Mengungkap Asal-usul Santet Janur Ireng dan Konflik Trah Pitu Sekitar 10 Tahun Sebelum Sewu Dino

goodside
4 Min Read

Jagat sinematik yang dibangun oleh MD Pictures berdasarkan karya SimpleMan semakin meluas dengan rilisnya film Janur Ireng. Sebagai prekuel, film ini secara khusus menyoroti asal-usul santet Janur Ireng dan konflik Trah Pitu sekitar 10 tahun sebelum Sewu Dino meledak di keluarga Atmojo. Periode satu dekade ini menjadi krusial karena merupakan titik balik di mana aliansi rahasia dan pengkhianatan di antara tujuh keluarga penguasa (Trah Pitu) mulai menumpahkan darah.

Inti dari narasi ini berfokus pada keluarga Kuncoro, salah satu anggota Trah Pitu yang berusaha mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan ilmu hitam yang sengit. Sekitar sepuluh tahun sebelum peristiwa yang dialami Sri di film Sewu Dino, sebuah tragedi besar terjadi yang melibatkan Sabdo (diperankan oleh Marthino Lio). Sabdo bukan sekadar korban; ia adalah sumbu dari terciptanya santet Janur Ireng yang legendaris, sebuah kutukan yang diklaim jauh lebih brutal dan sistematis dibandingkan santet Sewu Dino.

Akar Dendam dan Terciptanya Janur Ireng

Dalam pemahaman semantik lore Trah Pitu, Janur Ireng lahir dari rasa sakit hati dan perebutan kekuasaan yang tak seimbang. Konflik bermula ketika salah satu keluarga berusaha memusnahkan keluarga lainnya dengan cara yang paling hina. Berbeda dengan santet biasa, Janur Ireng berfungsi sebagai “pengikat” nasib, di mana nyawa para korban seolah dijaminkan untuk kekuatan yang lebih besar.

Sutradara Kimo Stamboel secara visual menggambarkan bahwa 10 tahun sebelum peristiwa Sewu Dino, kondisi sosial dan mistis di pedalaman Jawa masih sangat kental dengan pengaruh ilmu hitam kuno. “Janur Ireng adalah bentuk murni dari dendam. Jika Sewu Dino adalah tentang bertahan hidup, maka Janur Ireng adalah tentang alasan mengapa seseorang memilih untuk menjadi monster,” ungkap Kimo dalam sebuah wawancara eksklusif.

Posisi Strategis dalam Konflik Trah Pitu

Konflik Trah Pitu yang menjadi latar belakang film ini menjelaskan mengapa keluarga Atmojo (diwakili oleh Mbah Karsa) dan keluarga Kuncoro berada dalam posisi yang kita lihat di masa depan. Perseteruan ini melibatkan perebutan “peliharaan” mistis dan wilayah kekuasaan yang bersifat gaib. Penonton diperlihatkan bagaimana aturan-aturan dalam tujuh keluarga ini dilanggar, yang akhirnya memicu perang dingin berdarah selama satu dekade.

Keterkaitan antara dua film ini sangat erat. Jika di Sewu Dino kita melihat dampak akhirnya, di Janur Ireng kita melihat bagaimana benih-benih kehancuran tersebut ditanam. Karakter seperti Sugik muda memberikan perspektif tambahan mengenai bagaimana posisi asisten atau abdi dalam keluarga Trah Pitu seringkali menjadi bidak catur yang paling menderita.

Relevansi Bagi Penonton

Memahami asal-usul santet Janur Ireng dan konflik Trah Pitu sekitar 10 tahun sebelum Sewu Dino memberikan konteks emosional yang lebih dalam saat menonton ulang seluruh waralaba ini. MD Pictures nampaknya sengaja menyusun timeline ini agar penonton bisa merasakan betapa masifnya skala permainan kekuasaan yang dilakukan oleh para penguasa ilmu hitam di tanah Jawa tersebut.

Bagi para penggemar, film ini bukan hanya sekadar tontonan horor, melainkan potongan teka-teki (puzzle) besar yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menggantung sejak tahun 2023. Dengan kualitas produksi yang solid dan akting memukau dari para pemainnya, Janur Ireng berhasil memperkokoh fondasi Sewu Dino Universe di awal tahun 2026 ini.

TAGGED:
Share This Article
Leave a Comment