Di Yogyakarta, kota yang selalu memiliki cara unik untuk merawat ingatan, sebuah rumah yang berubah menjadi museum menyimpan riwayat panjang seorang musisi yang memilih pulang, kembali kepada dirinya setelah puluhan tahun merantau di gelanggang industri musik Indonesia. Di sudut yang tenang, tak jauh dari Museum Diponegoro, Pameran Arsip ‘Beyond The Notes – Andi Bayou’ menghadirkan ruang perjumpaan antara manusia, bunyi, dan perjalanan batin di balik karya.
Pengunjung tidak hanya melihat alat musik, catatan, atau pita rekaman tua yang mulai memudar warnanya. Mereka diajak masuk ke dalam ruang batin seorang musisi, ruang yang penuh dengan kegelisahan, pencarian, kerja keras, dan keyakinan bahwa musik bukan hanya tentang nada, tetapi juga tentang menemukan diri sendiri.
Di atas meja kayu tua, tersusun rapi beberapa koleksi keluarga. Ada piano kuno tahun 1920 warisan nenek, keyboard dan gitar yang digunakan untuk merekam lagu Sheila on 7 dan Kangen Band, tulisan lirik lagu, piagam, serta piala saat masih menjadi atlet bulutangkis pada masa remajanya. “Ini sangat monumental, piano peninggalan nenek saya, usianya lebih dari 100 tahun, tetapi masih berfungsi baik. Dengan alat ini pula saya belajar bermain piano,” ungkap Andi.
Di sebelahnya, terdapat rekaman kaset bertuliskan tangan, foto-foto studio 90-an, dan surat-surat pribadi yang menyimpan jejak pergulatan seorang anak dari keluarga dokter yang memilih jalur berbeda.
Jejak Kreatif Empat Dekade
Andi Bayou, sosok yang lahir dengan nama lengkap Raden Andi Haryo Setiawan, lahir di Yogyakarta pada 20 Agustus 1971, dari keluarga akademisi medis. Saat banyak orang mengira ia akan meneruskan tradisi keluarga besar, ia justru memilih jalur sunyi menuju musik, sebuah keputusan yang membawanya ke Jakarta pada usia muda, memulai semuanya dari titik nol.
Perjalanan itu menjadikannya salah satu tokoh penting di balik layar industri musik Indonesia. Dari band Bayou yang sempat mencuri perhatian pada tahun 1990-an hingga keterlibatannya dalam produksi album musisi besar seperti Iwan Fals, Sheila on 7, Judika, Nicky Astria, Agnez Mo, hingga deretan jebolan program pencarian bakat nasional.
Namun, pameran ini tidak sekadar merayakan keberhasilan. Andi ingin menunjukkan ruang batin yang menyertai setiap proses kreatif.
Arsip Sebagai Ruang Kontemplasi
Pameran ini bekerja sama dengan Prodi Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta pimpinan Dr Mikke Susanto, yang menyebut bahwa setiap nada dalam karya Andi adalah “jejak batin, sebuah doa.” Definisi ini mungkin tidak sering kita dengar dari seorang komposer pop. Namun, di museum kecil itu, penjelasan tersebut menemukan bentuknya, mulai dari instrumen yang menua bersama perjalanan, master rekaman yang pernah melintasi batas waktu, hingga catatan harian yang mencatat arah hidup yang mengubah Mas Andi.
Pameran ini juga memperingati 35 tahun perjalanan musikal Andi Bayou, lintasan yang membawanya dari dapur rekaman Indonesia menuju panggung global, seperti dua kali diundang ke kantor pusat Roland di Hamamatsu Jepang, menghadiri pameran musik terbesar dunia Frankfurt Musik Messe di Jerman, dan NAMM Show di Anaheim Amerika Serikat.
Namun, seperti nada yang kembali kepada akarnya, Andi memilih pulang. Ia kembali ke Yogyakarta untuk menemukan makna lain dari musik yang ia geluti, kesunyian, ketulusan, dan pencarian jati diri.
Keputusan yang Melahirkan Museum
Keputusan itu melahirkan Andi Bayou Museum, museum musik pribadi pertama di Indonesia yang dibangun atas prakarsa seorang seniman. Di dalam ruang-ruang museum, narasi itu terasa utuh. Ada studio rekaman interaktif tempat orang bisa merasakan proses kreatif yang selama ini hanya terdengar sebagai hasil akhir, ada ruang pertunjukan kecil tempat musisi muda dapat tampil dan belajar, serta zona edukasi yang menceritakan bagaimana musik Indonesia tumbuh bersama perubahan zaman.
Di dinding, sebuah kutipan Andi menyambut setiap pengunjung: “Musik bukan hanya tentang nada. Ia adalah perjalanan, tentang bagaimana manusia menemui dirinya di antara bunyi, waktu, dan ketulusan.”
Pada akhir kunjungan, orang mungkin tidak hanya pulang dengan pengetahuan baru tentang seorang musisi. Mereka pulang dengan renungan tentang perjalanan kreatif, bahwa di balik karya yang kita dengar, selalu ada manusia yang terus mencari, jatuh bangun, meninggalkan zona nyaman, lalu menemukan rumah dalam diri sendiri.
Di museum itu, arsip bukan sekadar barang lama, melainkan cermin sebuah kehidupan yang tumbuh, berubah, dan terus bergerak, beyond the notes.
