Mencekam! Ini 5 Fakta Unik di Balik Layar dan Lokasi Syuting Malam 3 Yasinan yang Jarang Diketahui

goodside
3 Min Read

Di balik kesuksesan teror yang disajikan dalam film horor religi paling dibicarakan tahun ini, ternyata terdapat berbagai cerita menarik yang tidak tertangkap kamera. Mulai dari pemilihan tempat yang dianggap “bernyawa” hingga kejadian di luar nalar, fakta unik di balik layar dan lokasi syuting Malam 3 Yasinan kini mulai terungkap ke publik, menambah lapisan kengerian tersendiri bagi para penggemarnya.

Lokasi syuting utama film ini dipastikan menggunakan sebuah rumah tua peninggalan era kolonial yang terletak di pelosok wilayah Yogyakarta. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan; sang sutradara menginginkan atmosfer “dingin” dan otentik yang tidak bisa diciptakan di dalam studio. Penggunaan lokasi asli ini menjadi salah satu faktor kunci mengapa visual dalam film terasa begitu menyesakkan.

Lokasi Syuting yang Terisolasi dan Angker

Salah satu poin utama dalam fakta unik di balik layar dan lokasi syuting Malam 3 Yasinan adalah kondisi rumah yang digunakan. Rumah tersebut telah kosong selama lebih dari 30 tahun sebelum akhirnya dijadikan set rumah keluarga Pak Darman. Tim produksi bahkan harus melakukan pembersihan area dan “permisi” secara adat kepada sesepuh setempat sebelum memulai proses pengambilan gambar.

“Kami tidak hanya mencari rumah yang terlihat tua, tapi rumah yang memiliki ‘jiwa’. Saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, suhunya terasa beberapa derajat lebih dingin dibandingkan area sekitarnya,” ungkap desainer produksi film tersebut dalam sebuah wawancara eksklusif.

Kejadian Mistis Saat Prosesi Yasinan

Bukan film horor Indonesia namanya jika tidak dibumbui cerita mistis. Selama syuting adegan krusial malam ketiga, dilaporkan bahwa beberapa kru sempat mengalami gangguan suara misterius. Saat adegan pengajian berlangsung, tim audio menangkap frekuensi suara gumaman yang tidak berasal dari para aktor pendukung (extras).

Kejadian ini sempat membuat proses syuting dihentikan selama beberapa jam untuk menenangkan suasana. Namun, alih-alih merasa terhambat, sang sutradara justru menggunakan momentum ketegangan asli tersebut untuk menangkap ekspresi ketakutan yang lebih organik dari para pemain.

Dedikasi Pemain: Riset Ritual yang Mendalam

Fakta unik lainnya datang dari para pemeran utama, termasuk Aghniny Haque dan Jourdy Pranata. Mereka diwajibkan mengikuti workshop khusus untuk memahami tata cara ritual doa yang benar agar tidak terjadi kesalahan semantik dalam penyampaian doa-doa di layar. Hal ini dilakukan untuk menjaga rasa hormat terhadap tradisi lokal sekaligus memastikan akurasi konten religi dalam film tersebut.

Bahkan, Sujiwo Tejo yang berperan sebagai Ki Sastro membawa beberapa atribut pribadinya untuk memperkuat karakter antagonis yang ia mainkan. Dedikasi ini membuat karakter Ki Sastro tidak hanya terlihat sebagai penjahat biasa, tapi sebagai sosok yang berwibawa sekaligus mengintimidasi.

Tantangan Teknis: Pencahayaan Alami

Untuk mempertahankan kesan suram, tim sinematografi meminimalkan penggunaan lampu elektrik modern. Sebagian besar adegan malam hari menggunakan pencahayaan asli dari lilin dan lampu minyak. Meskipun memberikan tantangan teknis yang berat dalam hal fokus kamera, hasilnya adalah visualisasi horor yang sangat intim dan terasa nyata bagi penonton.

Share This Article
Leave a Comment