Malam di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, punya denyut nadinya sendiri. Kala larut, deretan lapak gulai tikungan atau gultik berubah menjadi magnet yang menyedot anak muda hingga tokoh terkenal. Namun, di tengah padatnya antrean dan cepatnya pesanan datang, ada satu hal yang kini tak lagi menjadi soal: uang kembalian. Sistem pembayaran digital QRIS dari BRI telah menyulap transaksi di lapak-lapak ini menjadi lebih senyap dan gesit, memungkinkan para pedagang fokus pada satu hal yang paling penting, yaitu cita rasa.
Transformasi Lapak Gultik ke Era Digital
Purnomo Setiawan, 43 tahun, adalah salah satu pemilik lapak yang merasakan langsung perubahan itu. Pria yang akrab disapa Purnomo ini memulai perjalanannya bersama bisnis gultik sejak tahun 2008, mengikuti jejak pamannya. Sebelum tangannya cekatan mengaduk kuah gulai, ia sempat mengabdi sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan media. Kini, hidupnya berputar di antara wajan besar berisi kuah bersantan dan layar ponsel yang memindai kode QR.
Kehadiran QRIS, khususnya dari bank pelat merah BRI, bukan sekadar tempelan teknologi di gerobaknya. Bagi Purnomo, yang sudah menjadi nasabah setia BRI sejak masih tinggal di kampung halamannya di Sukoharjo pada tahun 2016, fitur pembayaran ini adalah jembatan rezeki. Ia mengakui, ketika pembeli datang bergelombang, terutama di malam akhir pekan, kecepatan transaksi menjadi kunci. “Sekarang lebih cepat, pembeli tinggal scan saja, jadi nggak perlu nunggu lama atau cari uang kembalian,” ujarnya.
Efisiensi QRIS Dorong Pertumbuhan Omzet Pedagang
Dampak paling terasa dari penggunaan kanal pembayaran nontunai ini adalah pada catatan keuangan. Purnomo menuturkan, adopsi QRIS BRI nyatanya mampu mendorong peningkatan penjualan hingga sekitar 30 persen. Angka ini bukan muncul dari ruang kosong, melainkan dari hilangnya momen-momen canggung dan lama saat menunggu kembalian uang tunai, sebuah jeda yang seringkali membuat calon pembeli lain enggan mengantre.
Perputaran uang di lapak yang kini ia kelola bersama delapan pedagang binaan lainnya pun terbilang tinggi. Di malam akhir pekan yang ramai, satu pedagang gultik bisa menyetorkan omzet sekitar Rp2 juta. Sementara itu, istrinya yang berjualan satai sebagai menu pelengkap, bisa meraup pendapatan hingga Rp1,5 juta hanya dalam semalam. Angka-angka ini adalah bukti bahwa kolaborasi antara kuliner tradisional dan teknologi finansial bukan hanya memudahkan, tetapi juga menggemukkan kantong.
Awal Mula Komunitas Pedagang Gultik BRI
Purnomo tidak sendiri dalam perjalanannya merangkul digital. Ia ditunjuk sebagai bagian dari klaster binaan BRI pada tahun 2022 setelah bertemu dengan tenaga pemasaran bank tersebut. Pertemuan itu menjadi titik balik yang mengubahnya dari sekadar penjual gulai menjadi semacam ketua di antara rekan-rekannya. Kini, ia membina delapan lapak pedagang gultik di kawasan Bulungan dan kerap dipercaya untuk mewakili rekan-rekannya ketika ada kegiatan atau acara yang melibatkan BRI.
Kepercayaan ini tumbuh seiring dengan konsistensinya. Ia menjadi penghubung antara kebutuhan pedagang kaki lima akan transaksi yang praktis dan layanan perbankan yang inklusif. Dari sini terlihat jelas bagaimana sebuah bank seperti BRI tidak hanya menyalurkan produk, tetapi juga membangun ekosistem komunitas yang saling menguatkan di lokasi-lokasi strategis seperti sentra kuliner malam Blok M.
