Mengenal 6 Varian Kuliner Rawon dengan Rasa Khas Daerah

goodside
5 Min Read

Rawon adalah salah satu hidangan sup daging khas Jawa Timur yang terkenal dengan kuah hitamnya yang khas. Bahan utama dari kuah rawon adalah kluwek, yang memberikan rasa dan warna unik. Namun, seiring berkembangnya zaman, penyajian rawon di berbagai kota di Jawa kini memiliki ciri khas masing-masing. Perbedaan ini bisa dilihat dari kuah, bumbu, hingga lauk pendamping, sehingga menjadikan rawon semakin beragam dan kaya akan rasa.

Rawon diyakini sudah ada sejak era kerajaan Mataram Kuno, seperti yang tercatat dalam Prasasti Taji (901 M) dengan sebutan rarawwan. Prasasti ini ditemukan di Ponorogo, Jawa Timur, dan membuktikan bahwa rawon telah menjadi bagian dari kuliner nusantara sejak lama. Mengenal ragam perbedaan penyajian rawon di berbagai kota tidak hanya menambah wawasan kuliner, tetapi juga membantu wisatawan untuk memilih varian rawon favorit saat berkunjung ke Pulau Jawa.

Berikut adalah enam kota di Jawa yang dikenal dengan varian rawon unik dan berbeda:

1. Rawon Surabaya: Pekat, Gurih, dan Kaya Rasa

Rawon Surabaya bisa disebut sebagai varian paling populer. Kuahnya hitam pekat karena penggunaan kluwek yang cukup banyak. Rasanya gurih kuat dengan sedikit sentuhan manis. Potongan daging sapi empuk menjadi bintang utama, dilengkapi dengan tauge pendek, sambal, telur asin, dan kerupuk udang. Kekentalan kuah Surabaya membuatnya terasa penuh dan kaya.

2. Rawon Malang: Ringan dan Segar

Di Malang, kuah rawon cenderung lebih ringan dibanding Surabaya. Penggunaan rempah seperti serai dan daun jeruk memberi aroma segar. Rasanya tidak terlalu pekat, tetapi tetap gurih dan menggugah selera. Rawon Malang biasanya disajikan dengan kerupuk udang, sambal terasi, dan taburan bawang goreng yang membuatnya terasa lebih seimbang di lidah.

3. Rawon Pasuruan: Rempah Lebih Kuat

Rawon Pasuruan dikenal karena penggunaan rempah yang lebih menonjol. Ketumbar, jintan, dan jahe menjadi ciri khas yang membuat kuahnya harum. Tidak heran jika banyak penikmat rawon menyebut varian ini memiliki “lapisan rasa” yang lebih kaya. Meski tidak sepekat Surabaya, kuah rawon Pasuruan terasa hangat dan berbumbu. Beberapa tempat juga menyajikannya bersama sate komoh, yaitu sate sapi khas daerah Pasuruan dengan bumbu bakar cenderung pedas cabai, yang membuat pengalaman menyantap rawon semakin istimewa.

4. Rawon Banyuwangi: Gurih dengan Sentuhan Asam Segar

Banyuwangi menghadirkan rawon yang agak berbeda. Kuah gurih khas rawon dipadukan dengan sedikit rasa asam, biasanya dari belimbing wuluh atau asam jawa. Kombinasi gurih dan segar ini membuat rawon Banyuwangi terasa unik. Selain rawon biasa, di Banyuwangi juga tersedia inovasi kuliner seperti “pecel rawon”, yaitu gabungan pecel sayur dengan kuah rawon hitam. Menu ini memperlihatkan kreativitas kuliner masyarakat lokal.

5. Rawon Madiun: Lebih Manis dan Aromatik

Rawon dari Madiun cenderung memiliki rasa manis lebih dominan. Gula merah digunakan dalam bumbu sehingga kuahnya terasa ramah bagi penikmat masakan Jawa Tengah yang terbiasa dengan cita rasa manis. Rempah seperti jahe dan lengkuas menambah aroma kuah, menghasilkan perpaduan gurih, manis, dan harum.

6. Rawon Solo: Kuah Lebih Ringan dan Cenderung Manis

Meskipun bukan daerah asal Rawon, Solo juga punya varian rawon khas. Kuahnya lebih encer, warna hitam tidak sepekat rawon Jawa Timur, dan rasanya cenderung manis. Menariknya, beberapa rawon Solo menggunakan santan juga untuk memberi tekstur lembut. Rawon Solo sering disajikan bersama lauk tambahan seperti tempe goreng atau perkedel, menyesuaikan dengan gaya kuliner Jawa Tengah yang lembut dan manis.

Kini, rawon telah diakui sebagai salah satu sup terenak di dunia, sehingga membuat kenikmatannya semakin mendunia. Hal ini membuktikan bahwa kuliner tradisional bisa terus relevan sekaligus membanggakan identitas bangsa. Rawon memang identik dengan Jawa Timur, tetapi perjalanannya di berbagai kota di Jawa menghadirkan variasi rasa yang luar biasa. Keberagaman ini membuktikan bahwa kuliner tradisional terus hidup dan beradaptasi sesuai karakter masyarakat setempat. Dengan segala variasi lokalnya, rawon berhasil menyatukan rasa, tradisi, dan sejarah dalam satu sajian yang sederhana namun penuh makna.

Share This Article
Leave a Comment