Bagi para penggemar genre aksi militer yang mengedepankan taktis dan ketegangan tinggi, Sinopsis All the Devil’s Men (2018) menawarkan narasi yang gelap dan brutal. Film ini bukan sekadar film aksi biasa; ia membawa penonton ke dalam dunia operasi hitam (black ops) yang penuh dengan bayang-bayang pengkhianatan dan dilema moral. Disutradarai oleh Matthew Hope, film ini berlatar di jalanan London yang dingin, menjadi panggung bagi pertempuran antara loyalitas dan kelangsungan hidup.
Profil Jack Collins: Pemburu Bayaran dengan Trauma Masa Lalu
Pusat dari cerita ini adalah Jack Collins (diperankan oleh Milo Gibson). Collins adalah seorang mantan anggota Navy SEAL yang kini bekerja sebagai bounty hunter atau pemburu bayaran untuk CIA. Namun, Collins bukanlah pahlawan tanpa celah. Ia digambarkan sebagai pria yang menderita ketergantungan pada adrenalin pertempuran dan dihantui oleh trauma masa lalu (PTSD).
Bagi Collins, medan perang adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar hidup. Karakter yang diperankan oleh putra Mel Gibson ini memberikan dimensi psikologis yang dalam, menunjukkan bagaimana seorang tentara profesional berjuang untuk tetap waras di tengah kekerasan yang tidak pernah berakhir. Hal inilah yang membuat film ini sering disebut sebagai salah satu Film Action Thriller Terbaik dari sisi pendalaman karakter protagonisnya.
Alur Cerita All the Devil’s Men: Misi Terakhir di London
Alur cerita All the Devil’s Men dimulai ketika seorang operasional CIA bernama Leigh (Sylvia Hoeks) menawarkan sebuah misi krusial di London. Targetnya adalah Terry McKnight (Elliot Cowan), seorang mantan agen CIA yang membelot. McKnight bukan sekadar pengkhianat biasa; ia diketahui sedang mencoba memfasilitasi transaksi senjata pemusnah massal (WMD) dengan geng kriminal Rusia yang berbahaya.
Dalam menjalankan misinya, Jack Collins tidak sendirian. Ia tergabung dalam sebuah tim taktis yang terdiri dari:
- Mike Brennan (William Fichtner): Seorang veteran yang tenang dan berpengalaman, berfungsi sebagai penyeimbang moral dalam tim.
- Pete Samuelson (Gbenga Akinnagbe): Rekan setim yang tangguh dan memiliki kemampuan tempur jarak dekat yang luar biasa.
Misi yang awalnya terlihat sebagai operasi penangkapan rutin dengan cepat berubah menjadi kekacauan. Mereka harus menghadapi tentara pribadi McKnight yang dipimpin oleh Tony Deighton (Joseph Millson), seorang mantan prajurit yang memiliki kemampuan setara dengan Collins dan timnya.
Elemen Pengkhianatan dan Plot Twist
Yang membedakan All the Devil’s Men dari film aksi medioker lainnya adalah lapisan konfliknya. Saat mereka semakin dekat dengan target, Collins mulai menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi mungkin memiliki akses ke informasi internal CIA.
Narasi film ini menekankan bahwa dalam dunia intelijen, tidak ada kawan sejati. Perburuan terhadap McKnight berubah menjadi permainan kucing dan tikus yang mematikan, di mana pengkhianatan muncul dari arah yang paling tidak terduga. Penonton akan dibawa bertanya-tanya: siapa yang sebenarnya bisa dipercaya dalam misi yang melibatkan hulu ledak nuklir ini?
Daftar Pemain Utama All the Devil’s Men
| Pemeran | Karakter | Peran |
|---|---|---|
| Milo Gibson | Jack Collins | Eks Navy SEAL / Bounty Hunter |
| Sylvia Hoeks | Leigh Allen | Operasional CIA (Handler) |
| William Fichtner | Mike Brennan | Anggota Tim Taktis Collins |
| Gbenga Akinnagbe | Pete Samuelson | Anggota Tim Taktis Collins |
| Elliot Cowan | Terry McKnight | Antagonis Utama / Eks Agen CIA |
| Joseph Millson | Tony Deighton | Pemimpin Tentara Bayaran Musuh |
Review Film All the Devil’s Men: Aksi Taktis yang Realistis
Berdasarkan berbagai Review Film All the Devil’s Men, keunggulan utama film ini terletak pada koreografi aksinya. Alih-alih menggunakan gaya aksi bombastis ala Hollywood, Matthew Hope memilih pendekatan tactical realism. Penggunaan senjata, pergerakan tim saat menyerbu gedung, hingga komunikasi antar personel terasa sangat otentik dan menyerupai operasi militer sungguhan.
Meski beberapa kritikus di Rotten Tomatoes menyebutkan bahwa plotnya cenderung klise dan mengikuti formula standar spy-thriller, film ini tetap mendapat apresiasi dari komunitas penggemar aksi militer karena atmosfernya yang gritty (keras) dan tidak berbasa-basi. Bagi Anda yang mencari tontonan dengan tempo cepat, adu tembak yang presisi, dan nuansa spionase yang gelap, film ini adalah pilihan yang tepat.
