Perbandingan iPhone 18 Pro dengan Seri Sebelumnya: Mengapa Fabrikasi 2nm dan Kamera Variable Aperture Menjadi Game Changer?

goodside
4 Min Read

Apple kembali menggebrak pasar teknologi global dengan meluncurkan iPhone 18 Pro, yang diklaim sebagai lompatan teknologi terbesar sejak transisi ke layar OLED. Melalui perbandingan iPhone 18 Pro dengan seri sebelumnya, terlihat jelas bahwa Apple tidak hanya melakukan pembaruan rutin, melainkan merombak arsitektur dasar perangkatnya melalui penggunaan chip 2 nanometer (2nm) dan sistem optik variabel yang selama ini hanya ditemukan pada kamera profesional.

Lompatan ini menempatkan iPhone 18 Pro sebagai pemimpin pasar dalam hal efisiensi daya dan kemampuan sinematografi mobile. Bagi para profesional di industri kreatif dan jurnalisme visual, perbedaan antara perangkat baru ini dengan pendahulunya, iPhone 17 Pro dan iPhone 16 Pro, terletak pada kemampuan perangkat dalam menangani beban kerja berat tanpa mengalami thermal throttling.

Revolusi A20 Pro: 2nm vs 3nm

Poin utama dalam perbandingan iPhone 18 Pro dengan seri sebelumnya adalah transisi chipset dari A19 Pro (3nm) ke A20 Pro (2nm). Secara teknis, fabrikasi 2nm memungkinkan Apple menanamkan lebih banyak transistor dalam ruang yang lebih kecil. Hasilnya adalah peningkatan performa CPU sebesar 20% dan GPU hingga 25% lebih cepat dibandingkan iPhone 17 Pro.

Dalam pengujian dunia nyata, kecepatan rendering video 8K ProRes pada iPhone 18 Pro terbukti 40% lebih cepat daripada iPhone 16 Pro. Bagi jurnalis film, efisiensi ini sangat krusial saat harus mengirimkan berita video dari lapangan dengan tenggat waktu yang ketat. Selain itu, penggunaan chip 2nm memberikan daya tahan baterai ekstra hingga 5 jam lebih lama dibandingkan seri 17 Pro dalam penggunaan intensif.

Kamera: Variable Aperture vs Fixed Aperture

Dari sisi visual, perbedaan yang paling mencolok ditemukan pada modul kamera utama. Jika seri sebelumnya (iPhone 15 Pro hingga 17 Pro) menggunakan fixed aperture, iPhone 18 Pro memperkenalkan lensa dengan Variable Aperture (f/1.4 – f/2.4). Teknologi ini memungkinkan sensor menangkap cahaya secara fisik dengan lebih presisi, memberikan kontrol penuh atas depth-of-field.

Pada seri sebelumnya, efek latar belakang buram (bokeh) sangat bergantung pada pemrosesan perangkat lunak (AI). Namun, pada iPhone 18 Pro, pengguna mendapatkan bokeh organik yang jauh lebih halus, menyamai kualitas kamera mirrorless. Peningkatan ini juga memperbaiki kualitas pengambilan gambar pada kondisi minim cahaya (low-light), yang sering menjadi kelemahan pada sensor berukuran kecil di generasi terdahulu.

Desain dan Layar: Era Tanpa Gangguan

Apple juga menyempurnakan aspek estetika dengan memperkenalkan Under-Display Face ID. Dalam perbandingan iPhone 18 Pro dengan seri sebelumnya, desain layar tanpa Dynamic Island memberikan area kerja yang lebih bersih. Panel LTPO generasi terbaru ini mendukung tingkat kecerahan puncak 3.000 nits, jauh melampaui iPhone 16 Pro yang hanya mencapai 2.000 nits. Hal ini memastikan akurasi warna tetap terjaga meski jurnalis bekerja di bawah terik matahari langsung di lokasi syuting.

Kesimpulan dan Prediksi Pasar

Melihat perbandingan teknis yang signifikan ini, iPhone 18 Pro diprediksi akan memicu gelombang upgrade besar-besaran, terutama bagi pengguna yang masih menggunakan perangkat dengan chip 3nm atau di bawahnya. Meskipun harga di Indonesia diprediksi akan mengalami penyesuaian akibat kelangkaan komponen semikonduktor canggih, nilai yang ditawarkan oleh kombinasi performa 2nm dan kamera variabel menjadikannya investasi yang layak bagi profesional.

Apple diperkirakan akan mulai mendistribusikan perangkat ini ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pada kuartal terakhir tahun 2026, dengan pilihan penyimpanan hingga 2TB untuk mendukung alur kerja sinematik profesional.

TAGGED:
Share This Article
Leave a Comment