
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.943, Harga Minyak WTI Anjlok di Bawah US$70
Rupiah mencatat penguatan tipis pada penutupan perdagangan Kamis (25/6) sore, mengakhiri sesi di level Rp17.943 per dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda naik 9 poin atau sekitar 0,05 persen dari posisi sebelumnya Rp17.952. Penguatan ini terjadi di tengah anjloknya harga minyak mentah dunia yang bahkan membuat patokan WTI Crude Oil terperosok di bawah level US$70 per barel.
Penyebab Utama: Penurunan Tajam Harga Minyak Mentah
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan harga minyak menjadi motor utama penguatan rupiah pada sesi ini. Harga minyak WTI terus merosot seiring meredanya kekhawatiran pasokan global. Kesepakatan awal pekan lalu untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran telah membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, sehingga lalu lintas kapal tanker mulai normal.
“Kesepakatan itu memungkinkan lalu lintas melalui selat untuk dimulai kembali, sehingga meredakan kekhawatiran pasokan yang membuat harga minyak mentah dunia terus merosot tajam pekan ini,” terang Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta. Penurunan signifikan ini memberi napas bagi rupiah karena Indonesia sebagai importir minyak diuntungkan oleh biaya impor yang lebih rendah.
Dinamika Geopolitik di Selat Hormuz Mulai Mereda
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright, dalam sebuah forum, mengungkapkan bahwa arus pelayaran melalui Selat Hormuz hampir kembali ke level sebelum konflik Iran. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 20 juta barel minyak berhasil melewati jalur tersebut. Meski begitu, Wright mengingatkan bahwa pemulihan sepenuhnya masih memerlukan waktu beberapa pekan karena area selat harus dibersihkan dari ranjau yang ditebar selama eskalasi ketegangan.
Sementara itu, Oman telah membuka jalur sementara dengan dukungan Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk memperlancar distribusi energi. Langkah ini menjadi penyangga penting sambil proses pembersihan dan normalisasi berlangsung. Di sisi lain, Perdana Menteri Qatar melakukan kunjungan ke Oman guna membahas rencana pengelolaan Selat Hormuz pada masa mendatang bersama Iran, Irak, dan negara-negara Teluk. Serangkaian langkah diplomatik ini menambah keyakinan pasar bahwa risiko gangguan pasokan minyak global semakin menipis.
Kebijakan The Fed Masih Bayangi Pasar
Meskipun harga minyak turun drastis, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat tetap kuat. Ibrahim Assuaibi mencatat bahwa bank sentral AS (Federal Reserve) masih menunjukkan perpecahan di internal dewan. Delapan dari 19 anggota memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir 2026, sedangkan mayoritas memperkirakan suku bunga akan tetap stabil.
Ketidakpastian arah suku bunga The Fed ini membuat investor belum sepenuhnya lepas dari kehati-hatian, sehingga potensi penguatan rupiah yang lebih besar tertahan. Namun, penurunan harga minyak tetap memberikan katalis positif jangka pendek karena dapat meredam tekanan inflasi impor dan mengurangi beban subsidi energi di dalam negeri.
Kurs Referensi JISDOR Ikut Menguat
Sejalan dengan penguatan di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan pergerakan positif. Pada perdagangan Kamis ini, JISDOR tercatat di level Rp17.942 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya yang berada di Rp17.955. Pergerakan ini konsisten dengan sentimen perbaikan nilai tukar yang ditopang oleh turunnya harga minyak dunia.
Penguatan tipis namun stabil ini menjadi sinyal bahwa rupiah memiliki ruang untuk terus menguat jika tekanan eksternal mereda. Pasar akan terus mencermati kelanjutan negosiasi 60 hari antara Iran dan AS yang membahas isu kompleks, termasuk program nuklir Iran. Bagi Indonesia, setiap kemajuan dalam perdamaian kawasan Timur Tengah membawa angin segar bagi stabilitas nilai tukar dan harga energi domestik.








