Transformasi Digital Pendidikan Indonesia Saat COVID-19
Tranformasi Digital Pendidikan | Pintek

#TransformasiDigital

Pada akhir 2019, dunia digemparkan dengan sebuah virus mematikan yang disebut sebagai virus corona atau COVID-19. Di awal 2020, virus tersebut mulai masuk ke Indonesia dan mengubah semua sistem yang ada, salah satunya pendidikan.

Menanggapi hal tersebut, Kemdikbud mengambil kebijakan untuk mengganti kegiatan belajar mengajar tatap muka menjadi daring. Hal ini menimbulkan beberapa dampak pada dunia pendidikan. Banyak pihak yang belum mampu beradaptasi dengan kondisi yang ada sehingga kebijakan ini dinilai kurang berjalan efektif.

Kemajuan teknologi mengambil bagian besar dalam hal untuk mengatasi perubahan yang diakibatkan oleh COVID-19. Kita bisa melihat fenomena transformasi digital menjadi hal yang sedang berlangsung hingga saat ini, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Semua pihak saling berupaya untuk transformasi digital di bidang pendidikan guna meminimalisir penyebaran COVID-19.

Kekurangan proses transformasi digital pendidikan Indonesia

Belajar Online | CNBC Indonesia
Sekolah daring | Foto: CNBC Indonesia

Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi telah menggunakan paltform digital untuk kegiatan pembelajaran, seperti Zoom Meeting, Google Meet, Google Classroom, e-learning, Rumah Belajar, Youtube, School Information System, dan sebagainya.

Namun, masih terdapat kekurangan dalam proses transformasi digital sehingga menghambat efektifitas kebijakan pembelajaran online tersebut. Lantas, apa saja kekurangan tersebut? Berikut informasinya.

1. Ancaman cyber crime

Tidak jarang ditemui kejahatan teknologi dalam penggunaan platform pembelajaran online. Seperti yang belum lama terjadi, dikutip dari CNBC Indonesia, 530 ribu data password dan detil akun aplikasi Zoom, software rapat online, telah diperjualbelikan hacker di Dark Web.

Tidak hanya itu, banyak kemungkinan kejahatan teknologi yang bisa terjadi pada saat belajar online, seperti penyebaran video tidak senonoh yang dapat merusak mental, pola pikir, dan moral siswa.

2. Kurangnya infrastruktur digital

Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang banyak. Namun begitu, masih terdapat wilayah seperti pelosok atau pedalaman yang belum mendapatkan akses listrik dan internet.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, kaget saat mengetahui bahwa masih banyak area-area di Indonesia tidak mempunya akses listrik dan internet. Hal ini tentu saja menghambat proses transformasi digital pendidikan di Indonesia.

3. Minimnya pengawasan belajar online

Berlama-lama di depan gadget membuat siswa kadang kehilangan fokus karena mengantuk ataupun hal lainnya. Guru ataupun dosen tidak dapat mengawasi secara maksimal proses pembelajaran dikarenakan jarak.

Tidak jarang siswa belajar online sambil tidur atau sambil mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan proses belajar. Begitu juga pada saat ujian online berlangsung, keterbatasan pengawasan ujian online memperbesar kemungkinan terjadinya kecurangan.

4. Kurangnya interaksi dengan pelajar

Jika dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka, interaksi dalam pembelajaran online masih kurang. Dikarenakan virtual, siswa sukar untuk berinteraksi atau bersosialisasi dengan guru ataupun siswa lainnya.

Dengan begitu, siswa sulit mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai materi yang sulit dipahami terlebih jika materi itu ialah praktikum atau praktek ilmiah. Hal ini juga mengakibatkan siswa kurang dibekali pendidikan karakter bersosialisasi secara langsung dengan teman-temannya.

5. Fitur platform belajar online sulit dipahami

Sekolah-sekolah atau kampus mulai menggunakan platform digital untuk proses pembelajaran. Namun, masih terdapat kekurangan dalam platform pembelajaran tersebut.

Misalnya kualitas video dan audio yang kurang baik, boros internet, enskripsi data tidak terjamin, batasan penampungan peserta, dan sebagainya. Terkadang juga terdapat beberapa fitur yang sulit dipahami, bagi orang yang kurang paham teknologi sehingga menyulitkan penggunanya.

Harapan proses transformasi digital pendidikan Indonesia

Aplikasi Pembelajaran Digital | Kompas
Belajar online | Foto: google

Dari kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan di atas, diharapkan proses transformasi digital dalam bidang pendidikan selalu diperbaharui agar berjalan efektif. Terlebih dalam hal keamanan data ataupun akses pengguna.

Jangan sampai dampak positif pembelajaran online yang diharapakan malah menjadi hal buruk bagi siswa atau pelajar di Indonesia, karena keamanan digital yang kurang baik. Tentu masyarakat mengharapkan adanya inovasi untuk kemanan data dan akses pengguna pembelajaran online.

Proses transformasi digital juga seharusnya disertai dengan fitur-fitur platform pembelajaran yang baik, mudah digunakan, dan ter-upgrade agar proses pembelajaran dapat dilakukan dengan nyaman dan efektif.

Diharapkan juga transformasi digital dapat dilakukan secara merata dan meluas ke setiap pelosok Indonesia. Tentu saja disertai transformasi digital dibidang infrastruktur agar proses transformasi digital dapat berjalan dengan baik.

Semua hal itu dapat terwujud bila semua pihak saling bekerja sama. Baik dari pemerintah seperti Kemdikbud, Kominfo, Wantiknas, masyarakat, siswa/mahasiswa, dan pihak swasta.

Transformasi digital sendiri sudah banyak diwujudkan oleh pemerintah, salah satunya melalui program DTXID yang dibuat oleh Wantiknas pada 2 sampai 4 Februari. Dengan adanya program tersebut, semoga akeselarasi transformasi digital bisa tumbuh dan merata ke seluruh daerah di Indonesia.

Referensi: CNBC Indonesia | Kompas | Waktiknas | DTXID | Pusdatin Kemdikbud