Skip to content
logo goodside final revisi 09 Goodside

Goodside.id adalah referensi utama Millennial & Gen Z di Indonesia tentang film, teknologi, gadget, musik, gaya hidup, kecantikan hingga travelling

logo goodside final revisi 09 Goodside

Goodside.id adalah referensi utama Millennial & Gen Z di Indonesia tentang film, teknologi, gadget, musik, gaya hidup, kecantikan hingga travelling

  • Home
  • Anime & Manga
  • Film
  • Gadget
  • Game
  • Music
  • Home
  • Anime & Manga
  • Film
  • Gadget
  • Game
  • Music
Close

Search

Article

Mengapa 1990—2000an Dianggap Masa Puncak Musik?

By Falah Malaika Az Zahra
14 November 2025 3 Min Read
0
Updated on 15 November 2025

Banyak orang sering mengeluhkan kualitas musik masa kini dan berpendapat bahwa tahun 1990-an hingga awal 2000-an adalah era terbaik. Tidak hanya dari satu atau dua orang, keluhan ini cukup umum hingga membuat kita penasaran apakah klaim tersebut benar-benar akurat. Benarkah dua dekade itu merupakan masa-masa terakhir sebelum musik menjadi menjemukan? Atau justru ini hanya ilusi belaka? Mari kita telisik lebih dalam.

Keragaman Genre dan Ketidakterdugaan Tren

Tidak bisa dimungkiri bahwa tahun 1990—2000-an adalah era yang penuh keberagaman. Berbagai genre baru muncul pada masa itu, termasuk grunge dan electronic dance music (EDM). Dua genre ini begitu populer hingga menciptakan subkultur baru di kalangan anak muda. Pada masa itu juga, banyak musisi yang tidak ragu melakukan praktik genre bending, yaitu memadukan beberapa genre sekaligus. Contohnya seperti Gorillaz, Linkin Park, The Red Hot Chili Peppers, sampai Crazy Town dan boy group Five.

Pada era tersebut, muncul pula berbagai grup musik dan solois pop yang mengubah industri musik selamanya. Nama-nama seperti Britney Spears, Mariah Carey, Backstreet Boys, NSYNC’, Sugababes, Westlife, dan Spice Girls menjadi ikon yang tak terlupakan. Skena hip hop dan rap juga berkembang pesat dengan kemunculan sosok-sosok ikonik seperti Tupac Shakur, Missy Elliot, 50 Cent, dan Eminem. Musisi-musisi dari era 90-an ini layak disebut sebagai trendsetter karena memperkenalkan sesuatu yang benar-benar baru dan segar, berbeda jauh dengan musik dari tahun 1960—1980-an.

Kita Tidak Menghargai Musik Layaknya Masa Lalu



Pada masa itu, kita tidak memiliki banyak pilihan untuk memilih lagu. Tren musik berkembang melalui televisi dan radio sebagai distributor utama. Keterbatasan opsi ini, baik sadar maupun tidak, membuat kita lebih menghargai musik. Di sinilah faktor psikologis ikut berperan. Pada era itu, kita tidak bisa mengandalkan internet untuk mendengar lagu favorit. Untuk mengaksesnya, kamu harus membeli rilisan fisik seperti kaset, CD, atau vinil, atau mengajukan permintaan ke stasiun radio agar diputar.

Singkatnya, kamu perlu usaha lebih besar untuk bisa mengakses musik kesukaan, dan hal ini membuat mendengarkan musik pada masa itu terasa spesial serta memiliki kesan berbeda. Sejak disrupsi digital, musik mengalami perubahan posisi. Ia lebih sering didengar sebagai hiburan sampingan belaka. Musik kini sering didengar sambil mengerjakan hal lain seperti bekerja, belajar, atau mengemudi.

Meskipun musik masih ada di mana-mana, kita tidak lagi menganggapnya sebagai hiburan primer. Kita lebih suka mendengarnya sebagai pengiring video pendek di media sosial yang lebih menarik. Padahal, dahulu setelah membeli kaset atau CD album musisi favorit, orang akan meluangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan lagu-lagu itu tanpa distraksi.

Efek Nostalgia dan Kecenderungan Mengingat Musik Terbaik Saja



Faktor psikologis lain yang sering dibahas adalah efek nostalgia. Menurut riset yang dihimpun Sedikides, dkk dalam jurnal Psychology of Music berjudul ‘The psychological benefits of music-evoked nostalgia’, orang memiliki kecenderungan untuk mengingat dan lebih menyukai lagu-lagu yang populer saat mereka remaja. Sekarang coba kita telaah lebih jauh, siapa sebenarnya pelaku romantisasi musik 90—2000-an. Bisa jadi mereka adalah generasi milenial yang sedang beranjak remaja pada dua dekade itu.

