Tren Bahasa 'Anak Jaksel', Terkenal Sebagai Bilingual Kekinian
Teenagers || Foto: Unsplash/Simon Maage

"Kayaknya gue butuh me time deh supaya mental health gue terjaga."

Pernahkah Goodmates mendengar seseorang memadukan dua bahasa dalam satu kalimat seperti di atas? Bagaimana pendapatmu? Nyaman terdengar atau justru membingungkan?

Mungkin kalimat di atas bisa jadi salah satu contoh di antara ribuan cuitan keluhan warganet yang ada di akun Twitter. Kita tahu jika millenial dan gen Z adalah generasi yang bergantung dan memanfaatkan media sosial yang ada.

Millenial dan Gen Z begitu erat dengan perkembangan teknologi digital dan gairah mereka pun begitu bergelora terhadap suatu perubahan. Di sisi lain, Millenial dan Gen Z juga begitu erat dengan sebuah inovasi karena mereka mempunyai nyali yang cukup untuk berani mencoba.

Dari inovasi-inovasi yang ada, tentu dapat menggantikan sistem lama atau sistem terdahulu dengan cara-cara baru. Bahasa Inggris sebagai bahasa asing mempunyai posisi yang sangat strategis di era globalisasi seperti saat ini.

Peran bahasa Inggris menjadi sangat penting untuk dapat beradaptasi dan mengikuti arus perkembangan global yang semakin maju. Tentunya, sebagai millenial dan generasi Z, Goodmates tertuntut untuk mampu berbahasa Inggris agar dapat mengikuti perkembangan zaman.

Baca juga: Kampus Merdeka, Harapan Baru Transformasi Digital dalam Pendidikan

Sudah banyak dari remaja sekarang yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris cukup bagus. Semakin modern, perkembangan semakin pesat. Namun, tidak semua perkembangan bahasa ini membuahkan hasil yang maksimal.

Perkembangan bahasa tidak hanya terlepas dari sebuah fenomena yang terjadi di dalam masyarakat sekitar. Setiap harinya, kita terlibat dengan budaya dan tren yang baru. Seperti film, lagu, dan buku dari berbagai macam latar budaya yang kita serap.

Kita juga bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda dan setiap dari mereka membawa referensi yang berbeda pula. Tentu saja, hal ini membuat setiap regional memiliki ciri khasnya masing-masing, begitupun dengan cara masyarakatnya dalam berbahasa.

Setiap hari, kata gaul dalam bahasa terus bertambah. Kita tidak pernah benar-benar tahu siapa sebenarnya yang pertama kali mulai menggunakan kata-kata tersebut. Namun, seketika banyak orang yang sudah memakai, terlebih mereka di media sosial.

Akhir-akhir ini ada satu fenomena bahasa yang sempat marak jadi bahan perbincangan, yakni fenomena bahasa 'Anak Jaksel' (Jakarta Selatan). Lalu, seperti apa budaya bahasa anak Jaksel?

Baca juga: Fakta Menarik Moon Knight, Serial Marvel yang Rilis 30 Maret 2022

Melihat Fenomena Bahasa 'Anak Jaksel'

Foto: Unsplash/ Emmanuel Olguín
Ilustrasi anak jaksel | Foto: Unsplash/Emmanuel Olguín

Bahasa 'Anak Jaksel' adalah istilah yang terbentuk karena gaya berkomunikasi anak muda di Jakarta Selatan, dengan menggabungkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam satu kalimat. Menurut Ivan Lanin, seorang Wikipediawan Bahasa Indonesia, gejala berdialek ala anak Jaksel ini sudah lama muncul di kalangan remaja.

Ada beberapa faktor yang menurutnya bisa menyebabkan terjadinya bahasa gado-gado. Misalnya saja ketidakmampuan dalam menyusun kalimat, bingung dalam pemilihan kosakata, ketidakteraturan dalam berpikir, hingga perasaan kagum terhadap hal-hal yang asing.

Maka, dengan pencampuran bahasa mereka terkesan berusaha menunjukkan tingkat intelektualitas yang lebih tinggi. Mengutip dari narabahasa, ada tiga kebiasaan yang dapat menjadi ciri bahasa Jaksel.

1. Campur Alih Kode

Menurut Kushartanti selaku dosen di Universitas Indonesia mengatakan bahwa lingkungan dan pembangunan daerah Jakarta Selatan itu sebagian besar terhuni oleh masyarakat tingkat menengah ke atas.

Maka, bahasa campur dan alih kode atau bahasa gado-gado merupakan kebiasaan yang sering mereka terapkan. Hal itu menjadi faktor utama dalam fenomena bahasa campuran. Contoh percampuran bahasa yang sering kita jumpai, seperti which isby the way, dan in the end.

Baca juga: Membangun Manusia Aktual Melalui Transformasi Digital

2. Akronimisasi

Kebiasaan dari bahasa 'anak Jaksel' selanjutnya adalah pembentukan akronim. Penggunaan akronim ini sering kita jumpai ketika kita saling berkomunikasi, terlebih bagi mereka yang sudah akrab atau saling mengenal. Contohnya kata mantul (mantap betul), baper (bawa perasaan), mager (malas gerak), dan lain-lain.

3. Bahasa Terbalik

Terakhir adalah kata yang terucapkan lewat huruf yang terbalik. Dalam metatesis bahasa, yaitu perubahan letak huruf, bunyi, atau suku kata dalam kata. Hal ini juga sering terjadi pada anak Jakarta Selatan. Contoh dari metatesis bahasa yang sering terjadi antara lain kuy (yuk), kane (enak), dan sabeb (bebas).

Jadi, bahasa Jaksel merupakan sebuah tren yang terjadi dalam konteks ragam lisan secara nonformal. Dari waktu ke waktu, anak muda selalu punya caranya sendiri untuk menciptakan bahasanya sendiri.

Bahasa selalu berubah-ubah dan kata-kata baru selalu bertambah. Apalagi sekarang sudah ada internet, yang bisa membantu kita dalam menciptakan kata dan singkatan baru agar lebih asik berkomunikasi lewat chat.

Namun, penerapan bahasa campuran itu dapat membuat pesan akan sulit tersampaikan. Tidak semua orang dapat memahami bahasa tersebut. Selain itu, hal tersebut juga bisa membuat menurunnya keterampilan sesorang dalam berbahasa formal.

Tentu dengan adanya perubahan sosial, hal itu berpengaruh pada gaya bahasa suatu lingkungan, salah satunya tren bahasa anak Jaksel.