Kabar duka menyelimuti industri musik independen tanah air. Galih Naga Seno, yang dikenal luas sebagai vokalis Coffternoon meninggal dunia pada hari senin 2 Februari 2026. Kabar berpulangnya musisi yang memiliki karakter suara khas ini menyebar cepat di berbagai platform media sosial pada hari ini, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan musisi, dan para penggemarnya yang akrab disapa “Teman Berteduh”.
Kabar meninggalnya Galih dikonfirmasi melalui unggahan resmi akun media sosial band serta pernyataan dari kerabat terdekat. Almarhum mengembuskan napas terakhirnya di Pontianak, Kalimantan Barat. Kepergian sosok yang menjadi wajah utama di balik lagu-lagu puitis Coffternoon ini menjadi kehilangan besar bagi kancah musik lokal yang sedang berkembang pesat.
Detail Kepergian dan Penghormatan Terakhir
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Galih meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan medis. Meskipun detail medis secara spesifik tetap dijaga privasinya oleh pihak keluarga, ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai tokoh kreatif di Indonesia. Rekan-rekan satu bandnya di Coffternoon menyatakan bahwa Galih bukan sekadar rekan kerja, melainkan ruh dari lirik-lirik yang mereka lahirkan selama ini.
Jenazah rencananya akan dimakamkan di tempat pemakaman umum setempat setelah prosesi penghormatan terakhir oleh pihak keluarga dan kerabat. Banyak musisi lokal yang terlihat hadir memberikan penghormatan, mengenang sosok Galih sebagai musisi yang rendah hati dan memiliki dedikasi tinggi terhadap seni musik di Kalimantan Barat.
Jejak Karier Bersama Coffternoon
Sebagai vokalis utama, Galih Naga Seno berperan vital dalam mengangkat nama Coffternoon ke panggung nasional. Terbentuk di Pontianak, band ini dikenal dengan genre pop folk yang kental dengan narasi puitis dan melodi yang menenangkan. Album “Tentang Bagaimana” menjadi salah satu tonggak sejarah mereka, di mana vokal Galih memberikan interpretasi yang kuat pada setiap bait liriknya.
Lagu-lagu seperti “Amira”, “Sepanjang Jalan Kenangan”, dan “Manusia Terkuat di Bumi” menjadi saksi bisu kemampuan Galih dalam merangkai emosi melalui suara. Di bawah kepemimpinannya sebagai vokalis, Coffternoon berhasil menembus batasan geografis, membuat musik dari Kalimantan Barat didengar dan diapresiasi di berbagai kota besar di Indonesia hingga ke Malaysia.
Dampak dan Kehilangan bagi Industri
Industri musik indie kehilangan salah satu talenta terbaiknya. Galih dikenal tidak hanya karena suaranya, tetapi juga karena kemampuannya dalam melakukan storytelling di atas panggung. Kepergiannya memicu kembali diskusi mengenai pentingnya literasi musik dan apresiasi terhadap musisi lokal yang konsisten berkarya dari daerah.
Bagi banyak penggemar, suara Galih adalah teman saat senja, sesuai dengan nama band yang mereka usung. Media sosial kini dipenuhi dengan potongan video penampilan terakhir almarhum dan kutipan lirik-lirik lagu Coffternoon sebagai bentuk apresiasi atas karya yang telah ia wariskan.
Kini, meskipun sang vokalis Coffternoon meninggal dunia, karya-karya Galih Naga Seno akan terus abadi dalam ingatan para pendengarnya. Warisan musik yang ia tinggalkan menjadi pengingat bahwa seni yang dibuat dengan hati akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup, melampaui usia sang penciptanya sendiri. Selamat jalan, Galih. Suaramu akan selalu menjadi tempat kami berteduh.
