Industri perfilman tanah air kembali disuguhkan karya yang memicu diskusi hangat di media sosial. Muncul pertanyaan di benak banyak penonton: “Sinopsis film Ayah, ini arahnya ke mana ya?” Pertanyaan ini merefleksikan kompleksitas narasi yang diusung, di mana film tidak sekadar menjual air mata, namun juga sebuah teka-teki moralitas dan hubungan keluarga yang berlapis.
Secara garis besar, film Ayah mengisahkan perjalanan seorang pria paruh baya yang berjuang melawan demensia sambil mencoba memperbaiki hubungan yang retak dengan anak tunggalnya. Namun, berbeda dengan drama keluarga konvensional, film ini menggunakan teknik penceritaan non-linear yang membuat penonton harus menyusun kepingan memori sang tokoh utama untuk memahami realitas yang sebenarnya terjadi.
Direktur kreatif film ini mengungkapkan bahwa kebingungan penonton memang menjadi bagian dari pengalaman sinematik yang ingin disampaikan. Penonton diajak untuk merasakan disorientasi yang dialami oleh sang Ayah, sehingga pertanyaan mengenai arah cerita menjadi valid sebagai bentuk keterikatan emosional audiens terhadap plot.
Memasuki babak kedua, alur mulai bergeser dari sekadar drama domestik menjadi eksplorasi psikologis. Penonton diperlihatkan pada kilas balik yang sering kali bertabrakan dengan kejadian di masa kini. Di sinilah letak jawaban atas pertanyaan “ke mana arahnya”. Film ini mengarah pada konfrontasi antara penyesalan masa lalu dan penerimaan di masa sekarang. Puncaknya bukan pada resolusi konflik yang rapi, melainkan pada penerimaan atas ketidaksempurnaan seorang orang tua.
Secara teknis, penggunaan palet warna yang berubah-ubah sesuai dengan kondisi mental sang tokoh utama menjadi petunjuk visual bagi penonton. Saat memori terasa jernih, warna tampil hangat; sebaliknya, saat arah cerita terasa kabur, visual menjadi dingin dan suram. Hal ini mempertegas bahwa arah film ini adalah sebuah perjalanan ke dalam batin, bukan sekadar perjalanan fisik antar lokasi.
Bagi Anda yang masih merasa asing dengan beberapa simbolisme di dalamnya, sangat disarankan untuk memperhatikan detail-detail kecil seperti jam dinding yang berhenti atau surat-surat yang tak terkirim dalam adegan-adegan kunci. Elemen-elemen tersebut adalah kompas yang menunjukkan ke mana sebenarnya narasi ini bermuara.
Pada akhirnya, Ayah bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah refleksi. Meski pada awalnya penonton bertanya-tanya mengenai arah ceritanya, konklusi film ini memberikan kepuasan emosional yang mendalam bagi mereka yang sabar mengikuti setiap remah-remah petunjuk yang ditinggalkan sang sutradara.
