Sebuah era dalam sejarah pertelevisian Indonesia resmi berakhir. Memasuki awal Januari 2026, robot kucing legendaris asal abad ke-22, Doraemon, tidak lagi menghiasi layar kaca setiap Minggu pagi. Hilangnya serial animasi karya Fujiko F. Fujio dari jadwal siaran RCTI ini memicu gelombang pertanyaan di media sosial, terutama mengenai alasan utama di balik keputusan besar tersebut.
Berdasarkan pantauan jadwal siaran resmi dan aplikasi RCTI+, slot “keramat” hari Minggu pukul 08.00 WIB yang selama 35 tahun identik dengan Doraemon kini telah digantikan oleh program lain. Hingga pekan pertama Januari 2026, pihak stasiun televisi memang belum mengeluarkan pernyataan resmi secara tertulis. Namun, analisis dari para pengamat industri media dan sumber internal industri hiburan menunjukkan bahwa berakhirnya masa tayang ini berkaitan erat dengan habisnya kontrak lisensi hak siar eksklusif.
Peralihan Hak Siar dan Strategi Digital
Alasan utama yang mengemuka adalah pergeseran strategi distribusi konten dari pihak pemegang lisensi, Animation International Indonesia. Dalam industri film dan animasi modern, distribusi tidak lagi tersentralisasi pada televisi terestrial (FTA). Tren menunjukkan bahwa pemilik kekayaan intelektual (IP) cenderung beralih ke platform streaming (OTT) yang menawarkan monetisasi lebih stabil dan jangkauan global tanpa batas waktu tayang.
Selain itu, indikasi hengkangnya Doraemon dari “rumah lamanya” sudah terlihat sejak setahun terakhir. Beberapa film layar lebar terbaru Doraemon tidak lagi ditayangkan perdana di grup media yang sama, melainkan berpindah ke stasiun TV kompetitor dan jaringan bioskop yang lebih luas. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kerja sama eksklusif yang terjalin sejak 1989 tersebut memang tidak diperpanjang.
Dampak Budaya dan Ritual Minggu Pagi
Bagi masyarakat Indonesia, berhenti tayangnya Doraemon bukan sekadar urusan teknis bisnis. Ini adalah hilangnya ritual kebudayaan. Sejak pertama kali mengudara secara nasional di awal 1990-an, Doraemon telah menjadi saksi bisu pertumbuhan setidaknya tiga generasi penonton. Kehadiran Nobita, Shizuka, Gian, dan Suneo setiap Minggu pagi telah menjadi standar kenyamanan bagi keluarga di Indonesia.
“Doraemon adalah jangkar nostalgia. Berhentinya tayangan ini di TV nasional menandai transisi penuh kita ke era digital, di mana penonton kini harus ‘menjemput’ konten secara mandiri di platform berbayar, bukan lagi menunggu di depan televisi,” ujar seorang pengamat media film di Jakarta.
Masa Depan Doraemon: Ke Mana Harus Menonton?
Meski pamit dari TV nasional, bukan berarti petualangan Doraemon berakhir sepenuhnya. Penggemar masih dapat menikmati ribuan episode dan film panjang melalui layanan streaming resmi seperti Netflix, Disney+ Hotstar, atau Vidio, tergantung pada ketersediaan lisensi tahunan. Selain itu, film teatrikal tahunan Doraemon diprediksi akan tetap masuk ke jaringan bioskop Indonesia mengingat basis penggemarnya yang sangat masif.
Keputusan berhenti tayangnya Doraemon di TV nasional menjadi pengingat bagi industri media bahwa pola konsumsi audiens telah berubah total. Meski pintu ajaibnya kini tertutup di layar kaca, warisan cerita tentang persahabatan dan imajinasi ini dipastikan akan tetap hidup di ruang-ruang digital yang baru.
