Sinopsis Film Sengkolo Petaka Satu Suro: Teror Mistis Pemandi Jenazah di Malam Keramat

goodside
4 Min Read

Industri perfilman horor Indonesia kembali mengangkat kearifan lokal yang mencekam melalui karya terbaru produksi MVP Pictures. Menjadi salah satu film yang paling banyak dibicarakan, sinopsis film Sengkolo Petaka Satu Suro menawarkan perpaduan antara drama psikologis dan horor supranatural yang berakar kuat pada tradisi Jawa. Film ini disutradarai oleh sutradara bertangan dingin, Hanny R. Saputra, yang mencoba menggali sisi gelap dari mitos kesialan di malam paling keramat dalam kalender Jawa.

Tragedi Berdarah Sang Pemandi Jenazah

Inti dari sinopsis film Sengkolo Petaka Satu Suro berpusat pada karakter Ibrahim (diperankan oleh Donny Alamsyah), seorang pemandi jenazah yang dikenal telaten dan religius. Namun, kehidupan Ibrahim berubah drastis menjadi kelam setelah sebuah tragedi mengerikan merenggut nyawa seluruh keluarganya secara misterius. Kehilangan yang begitu mendalam membuat Ibrahim kehilangan arah dan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai pemandi jenazah. Ia merasa dikhianati oleh iman yang selama ini ia pegang teguh.

Ketegangan mulai memuncak ketika sebuah keluarga kaya raya di desa tersebut mengalami kematian yang tidak wajar. Warga setempat meyakini bahwa keluarga tersebut terkena kutukan Sengkolo—sebuah entitas negatif atau kesialan yang kerap muncul pada malam Satu Suro. Karena tidak ada pemandi jenazah lain yang berani menangani jasad tersebut, Ibrahim terpaksa kembali memegang kain kafan. Namun, keputusan itu justru membawanya ke dalam pusaran teror mistis yang jauh lebih besar dari sekadar kematian biasa.

Mengangkat Mitos Sengkolo dan Tradisi Jawa

Secara semantik, istilah “Sengkolo” merujuk pada nasib buruk atau energi negatif yang menyelimuti seseorang. Dalam film ini, Sengkolo digambarkan bukan hanya sebagai mitos, melainkan kekuatan jahat yang nyata yang mencari mangsa saat pergantian tahun Jawa. Ibrahim harus berhadapan dengan rahasia gelap di balik keluarga yang ia urus jenazahnya, sembari berjuang melawan gejolak batin dan traumanya sendiri.

Visualisasi yang dihadirkan Hanny R. Saputra sangat kental dengan atmosfer pedesaan yang sunyi dan mencekam. Penggunaan pencahayaan yang minim dan desain suara yang detail berhasil membangun ketegangan secara perlahan (slow-burn horror), sebelum akhirnya meledak pada babak ketiga film.

Dukungan Pemeran dan Produksi Berkualitas

Selain performa gemilang dari Donny Alamsyah yang mampu menampilkan kerapuhan seorang ayah sekaligus keberanian seorang pria yang kehilangan harapan, film ini juga didukung oleh jajaran aktor berbakat lainnya. Nuke Budiarto, Fauzan Nasrul, dan Anantya Kirana memberikan dimensi emosional yang kuat, menjadikan film ini tidak sekadar mengandalkan jumpscare murahan.

MVP Pictures selaku rumah produksi memastikan bahwa aspek teknis, mulai dari tata rias efek khusus hingga sinematografi, mendukung narasi horor religi yang diusung. Film ini tidak hanya menjual ketakutan, tetapi juga memberikan pesan moral tentang keikhlasan, penebusan dosa, dan pentingnya menjaga iman di tengah ujian hidup yang paling berat.

Sebagai artikel pilar, pembahasan mengenai film ini akan bercabang pada topik-topik menarik lainnya, mulai dari sejarah mitos Satu Suro di masyarakat Jawa hingga tren film horor bertema “pemandi jenazah” yang sedang marak di sinema tanah air. Bagi para pencinta genre horor yang mencari kedalaman cerita dan keterkaitan budaya, Sengkolo Petaka Satu Suro adalah tontonan yang wajib masuk dalam daftar putar.

Share This Article
Leave a Comment