Film 28 Years Later: The Bone Temple Tentang Apa?

goodside
3 Min Read

Era baru horor pasca-apokaliptik telah tiba. Sony Pictures resmi merilis 28 Years Later: The Bone Temple di bioskop global pada pertengahan Januari 2026. Film ini merupakan babak kedua dari trilogi baru garapan sutradara Nia DaCosta dan penulis naskah Alex Garland, yang melanjutkan langsung peristiwa dari film 28 Years Later (2025).

Film 28 Years Later: The Bone Temple tentang apa? Secara garis besar, film ini mengisahkan perjalanan Spike (Alfie Williams), seorang remaja yang kini harus bertahan hidup di daratan Inggris yang hancur total 28 tahun setelah wabah Rage Virus. Fokus utama cerita bergeser pada pertemuan Spike dengan seorang dokter misterius bernama Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes) dan sebuah monumen mengerikan yang dikenal sebagai The Bone Temple atau Kuil Tulang.

Berbeda dengan film-film pendahulunya yang berfokus pada pelarian dari kejaran Infected, The Bone Temple menggali lebih dalam sisi sosiologis dan religius dari kehancuran peradaban. Dr. Kelson digambarkan sebagai ilmuwan yang terobsesi membangun monumen raksasa dari tulang belulang korban infeksi sebagai bentuk penghormatan bagi kemanusiaan yang telah hilang. Namun, ancaman sesungguhnya bukan lagi sekadar zombi yang berlari cepat, melainkan faksi manusia brutal yang dipimpin oleh sosok karismatik sekaligus psikopat, Sir Lord Jimmy Crystal (Jack O’Connell).

Dalam alur ceritanya, Spike terjebak di antara dua ideologi ekstrem: sains yang hampir gila milik Dr. Kelson dan kultus kekerasan milik Jimmy Crystal. Dr. Kelson sendiri melakukan eksperimen berisiko dengan seekor zombi “Alpha” bernama Samson, yang mulai menunjukkan tanda-tanda sisa memori manusia—sebuah terobosan semantik dalam narasi 28 Days Later yang menunjukkan evolusi virus tersebut.

Secara teknis, Nia DaCosta membawa estetika visual yang lebih puitis namun tetap brutal. Penggunaan kamera iPhone 15 Pro (seperti pada film pertamanya) memberikan tekstur mentah yang mencekam, terutama saat menggambarkan detail “Bone Temple” yang menjulang di tengah padang rumput Inggris yang sunyi. Ketegangan psikologis antara karakter Kelson dan Spike menjadi nyawa utama film ini, menanyakan apakah manusia bisa tetap menjadi “manusia” saat dikelilingi oleh kematian yang permanen.

Sebagai jurnalis film, saya melihat film ini berhasil mereformasi genre horor zombie menjadi drama eksistensial. Dengan durasi 109 menit, penonton tidak hanya disuguhi aksi kejar-kejaran, tetapi juga pertanyaan filosofis tentang memento mori (pengingat akan kematian) yang disimbolkan oleh kuil tulang tersebut.

Bagi Anda yang mengikuti waralaba ini sejak tahun 2002, 28 Years Later: The Bone Temple adalah jembatan krusial menuju konklusi trilogi yang dijadwalkan rilis tahun depan. Kehadiran aktor veteran seperti Ralph Fiennes memberikan bobot emosional yang membuat film ini layak disebut sebagai salah satu rilisan horor terbaik di awal 2026.

Share This Article
Leave a Comment