Perjalanan Farras Nurrana Bakhtiar, atau yang lebih akrab disapa Aruna, di panggung Indonesian Idol Season 14 resmi terhenti pada babak Spektakuler Show 3 (Top 13), Senin (16/2/2026). Sebagai kontestan termuda yang baru menginjak usia 16 tahun, kepulangan Aruna mengejutkan banyak pihak mengingat karakter vokal uniknya yang sulit dicari tandingan dalam kompetisi musim ini.
Aruna tereliminasi setelah menempati posisi tiga terbawah (bottom three) bersama Ozi Alfauz dan Keiko Regine. Meskipun tampil memukau membawakan lagu “Satu-Satu” milik Idgitaf di panggung Spekta 3, hasil voting pemirsa menempatkan gadis asal Semarang ini di urutan terendah. Kepergiannya meninggalkan kesan mendalam bagi juri, terutama Bunga Citra Lestari (BCL) yang sejak awal mengagumi aura bintang dan warna suara “gemas” milik Aruna.
Latar Belakang dan Pendidikan
Lahir dan besar di Semarang, Jawa Tengah, Aruna merupakan siswi kelas XI di SMA Negeri 1 Semarang. Bakat seninya bukan muncul secara instan; ia telah mengasah kemampuan vokal sejak usia dini. Sebelum dikenal secara nasional melalui layar RCTI, Aruna adalah pilar penting dalam dunia paduan suara. Ia tercatat sebagai anggota aktif SMEPSA Choir dan Chorale SMANSA Semarang, di mana ia berhasil membawa pulang berbagai medali emas dan perak dari festival paduan suara internasional.
Darah seni dan kedisiplinan Aruna terlihat dari kemampuannya menguasai teknik vokal yang rumit. Salah satu senjata utamanya yang sering dipuji dewan juri adalah teknik Yodel—sebuah teknik menyanyi dengan perubahan nada yang cepat dari suara dada ke suara kepala. Teknik ini menjadi ciri khas yang membuatnya dijuluki sebagai “anomali menyegarkan” di tengah dominasi penyanyi beraliran pop-balada.
Inspirasi dan Identitas Musikal
Ketertarikan Aruna pada dunia performance ternyata berakar dari kekagumannya terhadap grup idola asal Jepang, AKB48, sejak ia berusia tiga tahun. Pengaruh budaya idol Jepang ini terlihat dari cara Aruna membawakan diri di atas panggung: ceria, komunikatif, dan penuh energi positif. Hal inilah yang membuatnya sangat populer di kalangan audiens Gen Z.
Selama berkompetisi, Aruna telah memberikan beberapa penampilan ikonik. Mulai dari lagu “Akad” (Payung Teduh) di babak Showcase yang ia bawakan dengan aransemen ceria, hingga lagu “Gala Bunga Matahari” (Sal Priadi) di babak Spekta 2 yang sempat membuat Maia Estianty terkesima meski memberikan catatan pada kontrol tempo.
Langkah Setelah Indonesian Idol
Meski langkahnya terhenti di babak Top 13, para pengamat musik memprediksi karier Aruna akan tetap bersinar di luar kompetisi. Dengan basis penggemar yang kuat dan identitas visual serta vokal yang sangat matang untuk remaja seusianya, Aruna memiliki modal besar untuk masuk ke industri rekaman profesional.
Kepulangan Aruna di babak Spekta 3 ini sekaligus menyaring kontestan Indonesian Idol 2026 menjadi 12 besar (Top 12) yang akan terus bersaing memperebutkan gelar juara pada pekan depan. Bagi para penggemar, sosok Aruna akan selalu diingat sebagai kontestan yang berani menjadi diri sendiri dan membawa teknik musik klasik ke panggung populer modern.