Jika kita bertanya pada generasi yang lebih tua, mungkin era emas musik bagi mereka adalah dekade 1980-an. Ini menunjukkan subjektivitas yang bisa diperdebatkan. Kita juga bisa saja terjebak dalam mengingat lagu-lagu terbaik dari era itu dan melupakan fakta bahwa ada beberapa lagu yang gagal atau flopped. Sementara, sekarang kita mendengar semua lagu kekinian tanpa filter dan terburu-buru melakukan generalisasi.

Bagaimana menurut pendapat pribadimu? Apakah kamu salah satu yang percaya kalau era 1990—2000-an adalah dekade terbaik untuk sektor musik?

Author

Falah Malaika Az Zahra

Reporter Spesialis Pop Kultur & Ekosistem Digital. Berbekal latar belakang ilmu jurnalistik, Falah fokus mengawal perkembangan industri kreatif mulai dari dinamika sinema, musik, komunitas anime, hingga tren gadget penunjang produktivitas. Laporannya tidak hanya informatif, tetapi juga menangkap esensi dan energi kultur modern, menjadikannya rujukan yang tepercaya sekaligus menghibur bagi Gen Z dan Millenial.

Follow Me
Other Articles
Previous

5 Pouch EIGER Praktis dan Stylish untuk Aktivitas Harian

Next

Summer Sound Bali: Havaianas Nyalakan Pantai Kuta dengan Festival Musik

No Comment! Be the first one.

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    • pexels photo 12028608
      50 Link Poster Tahun Baru Islam 1448 H, Gratis dan Tinggal Pakai
      oleh Falah Malaika Az Zahra
      22 Juni 2026
    • pexels photo 11242963 1
      9 Pemain The Glory, Serial Netflix yang Wajib Ditonton
      oleh Falah Malaika Az Zahra
      22 Juni 2026
    • pexels photo 37421861
      Update Harga HP Samsung 17 Juni 2026: Mulai Rp1 Jutaan, Stok Stabil
      oleh Falah Malaika Az Zahra
      22 Juni 2026
    • pexels photo 37794477
      Warisan Abadi Ade Paloh
      oleh Falah Malaika Az Zahra
      22 Juni 2026
    • pexels photo 8816147
      Kapolri: Penempatan Polisi di Jabatan Sipil Wajib Open Bidding
      oleh Falah Malaika Az Zahra
      22 Juni 2026

    You May Have Missed

    pexels photo 12028608
    Trending

    50 Link Poster Tahun Baru Islam 1448 H, Gratis dan Tinggal Pakai

    Falah Malaika Az Zahra
    By Falah Malaika Az Zahra
    22 Juni 2026
    pexels photo 11242963 1
    Article Film

    9 Pemain The Glory, Serial Netflix yang Wajib Ditonton

    Falah Malaika Az Zahra
    By Falah Malaika Az Zahra
    22 Juni 2026
    pexels photo 37421861
    Gadget Trending

    Update Harga HP Samsung 17 Juni 2026: Mulai Rp1 Jutaan, Stok Stabil

    Falah Malaika Az Zahra
    By Falah Malaika Az Zahra
    22 Juni 2026
    pexels photo 37794477
    Article Music Public Figure

    Warisan Abadi Ade Paloh

    Falah Malaika Az Zahra
    By Falah Malaika Az Zahra
    22 Juni 2026
    pexels photo 8816147
    News Public Figure

    Kapolri: Penempatan Polisi di Jabatan Sipil Wajib Open Bidding

    Falah Malaika Az Zahra
    By Falah Malaika Az Zahra
    22 Juni 2026
    pexels photo 35300031 1
    Gadget Trending

    Tablet Infinix Murah dengan Slot SIM Card: XPAD 30E dan XPAD 20 Mulai Rp2 Jutaan

    Falah Malaika Az Zahra
    By Falah Malaika Az Zahra
    22 Juni 2026
    pexels photo 30674515
    Music Trending

    Saluran Musik MTV Akan Dimatikan di Eropa pada Akhir 2025

    Falah Malaika Az Zahra
    By Falah Malaika Az Zahra
    22 Juni 2026
    pexels photo 33693824
    Gadget Trending

    13 HP Baterai Jumbo 6.000-9.000 mAh Edisi Mei 2026, Harga Mulai Rp 1 Juta

    Falah Malaika Az Zahra
    By Falah Malaika Az Zahra
    22 Juni 2026
    pexels photo 32021560
    Gadget Trending

    Daftar iPhone yang Kompatibel dengan Apple Intelligence dan Siri AI

    Falah Malaika Az Zahra
    By Falah Malaika Az Zahra
    22 Juni 2026

    Kategori

    • Home
    • Anime & Manga
    • Film
    • Gadget
    • Game
    • Music

    Format

    • Article
    • News
    • Trending
    • Infographic
    • Video

    Link Penting

    • Tentang Goodside
    • Kebijakan Privasi
    • Kebijakan Cookie
    • Pedoman Media Siber
    Copyright 2026 — Goodside. All rights reserved.