Kehadiran antarmuka terbaru Infinix, XOS 16 berbasis Android 16, memicu perdebatan hangat di kalangan komunitas teknologi tanah air. Membawa ambisi besar dalam integrasi kecerdasan buatan (AI) dan konektivitas lintas platform, sistem ini menawarkan efisiensi tinggi namun tetap menyisakan beberapa catatan kritis yang perlu diperhatikan sebelum pengguna memutuskan untuk menekan tombol “update”.
Secara garis besar, XOS 16 adalah langkah berani Infinix untuk keluar dari citra “ponsel terjangkau dengan software standar”. Dengan bahasa desain baru bertajuk Glow Space, Infinix berhasil menyuguhkan animasi yang jauh lebih mulus berkat teknologi liquid motion. Namun, di balik kemilau visualnya, terdapat tantangan stabilitas dan konsistensi desain yang menjadi sorotan utama para pengamat.
Keunggulan: Terobosan AI dan Konektivitas Luar Biasa
Titik terkuat dari keunggulan Infinix XOS 16 di Indonesia terletak pada kemampuan AI-nya yang tidak lagi sekadar gimik. Fitur FlashMemo dan Mind Hub menjadi penyelamat bagi para pekerja kreatif dan pelajar, memungkinkan pengguna merangkum informasi dari layar secara instan. Selain itu, asisten virtual Folax kini mendukung terjemahan panggilan real-time, sebuah fitur yang sangat relevan bagi profesional yang sering berkomunikasi dengan klien internasional.
Konektivitas juga menjadi “senjata rahasia” Infinix tahun ini. Fitur Touch Transfer for iPhone melalui NFC meruntuhkan tembok pembatas yang selama ini menyulitkan pengguna Android untuk berbagi file dengan ekosistem Apple. Bagi pasar Indonesia yang memiliki basis pengguna iPhone dan Android yang besar secara berdampingan, fitur ini adalah keunggulan kompetitif yang sangat signifikan.
Dari sisi performa gaming, XBoost Game Mode terbaru dengan dukungan frame interpolation memberikan pengalaman bermain yang stabil pada 120 FPS tanpa membuat suhu ponsel melonjak drastis, berkat fitur Bypass Charging yang kini lebih cerdas mengelola arus listrik.
Kelemahan: Inkonsistensi dan Bayang-bayang Bloatware
Namun, tidak ada sistem yang sempurna. Kelemahan Infinix XOS 16 yang paling terasa adalah inkonsistensi visual pada aplikasi bawaan. Meskipun menu utama sudah mengusung desain Glow Space yang minimalis, beberapa aplikasi dasar seperti kalkulator dan pengelola file masih menggunakan gaya desain lama, yang merusak estetika immersive secara keseluruhan.
Isu klasik mengenai bloatware atau aplikasi pra-instal juga masih menghantui. Meski Infinix mengklaim sistem ini “lebih bersih”, pengguna di Indonesia masih menemukan beberapa notifikasi dari aplikasi sistem yang tidak dapat dihapus, yang berpotensi mengganggu privasi dan mengonsumsi memori latar belakang. Selain itu, fitur AI yang canggih menuntut spesifikasi perangkat keras yang tinggi; pengguna model lama yang mendapatkan update mungkin akan merasakan sedikit penurunan responsivitas atau lag saat menjalankan fitur berat seperti AI Theme Generator.
Layakkah Menjadi Pilihan Utama?
XOS 16 adalah evolusi paling signifikan dalam sejarah perangkat lunak Infinix. Bagi Anda yang mengutamakan produktivitas berbasis AI dan sering berbagi file lintas platform, keunggulan Infinix XOS 16 jauh melampaui kekurangannya. Namun, bagi pengguna yang mendambakan sistem operasi yang benar-benar bersih tanpa gangguan notifikasi sistem, mungkin diperlukan sedikit waktu untuk menunggu pembaruan patch stabilitas berikutnya.
Pembaruan ini secara keseluruhan sangat layak diapresiasi, terutama dengan komitmen Infinix memberikan perlindungan baterai jangka panjang melalui Battery Self-Repair. XOS 16 bukan hanya tentang perangkat lunak, melainkan upaya Infinix untuk menjaga nilai investasi ponsel Anda hingga lima tahun ke depan.
