Menjelang peluncuran resminya di Indonesia pada 4 Februari 2026, POCO F8 Series terus menjadi buah bibir di kalangan pencinta gadget. Meski hadir dengan spesifikasi “buas” seperti chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan baterai raksasa 6500mAh, perangkat ini tidak luput dari kritik. Sejumlah catatan mengenai kelemahan Poco F8 mulai bermunculan, mulai dari hilangnya aksesori krusial dalam paket penjualan hingga isu stabilitas pada sistem operasi terbarunya, HyperOS 3.
Hilangnya Kepala Charger dan Harga yang Melambung
Kelemahan Poco F8 yang paling mencolok dan menjadi perbincangan hangat adalah kebijakan baru POCO yang meniadakan kepala charger dalam kotak penjualan. Pengguna kini harus merogoh kocek tambahan sekitar Rp250.000 hingga Rp350.000 untuk membeli adaptor pengisi daya 100W resmi agar bisa menikmati fitur HyperCharge secara maksimal.
Langkah ini dianggap kontradiktif dengan citra POCO sebagai brand “perusak harga”. Apalagi, harga jual Poco F8 series di tahun 2026 ini tercatat mengalami kenaikan signifikan dibandingkan generasi sebelumnya, memosisikan perangkat ini di zona harga true-flagship yang harus bersaing ketat dengan Samsung dan iPhone.
Isu Stabilitas HyperOS 3 dan “Iklan” yang Menetap
Dari sisi perangkat lunak, penggunaan HyperOS 3 berbasis Android 16 ternyata membawa tantangan tersendiri. Beberapa laporan dari pengguna di pasar global menyebutkan adanya bug pada manajemen memori dan isu ghost touch pada varian Pro. Selain itu, kebijakan Xiaomi untuk tetap menyisipkan rekomendasi aplikasi (iklan) di dalam sistem operasi masih menjadi keluhan klasik yang belum tuntas.
Bagi pengguna yang gemar melakukan modifikasi sistem atau menggunakan ROM global tidak resmi, HyperOS 3 juga dilaporkan memiliki sistem keamanan wilayah yang lebih ketat. Hal ini berisiko menyebabkan perangkat mengalami bootloop jika dipaksakan melakukan update pada unit dengan ROM yang tidak sesuai region asalnya.
Ergonomi: Besar, Berat, dan Material Plastik
Secara fisik, Poco F8 dan F8 Ultra adalah perangkat yang masif. Dengan layar mencapai 6,9 inci dan bobot sekitar 220 gram, ponsel ini mungkin akan terasa melelahkan bagi pengguna dengan tangan kecil atau mereka yang terbiasa dengan desain compact.
Meski frame samping sudah menggunakan material metal, penggunaan panel belakang berbahan fiber-reinforced plastic pada model standar dinilai kurang memberikan kesan mewah untuk ponsel di kelas harga tersebut. Distribusi bobot yang condong ke arah modul kamera juga membuat perangkat ini terasa kurang seimbang saat digenggam dengan satu tangan.
Kesimpulan untuk Calon Pembeli
Secara keseluruhan, kelemahan Poco F8 bukanlah pada performa mentahnya yang memang tak tertandingi di kelasnya. Kekurangannya lebih terletak pada pergeseran filosofi brand yang mulai meninggalkan kelengkapan aksesori dan kenaikan harga yang progresif. Bagi Anda yang mengutamakan kecepatan untuk gaming berat, kekurangan ini mungkin bisa dimaklumi. Namun, bagi pengguna kasual, hilangnya charger dan potensi bug pada software awal perlu menjadi pertimbangan serius sebelum melakukan pre-order pada 4 Februari mendatang.
Apakah Anda berencana meminang Poco F8 meskipun tanpa charger di dalam kotak? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar!
Informasi Lebih Lanjut:
- Rilis Indonesia: 4 Februari 2026.
- Chipset: Snapdragon 8 Elite Gen 5.
- Estimasi Harga: Mulai dari Rp8,5 Juta – Rp12 Juta (Varian Ultra).
