Bingung Weekend Mau Kemana? Coba Walking Tour Aja!
Walking Tour | Unsplash

Hai, GoodMates! Siapa yang suka walking tour?

Walking tour adalah sebuah perjalanan tour yang ditempuh dengan berjalan kaki. Saat ini mulai banyak komunitas yang sering mengadakan kegiatan walking tour ini, seperti @jktgoodguide, @bersukariawalk, dan lainnya.

Namun sebenarnya bisa loh kalau GoodMates mau lakukan perjalanan ini bersama teman, sahabat ataupun pasangan. Kamu bisa merencanakan sendiri. Dari mulai mencari rute jalannya, menentukan tempat mana saja yang akan didatangi, hanya dengan mengikuti maps. Salah satu walking tour yang bisa kamu coba adalah menjelajahi kawasan Menteng.

Menteng adalah salah satu kawasan bersejarah yang ada di Indonesia. Daerah Menteng menjadi kawasan penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Banyak gedung yang dipakai dalam proses perundingan ataupun berbisnis, masjid yang dulunya adalah kantor Belanda, dan lain sebagainya.

Kemana aja sih rutenya kalau walking tour ke Menteng?

Rute awal untuk Menteng Walking Tour ini adalah Stasiun Gondangdia. Kemudian kamu bisa memulai perjalanan dengan berjalan kaki menjelajahi kawasan Menteng yang menjadi kawasan bersejarah bagi Indonesia.

  1. Museum Djoang 45

Dari stasiun gondangdia, kamu harus berjalan kearah kiri untuk mengunjungi Museum Djoang 45. Museum Djoang 45 adalah museum dengan saksi biksu kebangkitan dan perjuangan rakyat Indonesia, juga sebagai tempat pembelajaran dan penyimpanan barang-barang bersejarah para Pahlawan Nasional.

  1. Masjid Cut Meutia

Selanjutnya adalah ke Masjid Cut Meutia. Loh kok ke Masjid sih? Iya, karena Masjid Cut Meutia ini punya sejarah penting. Dulunya Masjid Cut Meutia adalah kantor N.V de Bouwploeg atau kantor perusahaan real estate pertama di Hindia Belanda. Gedung ini pernah juga menjadi Markas Besar Angkatan Laut Jepang pada masa Perang Dunia II, hingga akhirnya pada tahun 1987, gedung ini diresmikan sebagai masjid sekaligus cagar budaya.

  1. Tugu Kunstkring Paleis

Dari Masjid Cut Meutia, kamu harus menyebrang ke arah Tugu Kunstkring Paleis. Saat ini Tugu Kunstkring Paleis adalah sebuah restoran dan galeri seni. Dulunya adalah Fine Arts Circle of the Dutch East Indies, atau singkatnya adalah galeri seni rupa di zaman Hindia - Belanda. Berdasarkan sejarah yang tercatat, tempat ini pernah beralih fungsi, seperti menjadi kantor pusat Madjlis Islam Alaa Indonesia (1942-1945) hingga Kantor Imigrasi Jakarta Pusat (1950-1997).

  1. Museum Sasmitaloka Jenderal Besar Dr. A. H. Nasution

Dari Tugu Kunstkring Paleis, jika kamu berjalan sedikit kedepannya, kamu akan menemukan salah satu museum pahlawan nasional, yaitu Jenderal Besar Dr. A. H. Nasution. Di museum ini terdapat berbagai cerita peran dan bagaimana perjuangan A.H Nasution dalam mempertahankan Indonesia pada saat itu.

  1. Taman Suropati

Selanjutnya, kamu bisa ke Taman Suropati. Taman Suropati adalah salah satu taman yang ada di Jakarta yang sudah ada sejak 1920. Nama Suropati sendiri berasal dari nama walikota pertama Batavia, yaitu Untung Suropati.

  1. Taman Patung Diponegoro

Didepan Taman Suropati, terdapat taman dengan sebuah patung kuda yang dikenal dengan nama Patung Diponegoro. Patung Diponegoro ini melambangkan seorang pemuda dengan semangat berkobar.

  1. GPIB Paulus Jakarta

Tidak jauh dari Taman Suropati, ada sebuah gereja yang sudah berdiri sejak 1936. Arsitektur bangunannya pun masih seperti bangunan lama, namun gereja ini terus dipertahankan dan dirawat dengan baik.

  1. Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Terakhir, disebelah gereja ada sebuah Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Museum ini menyimpan bukti-bukti sejarah perjuangan proklamasi Indonesia 1945. Beberapa barang-barang yang digunakan saat itu pun ada disini.

Nah itu dia rute perjalanan Menteng Walking Tour. Seru dan menyenangkan bukan? Berjalan kaki mengelilingi satu kawasan dengan melihat bangunan-bangunan sejarah dan mengetahui cerita dibaliknya menjadi salah satu hal yang bisa dikenang. Kalau GoodMates suka berjalan kaki, boleh banget dicoba konsepnya nih!

Atau ada rekomendasi lainnya kah harus walking tour kemana?

 

Referensi: Indonesia Kaya | Kompas