Sutradara sekaligus penulis film “Dalam Sujudku”, Rico Michael, berbicara kepada awak media dalam momen penayangan khusus film tersebut yang digelar Project 69 di Queens Head Kemang, Jakarta, Jumat 12 Desember 2025. Ia mengungkapkan bahwa film drama keluarga ini lahir dari pengalaman nyata yang sangat personal. Cerita film ini berawal dari curahan hati seorang teman, yang kemudian berkembang menjadi narasi tentang hubungan rumah tangga yang rumit dan sering kali dianggap tidak masuk akal oleh banyak orang.
Menurut Rico Michael, ketertarikannya justru muncul dari dinamika karakter yang tidak hitam-putih. Sosok Farid digambarkan pasrah atas kehancuran keluarganya, sementara Aisyah tetap mampu menyayangi suaminya meski dikhianati. “Saya tertarik mengangkat sisi manusiawi dari pilihan-pilihan yang sering kali sulit diterima logika,” kata Rico.

Tak hanya itu, Rico Michael juga secara sadar membangun karakter Rina, orang ketiga dalam rumah tangga Farid dan Aisyah, dengan latar trauma psikologis yang kuat. Pendekatan ini diambil agar penonton tidak sekadar melihat Rina sebagai antagonis. “Saya ingin penonton memahami bahwa setiap karakter punya luka,” ujarnya.
Meski judul dan poster “Dalam Sujudku” kerap diasosiasikan dengan drama religi, Rico menegaskan film ini tidak berfokus pada aspek tersebut. Ia lebih menekankan perjuangan mempertahankan keluarga dalam kondisi paling sulit, sebuah tema universal yang menurutnya sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Rico Michael juga menaruh perhatian besar pada detail artistik film, termasuk musik. Ia memilih untuk tidak menggunakan lagu populer, melainkan menciptakan soundtrack orisinal khusus untuk film ini. Proses pencarian penyanyi pun dilakukan melalui ajang Dalam Sujudku Voice Hunt, demi menemukan suara yang benar-benar mampu menyatu dengan emosi cerita.
“Musik di film ini harus lahir dari ceritanya, bukan sekadar tempelan,” ujar Rico, seraya menyampaikan apresiasi kepada Mamu Black Sweet sebagai pengarah musik yang memperkuat atmosfer emosional film.
Didukung kerja kolektif para pemain dan kru, Rico berharap Dalam Sujudku dapat menjadi drama keluarga yang memberi ruang refleksi bagi penontonnya. Ia juga memastikan komitmennya untuk terus mengangkat isu-isu sosial yang dekat dengan realitas, termasuk proyek film berikutnya yang akan menyoroti teror video asusila di media sosial.
Film produksi Project 69 ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 2026, dan diharapkan menjadi salah satu film drama keluarga yang membekas secara emosional bagi penonton.
