Penggemar film zombie Korea Selatan mungkin penasaran, bagaimana jika Colony hadir dengan durasi lebih dari tiga jam? Sutradara Yeon Sang-ho mengungkapkan bahwa draf pertama skenario film terbarunya itu sangat ambisius. Naskah awal Colony mencapai 168 halaman, yang jika difilmkan seluruhnya akan menghasilkan durasi sekitar 3,5 jam. Demi menjaga pengalaman menonton yang intens, ia pun terpaksa membabat habis sebagian besar latar belakang karakter.
Draf Awal yang Terlalu Panjang
Dalam sebuah wawancara, Yeon Sang-ho mengaku bahwa naskah awal Colony digarap dengan sangat padat. Setiap karakter memiliki kisah dan latar belakang yang dalam. Namun, ia dan pihak produser menyadari bahwa durasi 3,5 jam terlalu berlebihan untuk sebuah film thriller yang mengandalkan ketegangan dan aksi cepat.
“Draf pertama dari skenario Colony setebal 168 halaman […] yang akan membutuhkan waktu 3,5 jam untuk menampung semuanya,” ungkap Yeon Sang-ho. Menyadari hal itu, ia memilih mengorbankan kedalaman riwayat masa lalu tokoh-tokohnya demi momentum cerita yang lebih dinamis.
Memangkas Naskah Demi Momentum
Keputusan besar pun diambil. Yeon Sang-ho memangkas naskah secara signifikan hingga menjadi sekitar 100 halaman. “Saya tahu Colony harus bergerak cepat. Saya membentuk film ini di sekitar momentum tersebut dan memangkas naskahnya menjadi sekitar 100 halaman,” tuturnya. Ia ingin penonton merasakan sensasi mendebarkan seperti ikut terseret ke dalam pusaran ketegangan.
Akibat pemotongan besar-besaran ini, beberapa kisah krusial harus rela dieliminasi dari hasil akhir. Salah satu adegan yang dipotong adalah latar belakang mendalam dari para penyintas dan sosok penjahat utama, termasuk momen masa sekolah menengah Yeong-cheol (Koo Kyo-hwan) saat menemui Se-jeong (Jun Ji-hyun).
Dinamika Hubungan yang Tak Biasa
Meski mengorbankan latar belakang karakter, Yeon Sang-ho tidak membiarkan filmnya kehilangan kedalaman emosi. Sebagai gantinya, ia menyuntikkan dinamika hubungan yang unik dan tidak biasa di antara para penyintas. Kehadiran mantan suami Se-jeong yang diperankan oleh Go Soo, serta ketegangan antara seorang perundung sekolah dan mantan korbannya, menjadi contoh bagaimana konflik personal tetap hidup tanpa perlu kilas balik panjang.
“Saya pikir penonton akan dapat membayangkan sendiri kisah mereka secara alami,” jelas Yeon Sang-ho. Pendekatan ini membuat penonton tetap bisa terhubung dengan karakter tanpa mengorbankan ritme cepat yang menjadi nyawa film.
Evolusi Zombie dan Konsep Escape Room
Colony menawarkan teror yang berbeda dari Train to Busan. Jika film sebelumnya menitikberatkan pada drama kemanusiaan antara ayah dan anak, Colony dibangun dengan elemen pelarian ekstrem menyerupai permainan escape room. Sekelompok penyintas, termasuk profesor bioteknologi Se-jeong, terjebak dalam gedung yang diblokade total akibat wabah zombie.
Yang membuatnya semakin mencekam, kawanan zombie di film ini berevolusi menjadi predator yang lebih cerdas. Mereka mampu berkomunikasi dan berpikir secara kolektif melalui sebuah jaringan terkoneksi, menciptakan kontras tajam di mana manusia justru harus mengandalkan komunikasi untuk bertahan hidup.
Rencana Ekspansi di Luar Layar Lebar
Yeon Sang-ho tampaknya tidak ingin dunia Colony berhenti di film saja. Ia mengaku telah menyiapkan strategi ekspansi multidimensi. Sebuah buku pendamping yang mengupas tuntas latar dunia dan karakter Colony sedang digarap, bersamaan dengan proyek adaptasi gim. “Ada sesuatu yang sudah lama saya impikan. Konten dalam film tidak lagi terbatas pada film saja,” cetusnya.
Langkah ini menunjukkan ambisi Yeon Sang-ho untuk membangun semesta Colony yang lebih luas. Dengan berbagai medium yang saling melengkapi, penggemar dapat menyelami lebih dalam misteri dan kengerian dunia yang ia ciptakan, meskipun sebagian kisahnya harus dikorbankan di layar lebar. Colony telah tayang di bioskop Indonesia sejak 3 Juni 2026.
