Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menegaskan komitmennya dalam menjawab tantangan lingkungan melalui peluncuran Living Lab ITB-PISCES. Laboratorium hidup ini menjadi yang kedua yang secara khusus didedikasikan untuk mencari solusi atas persoalan sampah plastik, melanjutkan jejak sukses program serupa yang telah lebih dulu berjalan di Banyuwangi. Kehadirannya diharapkan mampu mendorong pendekatan yang lebih inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Apa Itu Living Lab ITB-PISCES?
Living Lab merupakan konsep laboratorium hidup yang mengintegrasikan riset akademik dengan partisipasi aktif masyarakat. Dalam konteks ITB-PISCES, laboratorium ini dirancang untuk menjadi ruang kolaborasi antara peneliti, pemerintah daerah, pelaku industri, dan warga lokal. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan temuan ilmiah, melainkan menciptakan solusi pengelolaan sampah plastik yang dapat diterapkan langsung di kehidupan sehari-hari.
Nama PISCES sendiri mengacu pada fokus program pada isu plastik di lingkungan pesisir dan perairan, meskipun cakupannya tidak terbatas pada wilayah laut. Dengan pendekatan multidisiplin, laboratorium ini menggabungkan ilmu teknik, sosial, dan kebijakan publik untuk merancang strategi penanganan sampah yang holistik.
Fokus pada Solusi Sampah Plastik yang Inklusif
Kata kunci ‘inklusif’ menjadi pembeda utama dari inisiatif ini. Alih-alih hanya mengandalkan teknologi tinggi yang kerap sulit dijangkau, Living Lab ITB-PISCES menekankan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari pemulung, pelaku usaha daur ulang skala kecil, hingga ibu rumah tangga diajak untuk berkontribusi dalam proses riset dan implementasi.
Pendekatan ini memastikan bahwa solusi yang dihasilkan tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga adil secara sosial. Misalnya, pengembangan alat pemilah sampah otomatis tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap mata pencaharian sektor informal, sehingga transisi menuju sistem pengelolaan yang lebih modern berjalan tanpa meninggalkan siapa pun.
Mengapa Pendekatan Inklusif Penting?
Sampah plastik adalah masalah kompleks yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan inovasi teknologi. Diperlukan perubahan perilaku, dukungan regulasi, dan model bisnis yang berkelanjutan. Melalui living lab, ITB-PISCES memfasilitasi dialog antara pemangku kepentingan yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri. Komunitas lokal diberdayakan untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek penelitian.
Dengan demikian, setiap prototipe atau kebijakan yang dihasilkan telah melalui uji coba di lingkungan nyata dan mendapat masukan langsung dari mereka yang terdampak. Hal ini meningkatkan peluang adopsi dan keberlanjutan program dalam jangka panjang.
Belajar dari Keberhasilan di Banyuwangi
Living Lab ITB-PISCES bukanlah yang pertama. Sebelumnya, model laboratorium hidup serupa telah dikembangkan di Banyuwangi dan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di sana, kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah berhasil menekan volume sampah plastik yang bocor ke laut melalui sistem pengumpulan dan daur ulang berbasis masyarakat.
Keberhasilan ini menjadi landasan kuat untuk mereplikasi dan mengadaptasi pendekatan tersebut di lokasi baru. ITB-PISCES hadir dengan pembelajaran yang sudah matang, sehingga dapat menghindari kesalahan yang sama dan mempercepat dampak positifnya.
Dampak yang Diharapkan
Dengan diluncurkannya Living Lab ITB-PISCES, harapan besar tertuju pada terciptanya model pengelolaan sampah plastik yang bisa direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Laboratorium ini juga diharapkan menjadi pusat data dan pengetahuan yang dapat diakses oleh pembuat kebijakan, peneliti, dan masyarakat umum.
Lebih jauh, inisiatif ini sejalan dengan target nasional pengurangan sampah plastik di laut hingga 70% pada tahun 2025. Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis bukti, ITB-PISCES berpotensi menjadi katalisator perubahan sistemik yang sangat dibutuhkan negeri ini.
Kehadiran Living Lab ITB-PISCES mengingatkan kita bahwa solusi atas krisis sampah plastik tidak bisa lahir dari ruang tertutup. Dibutuhkan keterbukaan, kolaborasi, dan keberpihakan pada mereka yang paling rentan. Inilah saatnya inovasi berjalan seiring dengan keadilan, agar bumi yang lebih bersih bisa dinikmati oleh semua.
