Penuh Pesan Damai, Ini Lirik Lagu Rukun Sama Teman Karya Abdul Mu’ti yang Viral di Kalangan Pelajar

goodside
4 Min Read

Dunia pendidikan Indonesia kembali mendapatkan sentuhan seni yang segar. Bukan melalui peraturan kaku atau edaran birokrasi, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, memilih pendekatan budaya untuk menanamkan nilai karakter pada siswa. Lagu berjudul “Rukun Sama Teman” yang diciptakan langsung oleh beliau kini menjadi sorotan publik dan viral di berbagai platform media sosial.

Bagi Anda yang sedang mencari Lirik Lagu Rukun Sama Teman karya Abdul Mu’ti, lagu ini hadir sebagai respons kreatif terhadap maraknya isu perundungan (bullying) dan pertengkaran di lingkungan sekolah. Abdul Mu’ti mengemas pesan berat tersebut ke dalam melodi yang riang, lirik yang sederhana, namun sarat makna, mengingatkan kita pada kejayaan lagu anak-anak di era 90-an.

Berikut adalah lirik lengkap dari lagu tersebut yang dirancang agar mudah dihafal oleh siswa Sekolah Dasar hingga Menengah:

Lirik Lagu Rukun Sama Teman (Karya: Abdul Mu’ti)

Tepuk tangan… Tepuk tangan Wajah gembira… Tiada cemberut

Kami sesama teman Saling menyayang… Saling menjaga

Mari kawan… Mari kawan Bergandeng tangan… Tanda setia

Rukun… Rukun… Rukun sama teman Rukun… Rukun… Rukun sama teman

Jangan bertengkar… Jangan bertengkar Jangan mengejek… Jangan mengejek

Mari kawan… Mari kawan Hormati guru… Sayangi teman

Rukun… Rukun… Rukun sama teman Rukun… Rukun… Rukun sama teman

Pendekatan Kultural dalam Pendidikan Karakter

Langkah Abdul Mu’ti merilis lagu ini dinilai sebagai manuver cerdas dalam komunikasi publik. Dalam perspektif kritik budaya pop, lagu ini mengisi kekosongan konten ramah anak yang edukatif di industri musik Indonesia saat ini. “Rukun Sama Teman” bukan sekadar jingle; ia adalah skenario sosial yang dituangkan dalam bentuk audio.

Lirik yang repetitif pada bagian chorus (“Rukun… Rukun… Rukun sama teman”) berfungsi sebagai hook yang kuat, sebuah teknik yang biasa digunakan dalam penulisan lagu pop komersial agar pesan menempel di alam bawah sadar pendengarnya. Bedanya, pesan yang ditanamkan di sini adalah nilai perdamaian dan anti-kekerasan.

Frasa “Jangan bertengkar” dan “Jangan mengejek” secara eksplisit menargetkan dua masalah utama di sekolah dasar: kekerasan fisik dan verbal. Namun, Abdul Mu’ti menyeimbangkannya dengan solusi visual melalui lirik “Bergandeng tangan” dan “Wajah gembira”, menciptakan imajinasi kolektif tentang sekolah yang aman dan menyenangkan.

Relevansi di Tengah Krisis Bullying

Peluncuran lagu ini sejalan dengan visi Kemendikdasmen untuk memperkuat pendidikan karakter. Di tengah gempuran konten digital yang sering kali tidak terfilter, kehadiran lagu ini menjadi oase. Video musik atau klip yang beredar menampilkan visual anak-anak sekolah yang beragam, merepresentasikan Bhinneka Tunggal Ika, memperkuat narasi bahwa kerukunan harus terjadi di atas perbedaan.

Para pengamat pendidikan dan orang tua menyambut baik inisiatif ini. Lagu ini diharapkan tidak hanya dinyanyikan saat upacara atau kegiatan formal, tetapi menjadi soundtrack keseharian siswa saat bermain. Dengan menghafal liriknya, diharapkan internalisasi nilai saling menghormati akan tumbuh secara organik, bukan karena paksaan aturan tata tertib sekolah semata.

Karya Abdul Mu’ti ini membuktikan bahwa kebijakan publik bisa disampaikan dengan nada yang merdu. “Rukun Sama Teman” kini bukan lagi sekadar lirik di atas kertas, melainkan himne persahabatan bagi generasi penerus bangsa.

Share This Article
Leave a Comment