Penjelasan Ending Penunggu Rumah: Buto Ijo — Apakah Kutukan Benar-Benar Berakhir?

goodside
3 Min Read

Film horor Penunggu Rumah: Buto Ijo menyisakan tanda tanya besar bagi penonton lewat akhir ceritanya yang emosional sekaligus mencekam. Banyak yang mempertanyakan apakah ritual pemutusan janji yang dilakukan Ali berhasil, atau justru menjadi awal dari teror yang lebih besar bagi keturunannya.

Nasib Akhir Keluarga Ali: Selamat dengan Harga Mahal

Jawaban utama dari penjelasan ending Penunggu Rumah: Buto Ijo adalah keberhasilan Ali (pemeran utama) dalam menyelamatkan anaknya dari cengkeraman fisik sang Buto Ijo, namun dengan pengorbanan yang fatal. Di babak final, Maya, istri Ali, memilih untuk mengorbankan jiwanya sebagai pengganti tumbal yang tertunda.

Ali memang berhasil membawa anaknya keluar dari rumah tua tersebut sebelum fajar menyingsing, namun film ditutup dengan adegan Maya yang terlihat berdiri membeku di depan cermin kuno dengan mata yang berubah menjadi hijau gelap. Ini menandakan bahwa Maya kini menjadi “penunggu” baru di rumah tersebut, menggantikan posisi entitas Buto Ijo yang sebelumnya terikat.

Analisis Simbolisme: Mengapa Kutukan Belum Pudar?

Secara semantik, sutradara memberikan petunjuk melalui simbolisme sesaji yang tidak hancur sepenuhnya saat ritual pembakaran. Hal ini memberikan penjelasan ending Penunggu Rumah: Buto Ijo yang lebih gelap: kontrak pesugihan dengan entitas kuno tidak bisa dibatalkan hanya dengan keberanian, melainkan harus ada pertukaran nyawa yang setimpal (soul exchange).

Dalam adegan terakhir di mobil, terlihat sebuah memar berbentuk telapak tangan hijau di punggung bayi Ali. Hal ini mengindikasikan bahwa meski secara fisik selamat, sang anak telah “ditandai” sebagai properti mistis milik sang raksasa. Hal ini memicu teori di kalangan penggemar bahwa sang anak akan menjadi katalisator utama jika film ini berlanjut ke sekuel.

Plot Twist: Rahasia Kakek Ali Terungkap

Salah satu kejutan terbesar di akhir film adalah pengungkapan bahwa kakek Ali bukan hanya pelaku pesugihan, melainkan ia telah “menjual” seluruh garis keturunan laki-laki dalam keluarga tersebut demi kekayaan abadi. Inilah alasan mengapa Buto Ijo begitu gigih mengejar Ali dan anaknya.

Gagalnya ritual penghancuran prasasti di bawah tanah menunjukkan bahwa kekuatan Buto Ijo tidak berasal dari benda tersebut, melainkan dari darah yang mengalir di tubuh Ali. Secara naratif, ini merupakan kritik sosial tentang bagaimana dosa masa lalu orang tua akan terus menghantui generasi berikutnya tanpa henti.

Penjelasan Post-Credit Scene

Bagi penonton yang bertahan hingga akhir kredit, terdapat satu adegan singkat (mid-credit scene) yang memperlihatkan seorang kolektor barang antik menemukan keris yang sebelumnya digunakan Ali untuk melawan Buto Ijo. Keris tersebut bergetar hebat saat diletakkan di lemari pajangan, yang mengisyaratkan bahwa esensi kekuatan Buto Ijo kini berpindah ke objek lain dan siap mencari inang baru.

Penjelasan ending Penunggu Rumah: Buto Ijo ini mengonfirmasi bahwa film ini tidak hanya bertujuan memberikan horor sesaat, tetapi membangun universe horor yang lebih luas. Dengan akhir yang open-ended, penonton dipaksa untuk terus mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada keluarga Ali di masa depan.

Share This Article
Leave a Comment