Alasan Pedagang dan Pembeli Setia pada QRIS
Bagi Purnomo dan kawan-kawannya, kesetiaan pada layanan QRIS BRI bukan sekadar ikut tren. Ia menilai, mayoritas pelanggan kini jelas lebih memilih pembayaran nontunai karena dianggap lebih efisien. Tidak perlu lagi drama menghitung lembaran uang kecil di bawah lampu remang-remang, atau pembeli yang kebingungan mencari receh. “Pembeli sekarang lebih banyak maunya pakai QRIS karena lebih efisien, enggak usah mikirin kembalian. Saya sama kawan-kawan tetap setia pakai layanan QRIS BRI,” ucap Purnomo menegaskan.
Pelanggan pun mengamini hal serupa. Kaila, seorang remaja berusia 16 tahun yang kerap mampir bersama temannya, mengaku pengalaman menyantap gultik menjadi lebih mulus. Dengan biaya sekitar Rp120 ribu untuk berempat, yang didapat bukan cuma daging gulai yang empuk dan kuah yang kaya rasa, tapi juga kemudahan pembayaran digital yang sesuai dengan gaya hidup anak muda masa kini. Proses bayar yang instan membuat waktu berkumpul terasa lebih panjang dan menyenangkan.
Dari Legenda Kuliner hingga Ikon Digital
Kawasan Bulungan sendiri bukanlah panggung sembarangan. Lapak-lapak gultik di sini sudah menjadi legenda kuliner malam Ibu Kota sejak puluhan tahun lalu. Purnomo bercerita, asal mula masakan gultik sendiri sebenarnya berasal dari Solo dengan menu andalan gulai daging sapi. Dalam catatan perjalanannya, dulu seporsi gulai dilego seharga Rp2.000, kini seiring waktu dan inflasi, seporsi berukuran wajar dibanderol sekitar Rp10.000.
Nama besar tempat ini juga kerap menarik minat figur publik untuk sekadar mencicipi. Beberapa artis dan tokoh seperti Anang Hermansyah hingga pengacara kondang Hotman Paris pernah singgah dan duduk di bangku plastik yang sama. Kini, perpaduan antara legasi rasa dan modernisasi alat bayar menjadi daya tarik ganda yang sulit ditandingi, membuat Bulungan tetap relevan dari generasi ke generasi.
Praktik Baik Digitalisasi UMKM di Sektor Kuliner
Kisah Purnomo dan lapak gultik Bulungan adalah cermin mikro dari transformasi digital yang terjadi di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Penerapan QRIS BRI menjadi contoh nyata bagaimana teknologi, jika diimplementasikan dengan pendekatan yang tepat, mampu menghilangkan hambatan klasik bisnis tradisional seperti manajemen uang tunai, antrean pembeli yang panjang, hingga potensi kesalahan penghitungan uang.
Dampaknya sangat konkret:
- Transaksi menjadi lebih cepat dan bersih, tanpa perlu menyediakan stok uang receh untuk kembalian.
- Peningkatan omzet yang terukur, dalam kasus ini mencapai sekitar 30 persen.
- Pencatatan arus kas yang lebih otomatis, memudahkan pedagang dalam mengevaluasi performa penjualan harian.
- Menciptakan rasa aman karena mengurangi risiko kehilangan uang tunai atau penerimaan uang palsu.
Model pendampingan yang dilakukan BRI melalui tenaga pemasarannya juga menjadi elemen krusial. Tidak hanya memberi alat bayar, tetapi juga merangkul dan terus melibatkan pedagang dalam berbagai kegiatan, memastikan bahwa tidak ada UMKM yang tertinggal hanya karena gagap teknologi.
Cerita dari sudut ramai Bulungan ini mengajarkan bahwa pertemuan antara lumpur jalanan dan ponsel pintar adalah keniscayaan. QRIS BRI di tangan pedagang gultik seperti Purnomo bukan hanya soal meniadakan receh kembalian, melainkan tentang membangun kembali kepercayaan bahwa bisnis sekecil apa pun bisa tumbuh jika diberi akses ke ekosistem keuangan yang modern dan inklusif.
