga Kampung Jawa dan Kerajaan Buleleng.

 

Tradisi ini merupakan simbol dari antar umat beragama yang saling menghormati. Tradisi Bancaan dilaksanakan setelah salat Id dilakukan.


Referensi: Kompas | Tempo | Kompas.com