Geliat Film Lokal Salatiga: Sinema Sisifus Bangkitkan Ruang Kreatif Generasi Muda

goodside
4 Min Read

Salatiga, kota kecil yang dikelilingi oleh kabut tipis dan angin malam yang sejuk, menjadi tempat yang sempurna untuk pertemuan antara para pencinta film lokal. Malam itu, suasana hening seketika ketika layar tancap mulai menembakkan cahaya, menandai pemutaran film dimulai. Penonton segera mengambil posisi terbaik untuk menyaksikan film pendek pilihan yang dipersiapkan oleh Klub Sinema Sisifus.

Klub Sinema Sisifus merupakan ruang pertemuan antara filmmaker lokal dan penontonnya untuk mendapatkan respons serta menghidupkan ekosistem film daerah. Komunitas ini mulai diinisiasi pada Desember 2018 oleh beberapa mahasiswa yang merasa ruang gerak di kampus terlalu terbatas, sehingga mereka menginisiasi pemutaran film-film karya anak Salatiga.

Gery Yunus, salah satu penggagas Klub Sinema Sisifus, menjelaskan bahwa geliat film pendek di Salatiga mengalami fase naik turun. Sepanjang 2018 hingga 2025, setidaknya terjadi pasang surut dalam ekosistem sinema di Salatiga. Paling terasa memang saat pandemi (2020–2022), bagaimana ruang gerak dalam pemutaran publik cukup terbatas, jumlah film sedikit, serta regenerasi yang tidak terjadi.

Meski begitu, Gery menilai bahwa ekosistem film Salatiga tidak pernah benar-benar mati. Ia menyatakan bahwa ada masa di mana perfilman terasa sangat bergairah, tetapi ada juga yang landai. Namun, sebenarnya, iklim film di Salatiga tidak pernah benar-benar tiarap. Hanya tidak saling terhubung saja.

Menurut Gery, film pendek adalah media alternatif untuk membicarakan kota dan lokalitas. Sekarang sudah banyak film pendek yang memiliki kesadaran dalam merekam kota… menjadikannya sebagai subyek yang turut berdialog di dalamnya. Bagaimana masa perubahan juga ikut membawa bahasa sinema yang turut beralih juga tampak dalam film-film Salatiga sekarang ini.

Gery juga mengapresiasi perkembangan film di Salatiga sebagai wadah kreativitas generasi muda. Menurutnya, Salatiga sendiri, bagaimana solidaritas dan jejaring dari aktivisme, seni, serta intelektual, membangun gaya baru dalam melakukan pendekatan melalui film. Film memiliki kekuatan untuk berdialog dengan seluruh ekosistem kota.

Geliat Film Lokal di Salatiga

Pemutaran film Klub Sinema Sisifus diadakan sebulan sekali, berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan filmmaker dari berbagai daerah. Pada Sabtu (29/11/2025), Komunitas Belajar Qariyah Thayibah (KBQT) bekerja sama dengan Klub Sinema Sisifus mengadakan pemutaran “Q-Tha Nonton” di gedung KBQT, Jl. Raden Mas Said No. 12, Kalibening, Tingkir, Salatiga.

Dalam kegiatan tersebut, ditampilkan empat film lokal:
* The Path To Be Unbound (Nabih Qi Ahmad)
* Irama Merayakan Kematian (Wiqo Syarif)
* Tut Wuri Handayani (Rifqi Ardiyanto)
* Satu film produksi kelompok belajar KBQT.

Tedy Syah, penonton sekaligus pegiat film Salatiga, merasa senang melihat film dapat dinikmati lintas kalangan. Secara personal menyenangkan, karena ternyata yang menonton tidak hanya teman-teman yang memang senang untuk bikin film, tetapi ada masyarakat, bapak-ibu, dan warga sekitar tentunya, jadi respons filmnya jadi beragam.

Menurut Tedy, film pendek masih menjadi ruang penting untuk menggambarkan keresahan manusia. Melihat film sebetulnya bagian dari refleksi… bahkan realitas. Hari ini ada film menarik mengenai pendidikan yang momennya masih mengenai hari guru.

Film Irama Merayakan Kematian: Kisah Personal Sutradara

Salah satu film yang menyita perhatian adalah Irama Merayakan Kematian, film drama fiksi berdurasi 18 menit yang diproduksi pada 2024. Sutradaranya, Wiqo Syarif, menjelaskan bahwa film tersebut berangkat dari pengalaman pribadi. Film ini dilatarbelakangi peristiwa pribadi saya mengenai refleksi saya mencintai orang-orang yang berjuang di titik lemahnya… sampai kapan titik cinta itu bisa bertahan.

Wiqo menilai bahwa ruang produksi film lokal di Salatiga terus berkembang. Meski tak seramai film-film di bioskop, film-film pendek di Salatiga masih berkembang dengan adanya regenerasi, baik anak SMA, maupun film-film baru serta komunitas dan pembuat film baru.

Share This Article
Leave a Comment