Setelah dinantikan oleh para pecinta genre drama, film Suka Duka Tawa akhirnya resmi menyapa penonton di layar lebar. Sebagai salah satu film yang paling banyak dibicarakan di awal tahun 2026, film ini menjanjikan kedalaman emosi yang jarang ditemukan dalam drama keluarga konvensional. Melalui review film Suka Duka Tawa ini, kami akan membedah mengapa karya ini menjadi standar baru bagi narasi slice-of-life di Indonesia.
Verdict: Sebuah Mahakarya Emosional yang Matang
Secara keseluruhan, Suka Duka Tawa adalah sebuah pencapaian sinematik yang gemilang. Sutradara berhasil meramu naskah yang terlihat sederhana menjadi sebuah eksplorasi psikologis tentang bagaimana luka masa lalu dapat membentuk dinamika sebuah keluarga. Film ini tidak hanya memberikan “tawa” sebagai bumbu komedi, tetapi menjadikannya sebagai mekanisme pertahanan para karakter dalam menghadapi “duka” yang mendalam.
Kekuatan Akting: Panggung Bagi Lukman Sardi dan Sheila Dara
Salah satu aspek terkuat yang patut disorot dalam review film Suka Duka Tawa ini adalah departemen aktingnya. Lukman Sardi memberikan performa kelas satu sebagai Bapak Surya; ia mampu menunjukkan kerapuhan seorang ayah di balik ketegasannya hanya melalui sorot mata.
Namun, kejutan terbesar datang dari Sheila Dara yang memerankan Gita. Transformasinya dari seorang anak sulung yang tampak tangguh menjadi sosok yang hancur di bawah tekanan finansial adalah jantung dari film ini. Chemistry antara Sheila, Reza Rahadian, dan Lutesha sebagai kakak-beradik terasa sangat organik—lengkap dengan pertengkaran kecil dan sindiran-sindiran tajam yang sangat akrab di telinga keluarga Indonesia.
Teknis dan Narasi: Pacing yang Pas namun Sedikit Melankolis
Dari sisi teknis, sinematografi film ini patut diacungi jempol. Penggunaan teknik close-up yang intens memberikan ruang bagi penonton untuk ikut merasakan sesak yang dialami karakter. Skoring musik yang minimalis namun tepat sasaran mampu membangun suasana tanpa harus terasa manipulatif atau memaksa penonton untuk menangis.
Namun, film ini bukan tanpa celah. Pada babak kedua, pacing atau tempo cerita terasa sedikit melambat saat mencoba memberikan latar belakang pada masing-masing karakter secara mendalam. Bagi penonton yang terbiasa dengan alur cepat, bagian ini mungkin akan terasa sedikit melelahkan. Meski begitu, hal ini terbayar lunas dengan konklusi atau ending yang terasa jujur, tidak klise, dan memberikan ruang bagi penonton untuk berefleksi.
Apakah Layak Ditonton?
Jika Anda bertanya apakah film ini layak ditonton, jawabannya adalah wajib. Suka Duka Tawa bukan sekadar film tentang konflik warisan atau pertengkaran keluarga biasa. Ia adalah cermin bagi setiap orang yang pernah merasa asing di tengah keluarganya sendiri. Film ini mengajarkan bahwa memaafkan tidak selalu berarti melupakan, melainkan belajar untuk hidup berdampingan dengan luka tersebut.
