Musisi sekaligus komika berbakat, Raim Laode, kembali menggetarkan industri musik tanah air melalui karya terbarunya yang bertajuk “Iqro”. Setelah sukses fenomenal dengan “Komang” yang memecahkan berbagai rekor streaming, kini Raim kembali dengan pendekatan yang lebih kontemplatif dan puitis. “Iqro” bukan sekadar gubahan nada, melainkan sebuah undangan bagi pendengarnya untuk berhenti sejenak dan ‘membaca’ tanda-tanda kehidupan di sekitar mereka.
Lagu ini langsung menarik perhatian publik tak lama setelah dirilis, memicu lonjakan pencarian kata kunci terkait lirik dan maknanya di berbagai platform mesin pencari. Secara musikalitas, Raim tetap mempertahankan ciri khas instrumen organik yang hangat, namun kali ini dengan bobot lirik yang jauh lebih filosofis.
Filosofi di Balik “Iqro”
Bagi Raim Laode, “Iqro” yang berarti “Bacalah” dalam bahasa Arab, merupakan sebuah refleksi tentang literasi kehidupan. Sebagai seorang pencerita (storyteller) yang ulung, Raim mencoba menerjemahkan keresahan manusia modern yang seringkali terjebak dalam hiruk-pikuk dunia digital hingga lupa membaca pesan-pesan yang tersirat dari alam dan Sang Pencipta.
Dari perspektif jurnalistik film, narasi dalam lagu ini memiliki struktur visual yang kuat. Lirik-liriknya seolah menjadi script yang menggambarkan perjalanan batin seseorang dalam menemukan kembali jati dirinya. Pendengar diajak untuk tidak hanya melihat dengan mata, tetapi “membaca” dengan hati.
Lirik Lagu Iqro – Raim Laode
Berikut adalah lirik lengkap lagu “Iqro” untuk Anda yang ingin menyelami setiap bait maknanya:
Bintang bintang dan pepohonan
Kedua bersujud pada-Nya
Masih kukagum tentang langit
Kokoh nan tinggi tak bertiang
Siapakah aku sebenarnya
Hanya atom yang kecil besar sombongnya
Sampai di masa ini
ku masih mencari
tentang arti dunia
yang ramai nan sunyi
Bantu aku berjalan menuju cahaya
Lalu aku berjanji menjadi yang baik
Semua Kau cipta berpasang
Sebab hanya Engkau yang satu
Seluruh bima sakti sujud
Tak ada satu pun yang luput
Siapakah aku sebenarnya
Hanya atom yang kecil besar sombongnya
Sampai di masa ini
ku masih mencari
tentang arti dunia
yang ramai nan sunyi
Bantu aku berjalan menuju cahaya
Lalu aku berjanji menjadi yang baik
Baru aku mengerti
ternyata bahagia
bukan perkara nanti tetapi sekarang
Harta paling berharga
bukanlah materi
Tetapi tentang waktu
tak bisa kutahan
Evolusi Musikalitas Raim Laode
Kehadiran “Iqro” menandai kedewasaan Raim Laode dalam berkarir. Jika “Komang” adalah perayaan atas cinta yang membumi, “Iqro” adalah bentuk transendensi cinta kepada tingkat yang lebih tinggi. Produksi musiknya yang minimalis namun megah memberikan ruang bagi suara khas Raim yang serak-serak basah untuk menyampaikan pesan secara intim.
Bagi para penikmat musik yang mengapresiasi kedalaman lirik, lagu ini diprediksi akan menjadi lagu wajib dalam daftar putar meditasi atau refleksi diri di tahun 2026 ini. Raim membuktikan bahwa menjadi populer tidak harus mengorbankan substansi, dan “Iqro” adalah bukti nyata bahwa literasi dan musik dapat berpadu dalam harmoni yang indah.
