Menelisik Asal-usul Legenda Buto Ijo dalam Mitologi Jawa: Antara Mitos Pesugihan dan Simbolisme Nafsu

goodside
3 Min Read

Sosok raksasa hijau yang menghantui layar lebar dalam film Penunggu Rumah: Buto Ijo bukanlah sekadar imajinasi murni pembuat film. Asal-usul legenda Buto Ijo dalam mitologi Jawa berakar jauh pada tradisi lisan dan kepercayaan animisme-dinamisme yang telah ada berabad-abad silam, jauh sebelum era modern mengenal istilah film horor.

Akar Kata dan Manifestasi Visual

Secara etimologi, kata “Buto” berasal dari bahasa Sanskerta, Bhuta, yang merujuk pada makhluk besar, raksasa, atau kekuatan alam yang tidak terkendali. Dalam konteks Jawa, ia digambarkan sebagai sosok dengan taring tajam, mata melotot, dan kulit berwarna hijau pekat.

Warna hijau ini bukan tanpa alasan. Dalam asal-usul legenda Buto Ijo dalam mitologi Jawa, warna hijau sering kali dikaitkan dengan nafsu aluamah—sebuah representasi dari kerakusan, ketamakan, dan keinginan manusia yang tidak pernah puas terhadap harta duniawi. Inilah mengapa dalam berbagai cerita rakyat, sosok ini jarang muncul sebagai pelindung, melainkan sebagai entitas yang menuntut pertukaran.

Kontrak Gelap: Fenomena Pesugihan dan Tumbal

Penyebutan Buto Ijo paling populer dalam masyarakat Jawa berkaitan erat dengan fenomena pesugihan. Konon, individu yang ingin kaya secara instan akan melakukan perjanjian gaib dengan entitas ini. Namun, kekayaan tersebut tidak datang cuma-cuma; Buto Ijo dikenal sebagai “penagih janji” yang sangat disiplin.

Mitologi ini menyebutkan bahwa imbalan yang diminta biasanya berupa tumbal nyawa, sering kali adalah anak-anak atau keturunan dari si peminta pesugihan. Narasi inilah yang kemudian diadaptasi secara apik dalam film Penunggu Rumah: Buto Ijo, di mana konflik keluarga Ali bersumber dari utang darah yang belum terbayar. Di masa lalu, cerita-cerita ini berfungsi sebagai instrumen didaktik atau pesan moral bagi masyarakat agar tidak menempuh jalan pintas yang melanggar norma agama dan kemanusiaan.

Evolusi dari Tradisi Lisan ke Budaya Populer

Meskipun tidak ditemukan catatan spesifik dalam serat-serat kuno keraton secara formal, legenda Buto Ijo bertahan melalui tradisi lisan (folklore) yang turun-temurun. Ia sering muncul dalam pertunjukan wayang atau ketoprak sebagai representasi hambatan besar yang harus dikalahkan oleh ksatria—simbol kemenangan kebaikan atas nafsu angkara murka.

Dalam era digital, transformasi Buto Ijo menjadi subjek film horor menunjukkan daya tahan mitos ini dalam memengaruhi psikologi kolektif masyarakat Indonesia. Sutradara film masa kini cenderung memberikan sentuhan baru pada asal-usul legenda Buto Ijo dalam mitologi Jawa dengan menambahkan latar belakang trauma psikologis atau kritik sosial terhadap ketimpangan ekonomi, menjadikannya relevan bagi penonton generasi Z dan milenial.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Monster

Memahami latar belakang budaya ini memberikan dimensi baru saat menyaksikan aksi teror di layar bioskop. Buto Ijo bukan hanya monster CGI; ia adalah perwujudan kegelapan hati manusia yang tertuang dalam bentuk raksasa.

Bagi para penonton, mengetahui sejarah dan filosofi di balik entitas ini dapat meningkatkan rasa ngeri sekaligus kekaguman terhadap kekayaan imajinasi leluhur. Keberhasilan film horor lokal belakangan ini membuktikan bahwa mitologi nusantara adalah tambang emas cerita yang belum sepenuhnya tergali.

Share This Article
Leave a Comment