Mengenal Mitos Sengkolo dalam Tradisi Malam Satu Suro: Ritual Tolak Bala dan Makna Filosofisnya

goodside
4 Min Read

Di balik kemeriahan peringatan tahun baru Jawa, terdapat sisi mistis yang tetap dijaga oleh masyarakat, yakni upaya mengenal mitos Sengkolo dalam tradisi Malam Satu Suro. Bagi masyarakat Jawa, malam pergantian tahun bukan sekadar perayaan, melainkan momen krusial untuk melakukan laku prihatin guna menghindari “Sengkolo” atau energi negatif yang dipercaya mencapai puncaknya pada malam keramat tersebut. Mitos ini kembali menjadi perbincangan hangat seiring dengan diangkatnya tema tersebut ke dalam layar lebar nasional.

Apa Itu Sengkolo?

Secara etimologi dan kepercayaan tradisional, Sengkolo merujuk pada nasib buruk, kesialan, atau malapetaka yang menyelimuti seseorang akibat pengaruh gaib maupun kesalahan kosmis. Dalam pandangan kosmologi Jawa, Sengkolo dianggap sebagai penghalang rezeki, jodoh, hingga kesehatan. Kehadirannya sering kali dikaitkan dengan waktu-waktu transisi (titi wanci), di mana batas antara dunia nyata dan dunia gaib dianggap menipis, salah satunya adalah saat malam Satu Suro.

Mengenal mitos Sengkolo dalam tradisi Malam Satu Suro berarti memahami bahwa setiap manusia membawa beban energi yang perlu dibersihkan secara berkala. Masyarakat meyakini bahwa mereka yang lahir pada weton tertentu atau mereka yang sedang berada dalam kondisi batin yang lemah, sangat rentan terhadap serangan Sengkolo pada malam tersebut. Oleh karena itu, berbagai ritual “Tolak Bala” dilakukan secara turun-temurun untuk menetralisir ancaman ini.

Ritual Ruwatan sebagai Solusi Tolak Bala

Salah satu cara paling utama untuk membuang Sengkolo adalah melalui prosesi Ruwatan. Ritual ini bertujuan untuk membebaskan seseorang dari kutukan atau nasib buruk. Pada malam Satu Suro, Ruwatan sering kali dilakukan secara massal di tempat-tempat keramat seperti keraton atau lereng gunung. Bentuknya beragam, mulai dari pagelaran wayang kulit dengan lakon khusus “Murwakala” hingga ritual potong rambut yang kemudian dilarung ke laut atau sungai.

Selain Ruwatan, masyarakat juga mempraktikkan Tapa Bisu (berdiam diri tanpa bicara) dan Laku Tirakat. Di Yogyakarta dan Solo, ritual Kirab Pusaka menjadi simbol pembersihan diri secara kolektif. Dengan mengelilingi benteng keraton tanpa bersuara, peserta kirab diajak untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah) agar terhindar dari marabahaya Sengkolo di tahun yang baru.

Perspektif Budaya di Era Modern

Meskipun zaman telah berganti menuju era digital, esensi dari upaya mengenal mitos Sengkolo dalam tradisi Malam Satu Suro tetap relevan sebagai bentuk kearifan lokal. Para budayawan menilai bahwa Sengkolo sebenarnya adalah representasi dari sifat-sifat buruk manusia seperti iri, dengki, dan sombong yang harus “dibuang” agar hidup menjadi lebih harmonis.

Dalam industri kreatif, mitos ini menjadi sumber inspirasi yang tak habis-habisnya, seperti yang terlihat pada film Sengkolo Petaka Satu Suro. Film tersebut memvisualisasikan ketakutan kolektif masyarakat terhadap energi negatif ini, sekaligus mengingatkan audiens tentang pentingnya menjaga spiritualitas. Keberhasilan film horor berbasis tradisi ini membuktikan bahwa minat publik untuk menggali lebih dalam tentang mitos-mitos Jawa masih sangat tinggi.

Sebagai penutup, memahami Sengkolo bukan bertujuan untuk menyebarkan ketakutan, melainkan untuk mengajak individu lebih waspada dan bijak dalam bertindak. Dengan melakukan ritual tolak bala, baik secara simbolis maupun spiritual, masyarakat berharap dapat melangkah ke tahun baru dengan jiwa yang bersih dan terlindungi dari segala bentuk malapetaka.

Share This Article
Leave a Comment