Fakta di Balik Hantu Kepala Terbang Kalimantan yang Menginspirasi Film Kuyank

goodside
4 Min Read

Menjelang perilisan film horor Kuyank pada akhir Januari 2026, perbincangan mengenai sosok hantu kepala terbang kembali mencuat di media sosial. Bagi masyarakat luar Kalimantan, sosok ini mungkin tampak seperti kreasi CGI yang berlebihan, namun bagi penduduk lokal, mengenal mitos Kuyang: fakta di balik hantu kepala terbang Kalimantan adalah bagian dari memori kolektif dan sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun.

Kuyang bukanlah hantu dalam pengertian roh orang mati, melainkan perwujudan dari manusia yang sedang mempraktikkan ilmu hitam demi memperoleh kecantikan abadi atau kekayaan. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Dayak dan Banjar, sosok ini adalah seorang wanita yang pada siang hari tampak normal dan bersosialisasi seperti biasa. Namun, saat malam tiba, ia akan melepaskan kepalanya dari bagian leher untuk terbang mencari darah, meninggalkan tubuhnya yang tanpa kepala tersembunyi di dalam rumah.

Fakta paling mencekam dari mitos ini adalah target utamanya: darah wanita yang baru melahirkan atau janin yang masih dalam kandungan. Dalam mengenal mitos Kuyang: fakta di balik hantu kepala terbang Kalimantan, diketahui bahwa makhluk ini sangat sensitif terhadap bau amis darah persalinan. Oleh karena itu, dalam tradisi masyarakat pedalaman Kalimantan, terdapat berbagai protokol perlindungan bagi ibu hamil, mulai dari meletakkan benda tajam seperti parang, hingga menanam tanaman berduri di bawah rumah panggung untuk menghalau organ dalam Kuyang yang menjuntai agar tidak tersangkut.

Secara visual, Kuyang identik dengan organ dalam yang menggantung di bawah kepala—seperti jantung, paru-paru, dan usus—yang mengeluarkan cahaya kemerahan saat terbang di kegelapan malam. Cahaya ini sering kali disalahpahami oleh orang awam sebagai api atau fenomena alam biasa. Namun, bagi para praktisi ilmu hitam, “minyak kuyang” adalah elemen krusial yang digunakan untuk melumasi leher agar kepala dapat terlepas dengan mulus. Minyak inilah yang konon menjadi sumber kesaktian sekaligus kutukan bagi pemakainya.

Sutradara film Kuyank, Johansyah Jumberan, menegaskan bahwa riset mendalam terhadap mitos asli ini menjadi fondasi utama dalam produksinya. “Kami tidak ingin sekadar membuat monster yang menakutkan secara visual. Kami ingin penonton merasakan kengerian budaya, di mana ancaman itu bisa jadi adalah tetangga Anda sendiri yang tampak ramah di siang hari,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan narasi film yang mengeksplorasi sisi psikologis dari pelaku ilmu hitam tersebut.

Hingga saat ini, meskipun zaman telah berganti menuju era digital 2026, kepercayaan terhadap Kuyang tetap eksis di beberapa daerah terpencil di Borneo. Masyarakat masih sering melakukan ritual pembersihan desa jika terdengar kabar adanya penampakan cahaya merah di atas atap rumah warga yang sedang hamil. Perpaduan antara fakta sosiologis dan legenda mistis inilah yang membuat Kuyank menjadi salah satu entitas horor paling menarik dalam “Semesta Saranjana”.

Dengan mengenal mitos Kuyang: fakta di balik hantu kepala terbang Kalimantan, penonton diharapkan dapat menangkap esensi horor yang lebih dalam saat menyaksikan filmnya nanti. Film ini bukan hanya tentang teror visual, melainkan tentang pengingat akan sisi gelap ambisi manusia yang bersinggungan dengan kekuatan supranatural kuno yang masih bernafas di antara hutan-hutan Kalimantan.

TAGGED:
Share This Article
Leave a Comment