Perjalanan panjang selama hampir tiga dekade akhirnya menemui titik henti yang emosional. Proyek Rebuild of Evangelion mencapai puncaknya melalui film pamungkas bertajuk Evangelion: 3.0+1.0 Thrice Upon a Time. Di kalangan penggemar dan mesin pencari, kueri evangelion 30+ kini menjadi tren utama, merujuk pada versi final yang tidak hanya menutup cerita, tetapi juga menyembuhkan luka lama para penggemar sejak seri orisinalnya di tahun 1995.
Sebagai bagian akhir dari tetralogi Rebuild, film ini bukan sekadar sekuel. Ia adalah sebuah dekonstruksi dan rekonstruksi total atas karya Hideaki Anno. Sejak dirilis secara global di platform streaming dan fisik dalam versi “3.0+1.01” atau “3.0+1.11”, antusiasme publik terhadap “versi plus” ini tidak pernah surut. Hal ini disebabkan oleh adanya perbaikan visual yang signifikan dan penambahan detail animasi yang membuat pengalaman menonton menjadi jauh lebih imersif dibandingkan versi teatrikalnya.
Inti dari daya tarik Evangelion 30+ terletak pada penyelesaian konflik internal Shinji Ikari. Setelah kehancuran mental yang dialaminya di film ketiga (You Can (Not) Redo), film penutup ini membawa penonton ke pemukiman warga yang selamat, memberikan nuansa kemanusiaan yang jarang terlihat dalam seri Evangelion sebelumnya. Fokus cerita bergeser dari sekadar pertarungan robot raksasa (EVA) melawan entitas asing (Angel), menjadi sebuah meditasi tentang kedewasaan, pengampunan, dan keberanian untuk melepaskan masa lalu.
Secara teknis, Studio Khara menggunakan teknologi hibrida CGI dan animasi tradisional yang sangat ambisius dalam film ini. Versi “plus” yang beredar di pasaran saat ini adalah bentuk final dari visi Hideaki Anno. Anno, yang dikenal perfeksionis, melakukan revisi pada ratusan cut gambar untuk memastikan bahwa kualitas visualnya tetap relevan hingga bertahun-tahun ke depan. Inilah alasan mengapa pencarian kueri evangelion 30+ terus meningkat; penonton ingin memastikan mereka menyaksikan versi terbaik dari mahakarya ini.
“Film ini adalah cara saya mengucapkan selamat tinggal pada semua Evangelion,” ujar Anno dalam sebuah dokumenter produksinya. Pernyataan ini terefleksi dalam slogan ikonik filmnya: “Bye-bye, all of EVANGELION”. Pesan ini tidak hanya ditujukan untuk karakter di dalam film, tetapi juga bagi para penggemar yang telah tumbuh besar bersama waralaba ini selama 28 tahun.
Bagi penonton baru maupun veteran, mengakses Evangelion 3.0+1.0 saat ini jauh lebih mudah. Dengan ketersediaannya di berbagai platform legal, teka-teki mengenai Human Instrumentality Project akhirnya terjawab dengan cara yang lebih optimis. Tidak ada lagi akhir yang membingungkan atau menggantung; Anno memberikan penutup yang memberikan rasa lega sekaligus haru.
Sebagai penutup, Evangelion 30+ adalah bukti nyata bagaimana sebuah karya seni bisa berevolusi bersama penciptanya. Jika Anda mencari sebuah sinema yang menantang akal budi sekaligus menyentuh hati, tidak ada alasan untuk melewatkan babak terakhir ini. Ini bukan sekadar akhir dari sebuah anime, melainkan akhir dari sebuah era.
