Film How the Grinch Stole Christmas yang dirilis pada tahun 2000, kini memperingati ulang tahun ke-25nya. Film ini merupakan adaptasi dari buku anak-anak karya Dr. Seuss yang diterbitkan pada tahun 1957 dan disutradarai oleh Ron Howard. Meskipun sukses besar di box office dengan pendapatan hingga 346 juta dolar AS (sekitar 5,7 triliun rupiah), pengalaman Jim Carrey dalam memerankan karakter Grinch ternyata penuh tantangan.
Transformasi yang Menyiksa
Jim Carrey mengungkapkan bahwa proses transformasi menjadi Grinch sangat melelahkan. Ia harus menggunakan riasan dan prostetik yang tebal, sehingga membuatnya kesulitan bernapas. “Ketika tiba saatnya mendesain Grinch agar terlihat seperti Grinch, mereka harus menempatkan ujung hidung saya di atas pangkal hidung Grinch,” jelas Carrey. Hal ini menyebabkan seluruh bagian wajah tertutup dan ia hanya bisa bernapas melalui mulut sepanjang pembuatan film.
Selain itu, kostum yang digunakan juga terbuat dari bulu yak yang sangat gatal. “Kostum itu terbuat dari bulu yak yang sangat gatal yang membuat saya gila sepanjang hari,” tambahnya. Jari-jarinya pun dibuat panjang hingga sepuluh inci, sehingga membuatnya tidak bisa menggaruk diri sendiri atau menyentuh wajah.
Masalah Kesehatan dan Kesulitan Berbicara
Carrey juga menghadapi tantangan lain, yaitu gigi yang harus ia atasi agar bisa berbicara. Selain itu, ia menggunakan lensa kontak penuh yang menutupi seluruh bola mata, sehingga hanya bisa melihat lubang kecil di depannya. “Saya hanya bisa melihat lubang kecil di depan saya,” ujarnya.
Produser film, Brian Grazer, mengungkapkan bahwa tim awalnya menawarkan Carrey opsi menggunakan efek khusus digital untuk mengubah matanya menjadi hijau. Namun, Carrey menolak karena ingin merasakan pengalaman nyata sebagai Grinch.
Pemimpin Tim yang Menyelamatkan Karakter
Sutradara Ron Howard mengungkapkan bahwa Carrey sempat mengalami serangan panik selama hari-hari awal syuting. “Saya melihatnya berbaring di lantai di antara pengambilan gambar dengan kantong kertas cokelat. Benar-benar di lantai. Dia sangat menderita,” kata Howard.
Carrey bahkan mengancam akan keluar dari film setelah hari pertama syuting yang mengharuskannya menghabiskan delapan jam di kursi rias. Howard mengungkapkan bahwa Carrey siap mengembalikan uang sebesar 20 juta dolar AS (sekitar 332 miliar rupiah) yang digunakan untuk meriasnya sebagai Grinch.
Solusi dari Seorang Pelatih Militer
Untuk mengatasi masalah ini, tim film mendatangkan Richard Marcinko, seorang pelatih militer yang pernah melatih para perwira CIA dan pasukan operasi khusus. “Richard Marcinko adalah seorang pria terhormat yang melatih para perwira CIA dan pasukan operasi khusus tentang cara menahan siksaan,” jelas Carrey.
Dari Richard, Carrey belajar cara bertahan dalam kesulitan fisik dan mental. “Dia memberi saya serangkaian hal yang bisa saya lakukan ketika saya mulai kehilangan kendali. Seperti meninju kaki saya sendiri sekeras mungkin. Makan apa pun yang ada di depan mati,” ujarnya.
Carrey juga mengaku harus memiliki tempat rokok panjang saat duduk di kursi sutradara. “Saya harus memiliki tempat rokok itu, karena bulu yak akan terbakar jika terlalu dekat,” lanjutnya.
Film yang Berhasil Meski dengan Tantangan
Meskipun penuh tantangan, film Dr. Seuss’ How the Grinch Stole Christmas berhasil menjadi salah satu film Natal yang paling ikonik. Dengan bintangan Jim Carrey yang berusaha keras untuk memerankan Grinch, film ini tetap menjadi kenangan bagi banyak penonton.
