Di balik visualnya yang mencekam dan atmosfernya yang kelam, produksi film Kuyank menyimpan cerita perjuangan luar biasa dari seluruh kru dan pemain. Sutradara Johansyah Jumberan mengungkapkan bahwa tantangan syuting film Kuyank di lokasi terpencil Kalimantan menjadi salah satu ujian terberat dalam kariernya, mengingat ambisi besar untuk menghadirkan otentisitas “Semesta Saranjana” secara visual tanpa banyak bergantung pada set studio.
Keputusan untuk melakukan syuting langsung di jantung Kalimantan Tengah dan Selatan bukan tanpa risiko. Tim produksi harus memobilisasi lebih dari 100 kru dan berton-ton peralatan teknis ke wilayah yang hanya bisa diakses melalui jalur sungai. “Kami harus menggunakan longboat selama berjam-jam hanya untuk mencapai satu titik lokasi rawa. Membawa kamera kelas sinema dan generator listrik ke medan seperti itu adalah tantangan logistik yang nyata,” ujar Johansyah dalam sesi wawancara eksklusif baru-baru ini.
Salah satu tantangan syuting film Kuyank di lokasi terpencil Kalimantan yang paling tak terduga adalah kondisi cuaca yang ekstrem. Hujan tropis yang turun tiba-tiba sering kali memaksa syuting dihentikan, yang secara otomatis membengkakkan biaya produksi. Selain itu, kelembapan tinggi di tengah hutan Kalimantan menjadi ancaman serius bagi perangkat elektronik sensitif. Kru teknis harus bekerja ekstra keras menjaga suhu kamera agar tidak mengalami overheat atau jamur lensa akibat kelembapan yang mencapai 90 persen di malam hari.
Dari sisi pemain, Rio Dewanto dan Putri Intan Kasela juga merasakan beratnya medan. Rio menceritakan pengalamannya harus berendam di air rawa selama hampir enam jam untuk sebuah adegan kunci. “Secara fisik sangat menguras energi. Kita tidak hanya berakting, tapi juga harus berhadapan dengan lintah, serangga hutan, dan suhu air yang sangat dingin saat tengah malam. Namun, justru itu yang membantu saya masuk ke dalam emosi karakter Badri yang sedang tertekan,” kata Rio.
Tak hanya tantangan fisik dan teknis, unsur mistis juga mewarnai jalannya produksi. Menghormati local wisdom menjadi prosedur wajib bagi seluruh tim. Sebelum syuting dimulai di setiap lokasi baru, tim produksi selalu mengadakan ritual “permisi” kepada leluhur dan penjaga hutan setempat. Meski telah melakukan protokol adat, beberapa kru tetap melaporkan adanya kejadian-kejadian di luar nalar, seperti peralatan yang tiba-tiba tidak berfungsi atau suara-suara aneh yang tertangkap mikrofon saat pengambilan gambar di area yang dianggap sakral oleh penduduk lokal.
Tantangan-tantangan ini pada akhirnya terbayar dengan hasil sinematografi yang memukau. Visual hutan yang lebat, kabut asli yang menyelimuti sungai, hingga rawa yang tampak tak berujung memberikan level kengerian yang tidak bisa direplikasi oleh teknologi CGI sepenuhnya. Otentisitas ini menjadi nilai jual utama yang membedakan Kuyank dengan film horor lainnya yang rilis di tahun 2026.
Sebagai artikel pendukung, pembahasan mengenai tantangan syuting film Kuyank di lokasi terpencil Kalimantan ini memberikan perspektif baru bagi penonton bahwa sebuah karya film horor berkualitas lahir dari dedikasi dan keberanian menghadapi alam liar Nusantara. Dengan segala jerih payah tersebut, Kuyank siap membuktikan kualitasnya di layar lebar mulai 29 Januari mendatang sebagai mahakarya horor yang lahir dari rahim Kalimantan.
