Sejak tayang perdana pada 29 Januari 2026, film Kuyank sukses meninggalkan beragam teori di kalangan penonton. Banyak yang bertanya-tanya mengenai konklusi emosional di bagian akhir film. Bagi Anda yang masih penasaran, berikut adalah penjelasan ending Kuyank: bagaimana hubungannya dengan Saranjana: Kota Ghaib? yang secara resmi mengonfirmasi keberadaan semesta horor yang lebih luas.
Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler berat bagi film Kuyank.
Pada babak final film, kita menyaksikan karakter Badri (Rio Dewanto) yang akhirnya terjebak dalam obsesinya sendiri. Badri ternyata bukan hanya pelaku ilmu hitam biasa, melainkan sosok yang membuka jalan bagi teror yang lebih besar. Ending film memperlihatkan bagaimana ritual “pemberian darah janin” yang dilakukan oleh makhluk Kuyank bukan sekadar untuk kecantikan abadi, melainkan sebagai tumbal untuk mengencerkan “tabir” antara dunia manusia dan dimensi gaib.
Hubungan paling eksplisit dengan film Saranjana: Kota Ghaib (2023) muncul pada adegan post-credit yang mencekam. Dalam adegan tersebut, diperlihatkan sosok Badri yang terluka parah melarikan diri ke dalam hutan terdalam Kalimantan. Di sana, ia menemukan sebuah tebing batu yang memiliki ukiran kuno yang identik dengan peta yang digunakan oleh Shita dan teman-temannya dalam film Saranjana pertama. Hal ini mengonfirmasi bahwa Kuyank adalah prekuel langsung yang berlatar tujuh tahun sebelum hilangnya Shita di kota gaib tersebut.
Lebih jauh lagi, penjelasan ending Kuyank: bagaimana hubungannya dengan Saranjana: Kota Ghaib? terletak pada fungsi darah yang dihisap oleh Kuyank. Terungkap bahwa darah tersebut digunakan untuk melumasi gerbang portal menuju Saranjana. Dalam mitologi yang dibangun sutradara Johansyah Jumberan, Saranjana membutuhkan energi kehidupan dari dunia nyata agar pintunya tetap bisa diakses oleh manusia-manusia terpilih yang memiliki “minyak” tertentu. Badri, melalui praktik ilmu Kuyank-nya, ternyata adalah salah satu pion yang bertugas menjaga portal tersebut tetap aktif.
Koneksi semantik lainnya ditemukan pada munculnya karakter kameo singkat di akhir film. Kita melihat versi lebih muda dari salah satu tetua adat yang memberikan peringatan kepada tim ekspedisi dalam film Saranjana. Ia terlihat sedang mencoba menyegel hutan tempat Badri bersembunyi, sebuah upaya yang kita tahu akhirnya gagal tujuh tahun kemudian. Hal ini memberikan kedalaman narasi bahwa teror di Saranjana bukanlah kejadian mendadak, melainkan akumulasi dari kegagalan manusia di masa lalu dalam membendung ilmu hitam.
Secara teknis, ending ini sangat cerdas secara SEO karena menciptakan rasa penasaran bagi penonton baru untuk menonton kembali film Saranjana: Kota Ghaib. Dengan menghubungkan kedua film ini, pihak produksi berhasil membangun sebuah ekosistem cerita yang saling mendukung secara komersial dan naratif.
Bagi para penggemar, penjelasan ending Kuyank: bagaimana hubungannya dengan Saranjana: Kota Ghaib? ini menjadi pintu masuk untuk teori-teori baru. Apakah Badri masih hidup di dalam dimensi Saranjana? Apakah janin yang selamat akan menjadi tokoh utama di film berikutnya? Satu yang pasti, semesta Saranjana baru saja dimulai, dan Kuyank adalah kepingan puzzle paling berdarah yang pernah dihadirkan di bioskop Indonesia awal tahun 2026 ini.
