Kekuatan utama dari waralaba zombi garapan Alex Garland selalu terletak pada penggambaran dunianya yang sunyi namun mengancam. Dalam sekuel terbaru yang baru saja dirilis, latar cerita film 28 Years Later: The Bone Temple membawa penonton jauh meninggalkan puing-puing London menuju lanskap North Yorkshire yang terisolasi dan liar, tepat 28 tahun setelah Rage Virus pertama kali melumpuhkan Britania Raya.
Berbeda dengan film pendahulunya yang sering menampilkan kekacauan urban, The Bone Temple mengambil latar waktu beberapa bulan setelah peristiwa di film 28 Years Later (2025). Inggris kini digambarkan sebagai daratan yang sepenuhnya terfragmentasi. Fokus utama cerita terletak di sebuah wilayah lembah terpencil yang dikelilingi oleh hutan lebat dan tebing terjal, di mana sisa-sisa kemanusiaan mencoba membangun kembali tatanan sosial di bawah bayang-bayang ancaman infeksi yang telah berevolusi.
Pusat dari latar tempat ini adalah sebuah struktur masif yang dikenal sebagai The Bone Temple. Tersembunyi di dalam ceruk lembah Yorkshire, kuil ini menjadi titik sentral narasi yang menggambarkan bagaimana lingkungan alam Inggris telah “menelan” sisa-sisa arsitektur modern. Penggunaan lokasi di Inggris Utara ini memberikan nuansa gothic horror yang kental, di mana kabut tebal dan padang rumput yang luas menjadi saksi bisu dari eksperimen gelap Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes).
Sutradara Nia DaCosta secara cerdas memanfaatkan kontras visual antara keindahan alam Yorkshire yang memukau dengan kengerian struktur tulang yang menjadi ikon film ini. Lanskap yang luas namun kosong memberikan rasa isolasi yang mendalam bagi karakter Spike (Alfie Williams), mempertegas bahwa di tahun ke-28 pasca-wabah, ancaman terbesar bukan lagi sekadar jumlah zombi yang masif, melainkan jarak dan ketidakpastian sumber daya di alam liar.
Dari sisi teknis, pemilihan latar ini didukung oleh sinematografi yang menggunakan kamera iPhone 15 Pro secara ekstensif, memberikan tekstur yang intim sekaligus mentah. Keputusan ini memperkuat “rasa” dari latar tempat yang terasa nyata dan sangat dekat dengan penonton. DaCosta menyebut bahwa ia ingin menciptakan dunia di mana “keheningan adalah musuh utama,” dan Yorkshire menyediakan kanvas yang sempurna untuk atmosfer tersebut.
Secara naratif, latar cerita ini juga mencerminkan kondisi politik dunia dalam film tersebut. Dengan London yang hanya menjadi legenda masa lalu, wilayah utara Inggris ini menjadi semacam “Wild West” baru, di mana hukum dibuat oleh mereka yang memiliki tembok paling kuat atau pengikut paling banyak. Hal ini memberikan kedalaman pada genre horor yang diusung, mengubahnya menjadi sebuah drama survival sosiologis yang kompleks.
Memahami latar cerita ini sangat penting bagi penonton untuk menangkap pesan tersirat tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan trauma panjang. 28 Years Later: The Bone Temple bukan hanya sebuah perjalanan melintasi geografi Inggris yang hancur, tetapi juga sebuah eksplorasi tentang bagaimana batas-batas moral manusia ikut terkikis bersama bangunan-bangunan yang mereka tinggalkan 28 tahun silam.
