6 Tokoh Kunci Film Dukun Magang: Jefan Nathanio dan Hana Saraswati

Falah Malaika Az Zahra
Falah Malaika Az Zahra
Reporter Spesialis Pop Kultur & Ekosistem Digital. Berbekal latar belakang ilmu jurnalistik, Falah fokus mengawal perkembangan industri kreatif mulai dari dinamika sinema, musik, komunitas anime, hingga...

Liputan6.com, Jakarta – Film Dukun Magang akan segera hadir di bioskop Indonesia pada 18 Juni 2026, menandai kolaborasi perdana antara Jefan Nathanio dan Hana Saraswati. Bukan sekadar proyek horor biasa, film garapan sineas Chiska Doppert ini justru mengedepankan warna komedi yang segar dengan porsi 80 persen, menyisakan 20 persen untuk sentuhan mencekam. Ketika dua bintang muda ini dipertemukan, chemistry justru terjalin alami meski terbentang perbedaan usia hampir satu dekade. Lantas, siapa saja tokoh-tokoh kunci yang akan menghidupkan kisah unik para mahasiswa magang di dunia perdukunan ini? Berikut rangkumannya.

1. Jefan Nathanio sebagai Raka

Mengenakan peran Raka, Jefan Nathanio menjadi pusat dari jalinan cerita Dukun Magang. Aktor 20 tahun yang namanya kian diperhitungkan lewat sinetron Asmara Gen Z ini mengaku sangat menikmati setiap proses syuting. “Aku senang banget dapat film ini. Bahkan, andai dapat tawaran syuting film komedi horor lagi, gas sih. Seru dan ketawa melulu,” tuturnya saat wawancara eksklusif di Gedung KLY Jakarta.

Raka digambarkan sebagai mahasiswa yang tidak sengaja terseret ke dalam situasi absurd bersama rekan kampusnya, Sekar. Tantangan terbesar bukan berasal dari nuansa supranatural, melainkan bagaimana menjaga ritme komedi tetap mengalir tanpa kehilangan unsur ketegangan khas horor. Jefan meyakini bahwa pembagian 80:20 tersebut telah diracik dengan matang oleh tim produksi sehingga kedua elemen tidak tumpang tindih.

2. Hana Saraswati dan Sekar: Chemistry Tanpa Jarak Usia

Di sisi lain, Hana Saraswati menghidupkan karakter Sekar, rekan magang yang juga mahasiswi di kampus yang sama. Pada usia 29 tahun, Hana telah memiliki jam terbang yang cukup di dunia akting, namun perbedaan usia 9 tahun dengan Jefan tidak menjadi kendala. “Kurang lebih aku beda gap umurnya lumayan jauh dengan Hana Saraswati, tapi bonding-nya segampang itu. Mungkin karena dalam industri film kami sering berteman dengan yang lebih tua atau muda,” jelas Jefan.

Kekhawatiran akan kecanggungan di depan kamera pun sirna. Justru kedekatan ini menghasilkan interaksi yang terasa natural, mendukung dinamika komedi yang ingin ditonjolkan. Penonton dapat menantikan bagaimana Sekar dan Raka saling melengkapi dalam menghadapi situasi konyol sekaligus mencekam selama masa magang di tempat yang tak biasa.

3. Visi Sutradara Chiska Doppert

Sosok di balik kamera, Chiska Doppert, memegang peranan vital dalam menentukan arah artistik Dukun Magang. Sebagai sutradara, ia berhasil meyakinkan para pemain bahwa horor dan komedi bisa bersanding tanpa saling mengorbankan identitas genre. Komposisi 80 persen komedi dan 20 persen horor yang disebut Jefan merupakan cerminan dari visi Chiska untuk menawarkan hiburan ringan yang tetap punya gigitan di momen-momen tertentu.

Keputusan untuk mengeksplorasi komedi dalam balutan mitos dukun magang menjadi langkah cerdas di tengah jenuhnya penonton terhadap formula horor yang itu-itu saja. Dengan pendekatan ini, Dukun Magang berpeluang menyasar kalangan yang lebih luas, termasuk mereka yang biasanya enggan menonton film horor murni.

4. Trio Penulis: Endik Koeswoyo, Mo Sidik, dan Adi Nugroho

Kekuatan sebuah film tak bisa dilepaskan dari fondasi naskah. Dukun Magang beruntung digarap oleh tiga penulis berpengalaman: Endik Koeswoyo, Mo Sidik, dan Adi Nugroho. Kolaborasi mereka melahirkan dialog-dialog yang cerdas sekaligus jenaka tanpa kehilangan benang merah cerita tentang mahasiswa yang menjalani praktik lapangan di dunia mistik.

Dengan pengalaman panjang di industri kreatif, ketiganya mampu meramu konten lokal yang relevan bagi penonton muda. Nuansa persahabatan dan pencarian jati diri menjadi bumbu yang memperkaya plot, sehingga Dukun Magang bukan sekadar komedi situasional, melainkan juga potret ringan tentang kehidupan kampus dan ambisi anak muda.

Melengkapi enam tokoh kunci ini adalah kru dan pemeran pendukung yang tak kalah penting, menunjukkan bahwa Dukun Magang dibangun oleh kolaborasi berbagai talenta yang solid. Bagi pencinta film Indonesia yang menginginkan tontonan santai dengan kadar komedi dominan tanpa meninggalkan sentuhan horor, Dukun Magang bisa menjadi pilihan yang menyegarkan di bulan Juni 2026. Jangan sampai ketinggalan menyaksikan bagaimana Raka dan Sekar mengarungi petualangan magang mereka yang penuh kejutan.

Author

Falah Malaika Az Zahra

Reporter Spesialis Pop Kultur & Ekosistem Digital. Berbekal latar belakang ilmu jurnalistik, Falah fokus mengawal perkembangan industri kreatif mulai dari dinamika sinema, musik, komunitas anime, hingga tren gadget penunjang produktivitas. Laporannya tidak hanya informatif, tetapi juga menangkap esensi dan energi kultur modern, menjadikannya rujukan yang tepercaya sekaligus menghibur bagi Gen Z dan Millenial.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *